Pengembang Tuding Djan Faridz Ingkar Janji
Kamis, 09/02/2012 14:10 WIB
Jakarta - Para pengembang rumah sederhana yang biasa menjual rumahnya melalui skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) atau KPR subsidi terus menagih janji Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz.
Mereka terus dijanjikan masalah kisruh bunga KPR FLPP bisa selesai sebelum awal Februari 2012. Hasilnya hingga kini pengembang harus gigit jari karena kisruh bunga KPR itu membuat produksi rumah mereka tak bisa dijual.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo, apabila sampai akhir Februari 2012 nanti tidak ada perkembangan terkait bunga FLPP, maka Apersi akan menggugat pemerintah dalam hal ini menpera.
"Tidak ada perubahan sampai Februari, kami akan class action, kami gugat pemerintah karena, kebijakannya merugikan orang banyak," tegas dalam acara rapat dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/2/2012)
Menurut Eddy, pengembang selama ini hanya mendapat janji semata oleh Menpera Djan Faridz. Hasilnya sampai saat ini belum ada titik temu antara menpera dengan bank penyalur FLPP termasuk PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).
"Pada 16 Januari kami sudah ketemu dengan Menteri Menpera (Djan Faridz), dijanjikan awal Februari FLPP dibuka, ternyata krannya masih tertutup, datang lagi kami awal Februari, kondisinya tetap sama," ujarnya.
Ia mengatakan terhentinya FLPP membuat pengembang yang tergabung dalam Apersi hampir bangkrut. Bahkan banyak anggotanya kini terus dikejar para konsumen. Mereka dianggap menipu konsumen karena belum juga merealisasikan pembangunan rumah.
"Sebanyak 100% anggota kami bangun rumah untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) dengan distopnya FLPP, tidak bisa jual rumah, yang sudah akad serah terima rumah jadi batal, kita dikejar-kejar konsumen, disangka menipu," ujar Eddy.
Menurut Eddy, pada 2011 ketika adanya program FLPP sangat direspons positif masyarakat, bahkan pengembang dan perbankan. Kini setelah hampir dua bulan mandeg karena kisruh penerapan bunga KPR FLLP, semuanya merasa dirugikan.
Selain itu, yang membuat Pengembang semakin terbebani adalah bunga konstruksi sebesar 1% tiap bulannya kepada bank. Jika sampai akhir Februari belum terealisasi artinya beban pengembang sudah bertambah 2%.
"Belum kendalanya pengembang gagal membayar giro kepada supplier akibat batalnya serah terima rumah ke konsumen. Kalau berlarut, kita bisa call 1, call 2, sampai 3, pengembang masuk blacklist perbankan, tambah parah lagi nasib pengembang," ungkapnya.
Sekadar diketahui, pada 2011 ada sekitar 13 bank yang menyalurkan KPR skema FLPP dalam perjanjian kerjasama operasi (PKO). Namun akibat ada keinginan dari kementerian perumahan rakyat menurunkan suku bunga, hasilnya belum ketemu titik temu. Hasilnya PKO tidak diperpanjang sehingga bank tidak bisa merealisasikan kredit KPR.
(hen/dnl)
Mereka terus dijanjikan masalah kisruh bunga KPR FLPP bisa selesai sebelum awal Februari 2012. Hasilnya hingga kini pengembang harus gigit jari karena kisruh bunga KPR itu membuat produksi rumah mereka tak bisa dijual.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo, apabila sampai akhir Februari 2012 nanti tidak ada perkembangan terkait bunga FLPP, maka Apersi akan menggugat pemerintah dalam hal ini menpera.
"Tidak ada perubahan sampai Februari, kami akan class action, kami gugat pemerintah karena, kebijakannya merugikan orang banyak," tegas dalam acara rapat dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/2/2012)
Menurut Eddy, pengembang selama ini hanya mendapat janji semata oleh Menpera Djan Faridz. Hasilnya sampai saat ini belum ada titik temu antara menpera dengan bank penyalur FLPP termasuk PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).
"Pada 16 Januari kami sudah ketemu dengan Menteri Menpera (Djan Faridz), dijanjikan awal Februari FLPP dibuka, ternyata krannya masih tertutup, datang lagi kami awal Februari, kondisinya tetap sama," ujarnya.
Ia mengatakan terhentinya FLPP membuat pengembang yang tergabung dalam Apersi hampir bangkrut. Bahkan banyak anggotanya kini terus dikejar para konsumen. Mereka dianggap menipu konsumen karena belum juga merealisasikan pembangunan rumah.
"Sebanyak 100% anggota kami bangun rumah untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) dengan distopnya FLPP, tidak bisa jual rumah, yang sudah akad serah terima rumah jadi batal, kita dikejar-kejar konsumen, disangka menipu," ujar Eddy.
Menurut Eddy, pada 2011 ketika adanya program FLPP sangat direspons positif masyarakat, bahkan pengembang dan perbankan. Kini setelah hampir dua bulan mandeg karena kisruh penerapan bunga KPR FLLP, semuanya merasa dirugikan.
Selain itu, yang membuat Pengembang semakin terbebani adalah bunga konstruksi sebesar 1% tiap bulannya kepada bank. Jika sampai akhir Februari belum terealisasi artinya beban pengembang sudah bertambah 2%.
"Belum kendalanya pengembang gagal membayar giro kepada supplier akibat batalnya serah terima rumah ke konsumen. Kalau berlarut, kita bisa call 1, call 2, sampai 3, pengembang masuk blacklist perbankan, tambah parah lagi nasib pengembang," ungkapnya.
Sekadar diketahui, pada 2011 ada sekitar 13 bank yang menyalurkan KPR skema FLPP dalam perjanjian kerjasama operasi (PKO). Namun akibat ada keinginan dari kementerian perumahan rakyat menurunkan suku bunga, hasilnya belum ketemu titik temu. Hasilnya PKO tidak diperpanjang sehingga bank tidak bisa merealisasikan kredit KPR.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
