Awas! Ritel Asing Pakai Perusahaan Lokal Sebagai 'Boneka'
Kamis, 09/02/2012 15:37 WIB
Jakarta - Pasar Indonesia yang sedikitnya mencapai 237 juta jiwa ternyata menjadi incaran para pebisnis ritel asing. Tahun ini saja ada beberapa ritel asing dari berbagai negara yang sudah menjajaki izin di Indonesia.
"Faktanya ritel asing masuk ke Indonesia, seperti Korea, Malaysia, China, Australia bidang bangunan, mereka akan masuk. Itu paling tidak yang saya tahu, bahwa kita sedang diincar," kata Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kadin Indonesia Amir Karamoy kepada detikFinance, Kamis (9/2/2012)
Ia mengatakan saat ini pengaturan supermarket dengan ukuran kurang dari 1.200 m2, departement store kurang dari 2.000 m2, minimarket kurang dari 400 m2 harus sepenuhnya berasal dari pemodal lokal. Diatas ketentuan luasan itu, ritel asing boleh beroperasi di Indonesia.
"Umumnya mereka akan main di atas, dari hasil email-email-an dengan saya mereka tanya boleh kah kita main di bawah, saya bilang anda nggak boleh main di bawah. Tapi saya rasa mereka akan mensiasati dengan menggandeng mitra lokal yang akan menjadi boneka-nya, itu perlu diwaspadai," katanya.
Amir mengatakan saat sudah banyak perusahaan ritel asing yang melakukan komunikasi dengan dirinya untuk masuk pasar Indonesia. Jika proses perizinan lancar, maka ritel-ritel baru asal asing seperti dari Malaysia, China, dan Australia bisa beroperasi akhir tahun ini.
"Kalau mereka incar sekarang, proses izin 2 bulan. Saya kira Agustus sudah beroperasi," katanya.
Sayangnya Amir enggan menyebutkan nama-nama peritel asing yang akan masuk karena tidak etis. Namun ia mencontohkan salah satu ritel asing itu antara lain ritel bahan bangunan asal Austalia.
"Kita harus hati-hati, tapi kalau dia menyelenggarakan waralaba tidak boleh dihalangi, hanya diatur seperti pada PP No. 42 Tahun 2007 mengenai waralaba ada pasal yang menyebutkan, pemerintah pusat dan daerah wajib mengembangkan waralaba, nah itu berbenturan ngggak dengan ritel lokal," katanya.
Ia mengimbau agar pemerintah daerah lebih siap menghadapi kondisi tersebut. Semenjak desentralisasi, pemerintah daerah menjadi ujung tombang keluarnya perizinan bidang ritel.
"Misalnya kenapa ritel asal China mau kemarin. Indonesia salah satu pasar menarik penduduk yang banyak, kelas menengah bertumbuh, kita cukup punya daya beli. Kita harus hati meregulasi mereka," katanya.
(hen/dnl)
"Faktanya ritel asing masuk ke Indonesia, seperti Korea, Malaysia, China, Australia bidang bangunan, mereka akan masuk. Itu paling tidak yang saya tahu, bahwa kita sedang diincar," kata Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kadin Indonesia Amir Karamoy kepada detikFinance, Kamis (9/2/2012)
Ia mengatakan saat ini pengaturan supermarket dengan ukuran kurang dari 1.200 m2, departement store kurang dari 2.000 m2, minimarket kurang dari 400 m2 harus sepenuhnya berasal dari pemodal lokal. Diatas ketentuan luasan itu, ritel asing boleh beroperasi di Indonesia.
"Umumnya mereka akan main di atas, dari hasil email-email-an dengan saya mereka tanya boleh kah kita main di bawah, saya bilang anda nggak boleh main di bawah. Tapi saya rasa mereka akan mensiasati dengan menggandeng mitra lokal yang akan menjadi boneka-nya, itu perlu diwaspadai," katanya.
Amir mengatakan saat sudah banyak perusahaan ritel asing yang melakukan komunikasi dengan dirinya untuk masuk pasar Indonesia. Jika proses perizinan lancar, maka ritel-ritel baru asal asing seperti dari Malaysia, China, dan Australia bisa beroperasi akhir tahun ini.
"Kalau mereka incar sekarang, proses izin 2 bulan. Saya kira Agustus sudah beroperasi," katanya.
Sayangnya Amir enggan menyebutkan nama-nama peritel asing yang akan masuk karena tidak etis. Namun ia mencontohkan salah satu ritel asing itu antara lain ritel bahan bangunan asal Austalia.
"Kita harus hati-hati, tapi kalau dia menyelenggarakan waralaba tidak boleh dihalangi, hanya diatur seperti pada PP No. 42 Tahun 2007 mengenai waralaba ada pasal yang menyebutkan, pemerintah pusat dan daerah wajib mengembangkan waralaba, nah itu berbenturan ngggak dengan ritel lokal," katanya.
Ia mengimbau agar pemerintah daerah lebih siap menghadapi kondisi tersebut. Semenjak desentralisasi, pemerintah daerah menjadi ujung tombang keluarnya perizinan bidang ritel.
"Misalnya kenapa ritel asal China mau kemarin. Indonesia salah satu pasar menarik penduduk yang banyak, kelas menengah bertumbuh, kita cukup punya daya beli. Kita harus hati meregulasi mereka," katanya.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
