Lahan Pertanian di Jawa Lenyap Hingga 110.000 Hektar/Tahun
Senin, 06/02/2012 20:10 WIB
Jakarta - Sekitar 110.000 hektare lahan pertanian di Indonesia beralih fungsi menjadi lahan komersil setiap tahun. Jumlah ini terus meningkat dari proyeksi sebelumnya yang hanya 100.000 hektar per tahun.
Menteri Pertanian suswono menyatakan pengalihan lahan produktif ini sebagian besar berada di Pulau Jawa.
"Terutama di Jawa, sekarang ini tidak kurang 110.000 hektar yang dialih fungsikan per tahun," ujar Suswono saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (6/2/2012).
Suswono menyatakan pengalihan lahan ini salah satunya disebabkan minimnya kepedulian kepala daerah akan kondisi lahan pertanian yang bisa dilihat dari mudahnya mengeluarkan surat rekomendasi pengalihan lahan.
"Pertanian produktif banyak yang dialihkan, kepedulian dari bupati dan walikota ini sangat berkurang termasuk juga dalam pembahasan sumber daya air tadi. Misalnya ini kan juga problem betapa banyaknya indikasi-indikasi teknis yang sebetulnya wilayah produktif banyak yang sengaja dirusak, ini akhirnya lahan-lahan produktif itu kekurangan air dan tentu saja akhirnya ada alasan untuk tidak dimanfaatkan untuk pertanian dan itu yang kemudian dialihfungsikan," jelasnya.
"Iya itu sebagian besar di Jawa tadi laporan dari daerah sendiri juga mengatakan itu begitu irigasinya tidak berfungsi kemudian ada alasan untuk mereka (bupati dan walikota) memberikan rekomendasi untuk dialihfungsikan," tambahnya.
Menurut Suswono, lahan produktif ini beralih menjadi lahan komersil seperti untuk perkantoran, perumahan, atau bisnis. Pemerintah akan meningkatkan jumlah irigasi sebagai solusi menekan jumlah peralihan lahan produktif.
"Dan ini juga mudah-mudahan dari dewan sumber daya air ini bisa memberikan satu rekomendasi dan sosialisasi, tampaknya PP Nomor 33 ini yang terkait dengan sumber daya air ini akan diutamakan di daerah-daerah kabupaten khususnya kabupaten kota dan prioritas daerah-daerah yang menjadi sentra produksi padi. Karena bertambah banyak daerah-daerah yang dialihfungsikan yang begitu mudahnya karena mungkin ada tuntutan perumahan, perkantoran atau bisnis ya. Itu sebetulnya bisa dilakukan di daerah-daerah yang bukan produktif dan marjinal," tandasnya.
(nia/hen)
Menteri Pertanian suswono menyatakan pengalihan lahan produktif ini sebagian besar berada di Pulau Jawa.
"Terutama di Jawa, sekarang ini tidak kurang 110.000 hektar yang dialih fungsikan per tahun," ujar Suswono saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (6/2/2012).
Suswono menyatakan pengalihan lahan ini salah satunya disebabkan minimnya kepedulian kepala daerah akan kondisi lahan pertanian yang bisa dilihat dari mudahnya mengeluarkan surat rekomendasi pengalihan lahan.
"Pertanian produktif banyak yang dialihkan, kepedulian dari bupati dan walikota ini sangat berkurang termasuk juga dalam pembahasan sumber daya air tadi. Misalnya ini kan juga problem betapa banyaknya indikasi-indikasi teknis yang sebetulnya wilayah produktif banyak yang sengaja dirusak, ini akhirnya lahan-lahan produktif itu kekurangan air dan tentu saja akhirnya ada alasan untuk tidak dimanfaatkan untuk pertanian dan itu yang kemudian dialihfungsikan," jelasnya.
"Iya itu sebagian besar di Jawa tadi laporan dari daerah sendiri juga mengatakan itu begitu irigasinya tidak berfungsi kemudian ada alasan untuk mereka (bupati dan walikota) memberikan rekomendasi untuk dialihfungsikan," tambahnya.
Menurut Suswono, lahan produktif ini beralih menjadi lahan komersil seperti untuk perkantoran, perumahan, atau bisnis. Pemerintah akan meningkatkan jumlah irigasi sebagai solusi menekan jumlah peralihan lahan produktif.
"Dan ini juga mudah-mudahan dari dewan sumber daya air ini bisa memberikan satu rekomendasi dan sosialisasi, tampaknya PP Nomor 33 ini yang terkait dengan sumber daya air ini akan diutamakan di daerah-daerah kabupaten khususnya kabupaten kota dan prioritas daerah-daerah yang menjadi sentra produksi padi. Karena bertambah banyak daerah-daerah yang dialihfungsikan yang begitu mudahnya karena mungkin ada tuntutan perumahan, perkantoran atau bisnis ya. Itu sebetulnya bisa dilakukan di daerah-daerah yang bukan produktif dan marjinal," tandasnya.
(nia/hen)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
