detikfinance

Deputi Gubernur BI Tak Tahu Yawadwipa Mau Beli Bank Mutiara

Rachmadin Ismail - detikfinance
Rabu, 08/02/2012 13:55 WIB
Jakarta - Keberadaan Yawadwipa Companies sebagai penawar Bank Mutiara (eks Bank Century) Rp 6,75 triliun masih belum diketahui pejabat Bank Indonesia (BI).

"Saya belum tahu perkembangannya. Belum tahu saya, saya belum dapat data baru," ujar Deputi Gubernur BI Muliaman D. Hadad di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (8/2/2012).

Tak banyak yang bisa diungkapkan oleh Muliaman soal Yawadwipa ini. Muliaman hanya mengatakan urusan awal soal Yawadwipa ini akan diurus oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dia pun belum tahu terkait profil pemilik Yawadwipa.

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengakui dia pernah mengetahui soal rencana pendirian perusahaan investasi bernama Yawadwipa tapi tidak secara spesifik.

"Mereka (Yawadwipa) tuh dulu tidak spesifik mengatakan mau investasi apa. Mereka hanya mau melihat Indonesia, ini mau di-set up, lawyer-nya tanya mengenai Indonesia. Tentunya saya sebaga kapasitas Kepala BKPM (badan koordinasi penanaman modal) mempromosikan Indonesia," tutur Gita di Istana Negara, Jakarta, Rabu.

Gita juga tidak tahu menahu soal rencana Yawadwipa membeli Bank Mutiara. "Saya tidak tahu, tanya LPS," jelas Gita.

Presiden Direktur Yawadwipa C. Christopher Holm Yawadwipa Companies mengaku sudah mengajukan tawaran resmi untuk pembelian Bank Mutiara (eks Bank Century) Rp 6,75 triliun melalui Danareksa selaku agen penjual Bank Mutiara.

Holm mengatakan, pihaknya juga telah menanyakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi penawar Bank Mutiara kepada Danareksa. PT Danareksa Sekuritas memang ditunjuk LPS sebagai penasihat keuangan penjualan Bank Mutiara, calon pembeli Bank Mutiara harus melalui Danareksa.

Yawadwipa memang perusahaan finansial yang belum banyak dikenal di Indonesia. Wajar saja, perusahaan ini ternyata baru dibentuk awal tahun ini, tepatnya pada 9 Januari 2012.

Perusahaan baru tersebut memiliki dua kantor, seperti tertulis dalam situs resminya, yaitu di Jakarta dan Singapura. Alamat lengkap kantor Jakarta di Menara 2 lantai 17 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara kantornya di Singapura terletak di Singapore Land Tower lantai 37 di jalan 50 Raffles Place.

Yawadwipa saat ini masih dalam proses perizinan untuk meluncurkan Java Fund. Setelah mendapat izin, perusahaan membidik dana kelola hingga US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 9 triliun.

Dana sebanyak itu akan digunakan untuk berbagai investasi di Indonesia. Targetnya, Yawadwipa ingin menjadi perusahaan investasi swasta terbesar di Indonesia.

Yawadwipa juga sudah mengungkapkan ambisi besarnya untuk menjadikan Bank Mutiara seperti BCA. Yawadwipa mengaku ingin mengekor sukses Djarum yang kini menangguk untung besar setelah membeli BCA beberapa tahun silam.




(dnl/qom)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
    • Gb Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
      Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
      Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?