Pungli Makin Banyak, Pengusaha dan Buruh Sengsara
Sabtu, 04/02/2012 11:18 WIB
Jakarta - Banyaknya pungutan-pungutan tak resmi atau pungutan liar alias pungli jadi beban berat buat iklim usaha di Indonesia. Ujung-ujungnya upah buruh tergerus beban pungli tersebut.
Direktur INDEF Enny Sri Hartati mengatakan akibat pungli yang menimbulkan biaya ekonomi tinggi, maka pengusaha dan buruh menjadi korban.
"Masalahnya banyak pungli. Biaya-biaya itu tidak bisa dihindari. Kalau dilihat dari nominalnya ya besar, akar persoalannya ini yang harus diselesaikan. Biaya lain itu tidak bisa dihindari kemudian dibebankan kepada harga produk," kata Enny dalam acara Polemik Sindo Radio bertajuk 'Buruh Mengeluh' di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (4/2/2012).
Hal ini juga diakui oleh Ketua Advokasi Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Antony Herman. Menurutnya pungutan itu membuat pengeluaran perusahaan membengkak.
"Untuk label saja pada perusahaan padat karya biaya sudah mencapai 30 persen. Padat modal 10 persen. Over head cost-nya bisa lebih dari 50 persen. Persoalan ini bukan pengusaha dan buruh, tapi pengusaha dan buruh sama-sama jadi korban terhadap sistem," kata Antony.
Antony pun berharap kenaikan upah minimum buruh saat ini tak terlalu tinggi. Karena daya beli pasar juga tak meningkat begitu saja.
"Kenaikan upah menjadi beban bagi biaya. Tetapi persoalannya, tentu itu harus dipatuhi. Tapi faktanya ketika upah naik dibawa ke pasar apakah daya beli mereka meningkat?" paparnya.
Ia meminta pemerintah lebih konkret mencari solusi dalam masalah satu ini. Termasuk memikirkan nasib perusahaan pasca kenaikan upah buruh.
"Kalau upah minimum mau tinggi pemerintah mau tanggung nggak biaya pesangonnya? Banyak industri tekstil di Jabar terpaksa bertahan karena mereka nggak berani membayar pesangonnya," tantang dia.
Namun pandangan Antony dibantah kalangan buruh. Buruh merasa pungli ada karena pengusaha juga tak mau ribet mengurus birokrasi.
"Jangan salahkan pemerintah. Pengusaha juga mau cepat juga sih, itu harus diubah. Jangan mengutamakan pungli," protes M. Iqbal selaku Presiden KPSI/FSPMI, dalam forum yang sama.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa berjanji untuk mengurangi ekonomi biaya tinggi di Indonesia. Salah satu bentuk janjinya adalah menghapus pungutan-pungutan tak resmi atau liar alias pungli.
Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso pernah mengatakan, masih maraknya gratifikasi, suap dan korupsi di Indonesia mengakibatkan biaya ekonomi yang tinggi. Hal tersebut menjadi salah satu faktor pertumbuhan ekonomi RI tidak maksimal.
(van/dnl)
Direktur INDEF Enny Sri Hartati mengatakan akibat pungli yang menimbulkan biaya ekonomi tinggi, maka pengusaha dan buruh menjadi korban.
"Masalahnya banyak pungli. Biaya-biaya itu tidak bisa dihindari. Kalau dilihat dari nominalnya ya besar, akar persoalannya ini yang harus diselesaikan. Biaya lain itu tidak bisa dihindari kemudian dibebankan kepada harga produk," kata Enny dalam acara Polemik Sindo Radio bertajuk 'Buruh Mengeluh' di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (4/2/2012).
Hal ini juga diakui oleh Ketua Advokasi Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Antony Herman. Menurutnya pungutan itu membuat pengeluaran perusahaan membengkak.
"Untuk label saja pada perusahaan padat karya biaya sudah mencapai 30 persen. Padat modal 10 persen. Over head cost-nya bisa lebih dari 50 persen. Persoalan ini bukan pengusaha dan buruh, tapi pengusaha dan buruh sama-sama jadi korban terhadap sistem," kata Antony.
Antony pun berharap kenaikan upah minimum buruh saat ini tak terlalu tinggi. Karena daya beli pasar juga tak meningkat begitu saja.
"Kenaikan upah menjadi beban bagi biaya. Tetapi persoalannya, tentu itu harus dipatuhi. Tapi faktanya ketika upah naik dibawa ke pasar apakah daya beli mereka meningkat?" paparnya.
Ia meminta pemerintah lebih konkret mencari solusi dalam masalah satu ini. Termasuk memikirkan nasib perusahaan pasca kenaikan upah buruh.
"Kalau upah minimum mau tinggi pemerintah mau tanggung nggak biaya pesangonnya? Banyak industri tekstil di Jabar terpaksa bertahan karena mereka nggak berani membayar pesangonnya," tantang dia.
Namun pandangan Antony dibantah kalangan buruh. Buruh merasa pungli ada karena pengusaha juga tak mau ribet mengurus birokrasi.
"Jangan salahkan pemerintah. Pengusaha juga mau cepat juga sih, itu harus diubah. Jangan mengutamakan pungli," protes M. Iqbal selaku Presiden KPSI/FSPMI, dalam forum yang sama.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa berjanji untuk mengurangi ekonomi biaya tinggi di Indonesia. Salah satu bentuk janjinya adalah menghapus pungutan-pungutan tak resmi atau liar alias pungli.
Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso pernah mengatakan, masih maraknya gratifikasi, suap dan korupsi di Indonesia mengakibatkan biaya ekonomi yang tinggi. Hal tersebut menjadi salah satu faktor pertumbuhan ekonomi RI tidak maksimal.
(van/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
