DPR akan Korek Informasi Bank Non BTN Bahas Kisruh KPR Subsidi
Rabu, 08/02/2012 14:42 WIB
Jakarta - Komisi XI DPR berencana memanggil bank penyalur selain Bank Tabungan Negara (BTN) untuk memastikan penetapan suku bunga FLPP yang layak. Selama ini bank penyalur fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) selain BTN antaralain Bank Bukopin, BNI, BPD Sumut.
"Dari hasil rapat ini kami ingin mendalami secara internal. Kami belum memutuskan, namun pemanggilan bank lain harus dilakukan untuk mengetahui penetapan tingkat bunga," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis di Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Hari ini, Komisi XI telah memanggil BTN untuk mengetahui pangkal persoalan suku bunga FLPP antara perseroan dengan kementerian perumahan rakyat (Kemenpera). Semangat DPR adalah agar pemerintah memiliki program yang pro rakyat kecil.
"Kita ingin tahu perhitungannya. Dan selama ini yang menjadi problem adalah cost of fund. Apakah bank lain membuat perhitungan yang sama dengan BTN. Kita ingin lihat BNI berapa dan Bank Mandiri berapa," ucapnya.
Seperti diketahui, BTN adalah bank penyalur FLPP yang mengajukan bunga paling mahal, 8,55%. Bahkan setelah pemerintah menghapus beban asuransi kepada masyarakat berpenghaslan rendah (MBR), bunga BTN tetap paling tinggi 8,22%.
Bunga BTN jauh diatas penawaran bank BUMN lain. Misalkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menawarkan bunga FLPP 7,12%, sedangkan BNI 6,35%. Nantinya dalam perjanjian kerjasama operasi (PKO) FLPP baru bank penyalur harus mengikuti kehendak pemerintah, yakni bunga FLPP berada di kisaran 6%-7%.
Jika Kemenpera tetap ngotot, BTN siap mundur dari keikutsertaannya dalam FLPP 2012. Alasannya dengan bunga yang lebih rendah, sama saja membunuh perseroan karena BTN akan merugi.
Pengembang rumah sederhana juga ragu dengan partisipasi perbankan lain non BTN pada FLPP 2012. "Kita sudah terbiasa kerjasama dengan BTN. BTN selain memiliki kemampuan SDM, juga infratrukturnya sudah jadi," kata Ketua DPP Apersi, Eddy Ganefo.
Ia menambahkan, selain berpartisipasi dalam KPR FLPP kepada konsumen, BTN juga aktif dalam pembiayaan kredit konstruksi kepada pengembang rumah sederhana.
"Tidak mudah untuk membangun sistem. Kalau pengalaman di BTN satu sampai dua minggu bisa akad. Kalau yg lain bisa berbulan bulan. Hal ini karena tidak siapnya sistem dan SDM mereka," tuturnya.
Tahun ini Kemenpera menargetkan penyaluran FLPP sebanyak 200.000 unit rumah. Angka ini naik dari target sebelumnya di 170.000 rumah. Sementara realisasi tahun 2011
(wep/hen)
"Dari hasil rapat ini kami ingin mendalami secara internal. Kami belum memutuskan, namun pemanggilan bank lain harus dilakukan untuk mengetahui penetapan tingkat bunga," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis di Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Hari ini, Komisi XI telah memanggil BTN untuk mengetahui pangkal persoalan suku bunga FLPP antara perseroan dengan kementerian perumahan rakyat (Kemenpera). Semangat DPR adalah agar pemerintah memiliki program yang pro rakyat kecil.
"Kita ingin tahu perhitungannya. Dan selama ini yang menjadi problem adalah cost of fund. Apakah bank lain membuat perhitungan yang sama dengan BTN. Kita ingin lihat BNI berapa dan Bank Mandiri berapa," ucapnya.
Seperti diketahui, BTN adalah bank penyalur FLPP yang mengajukan bunga paling mahal, 8,55%. Bahkan setelah pemerintah menghapus beban asuransi kepada masyarakat berpenghaslan rendah (MBR), bunga BTN tetap paling tinggi 8,22%.
Bunga BTN jauh diatas penawaran bank BUMN lain. Misalkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menawarkan bunga FLPP 7,12%, sedangkan BNI 6,35%. Nantinya dalam perjanjian kerjasama operasi (PKO) FLPP baru bank penyalur harus mengikuti kehendak pemerintah, yakni bunga FLPP berada di kisaran 6%-7%.
Jika Kemenpera tetap ngotot, BTN siap mundur dari keikutsertaannya dalam FLPP 2012. Alasannya dengan bunga yang lebih rendah, sama saja membunuh perseroan karena BTN akan merugi.
Pengembang rumah sederhana juga ragu dengan partisipasi perbankan lain non BTN pada FLPP 2012. "Kita sudah terbiasa kerjasama dengan BTN. BTN selain memiliki kemampuan SDM, juga infratrukturnya sudah jadi," kata Ketua DPP Apersi, Eddy Ganefo.
Ia menambahkan, selain berpartisipasi dalam KPR FLPP kepada konsumen, BTN juga aktif dalam pembiayaan kredit konstruksi kepada pengembang rumah sederhana.
"Tidak mudah untuk membangun sistem. Kalau pengalaman di BTN satu sampai dua minggu bisa akad. Kalau yg lain bisa berbulan bulan. Hal ini karena tidak siapnya sistem dan SDM mereka," tuturnya.
Tahun ini Kemenpera menargetkan penyaluran FLPP sebanyak 200.000 unit rumah. Angka ini naik dari target sebelumnya di 170.000 rumah. Sementara realisasi tahun 2011
(wep/hen)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
