Obligasi Ajarkan Pemda Tingkatkan Pengelolaan Keuangan
Selasa, 07/02/2012 13:32 WIB
Jakarta - Penerbitan obligasi atau surat utang menguntungkan Pemerintah Daerah (Pemda). Selain akan mendapat pendanaan alternatif, Pemda juga dituntut meningkatkan pengelolaan keuangan daerahnya.
Vice President Municipality Ratings Pefindo, Endi Roswendi menjelaskan, rata-rata pengelolaan keuangan daerah di bawah standar. Masih terdapat kekurangan, termasuk dari sisi kerangka sistem keuangan publik dan profil kredit keuangan setiap Pemda.
Maka, untuk meningkatkan pengelolaan penerbitan obligasi bisa menjadi salah satu pilihan. Karena pembeli surat utang, baik institusi atau ritel ikut melakukan pengawasan langsung terhadap pengelolaan uang Pemda.
"Secara ummum baru sedikit yang unqualified opinion. 9% saja yang baru wajar tanpa pengecualian (WTP). Ini juga menjadi cara memperbaiki sistem keuangan publik, yang sedang berjalan juga," kata Endi di kantornya, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2/2012).
Ia pun berharap semakin banyak pejabat Pemda yang sadar akan pentingnya obligasi. Mempunyai utang tidak selamanya buruk, asal mampu mengelola dengan baik.
"Masih ada yang mengatakan, kenapa tidak memanfaatkan anggaran yang ada? Namun regulasi masih mengizinkan utang sampai dengan 70%. Lagi pula obligasi dapat tingkatkan pengelolaan keuangan, karena menciptakan sistem yang naik baik manajemen unit, atau personal. Kan partisipasi masyarakat tinggi," tuturnya.
Penerbitan obligasi Pemda juga dipercaya akan disambut baik investor. Terlebih surat utang Indonesia relatif rendah terhadap GDP, jika dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara.
"Pastinya investor akan antusias. Karena mereka mempunyai alternatif investasi lain, dan tidak lagi-lagi masuk SUN. Obligasi juga dapat menjadi alternatif pembiayaan pembangunan," paparnya.
Regulasi penerbitan obligasi Pemda untuk sektor infrastruktur pun, mendukung iklim investasi. Karena Pemda bisa fokus dalam pembangunan infrastrukur dengan dana hasil penerbitan surat utang. Jangan lagi ada penundaan atau pembatalan proyek dengan alasan tidak adanya dana.
"Selama ini masih ada gap dana pembangunan infrastruktur daerah. Menurut data Kementerian PU sampai Rp 80 triliun. Kan bisa pakai itu," ucap Endi.
(wep/ang)
Vice President Municipality Ratings Pefindo, Endi Roswendi menjelaskan, rata-rata pengelolaan keuangan daerah di bawah standar. Masih terdapat kekurangan, termasuk dari sisi kerangka sistem keuangan publik dan profil kredit keuangan setiap Pemda.
Maka, untuk meningkatkan pengelolaan penerbitan obligasi bisa menjadi salah satu pilihan. Karena pembeli surat utang, baik institusi atau ritel ikut melakukan pengawasan langsung terhadap pengelolaan uang Pemda.
"Secara ummum baru sedikit yang unqualified opinion. 9% saja yang baru wajar tanpa pengecualian (WTP). Ini juga menjadi cara memperbaiki sistem keuangan publik, yang sedang berjalan juga," kata Endi di kantornya, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2/2012).
Ia pun berharap semakin banyak pejabat Pemda yang sadar akan pentingnya obligasi. Mempunyai utang tidak selamanya buruk, asal mampu mengelola dengan baik.
"Masih ada yang mengatakan, kenapa tidak memanfaatkan anggaran yang ada? Namun regulasi masih mengizinkan utang sampai dengan 70%. Lagi pula obligasi dapat tingkatkan pengelolaan keuangan, karena menciptakan sistem yang naik baik manajemen unit, atau personal. Kan partisipasi masyarakat tinggi," tuturnya.
Penerbitan obligasi Pemda juga dipercaya akan disambut baik investor. Terlebih surat utang Indonesia relatif rendah terhadap GDP, jika dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara.
"Pastinya investor akan antusias. Karena mereka mempunyai alternatif investasi lain, dan tidak lagi-lagi masuk SUN. Obligasi juga dapat menjadi alternatif pembiayaan pembangunan," paparnya.
Regulasi penerbitan obligasi Pemda untuk sektor infrastruktur pun, mendukung iklim investasi. Karena Pemda bisa fokus dalam pembangunan infrastrukur dengan dana hasil penerbitan surat utang. Jangan lagi ada penundaan atau pembatalan proyek dengan alasan tidak adanya dana.
"Selama ini masih ada gap dana pembangunan infrastruktur daerah. Menurut data Kementerian PU sampai Rp 80 triliun. Kan bisa pakai itu," ucap Endi.
(wep/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
