LPS Beri Beberapa Trik agar Yawadwipa Bisa Mulus Beli Bank Mutiara
Kamis, 09/02/2012 16:09 WIB
Jakarta - Niat Yawadwipa Companies membeli Bank Mutiara (eks Bank Century) terganjal oleh aturan 3 tahun pengalaman. Namun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pemilik Bank Mutiara memberikan sejumlah trik agar Yawadwipa bisa 'lolos' dari aturan tersebut.
"Kalau terbentur masalah perusahaan keuangan harus 3 tahun pengalaman dsb, opsinya masih banyak. Jadi kalau Yawadwipa serius, mungkin bisa pakai cara lain," ujar Kepala Eksekutif LPS Firdaus Djaelani kepada detikFinance, Kamis (9/2/2012).
Trik-trik agar lolos dari jeratan aturan tersebut seperti disampaikan Firdaus antara lain bisa saja Yawadwipa membeli Bank Mutiara atas nama perusahaan lain, atau atas nama pemiliknya langsung. Ini mengingat Yawadwipa Companies adalah perusahaan equity fund yang merupakan tempat mengelola dana-dana saja atau bisa disebut SPV.
"Atau yang penting ada cara lain untuk kesitu, untuk mengakali aturan pengalaman 3 tahun itu. Mungkin mereka bisa saja pakai teknik lain," tambah Firdaus.
Terkait rencana membeli Bank Mutiara tersebut, Firdaus mengaku sudah menerima surat minat atau letter of intent dari Yawadwipa. Pihak Danareksa selaku penasihat keuangan juga sudah menyampaikan minat dari Yawadwipa tersebut, setelah penjualan Bank Mutiara dibuka per 1 Februari lalu.
"Jadi posisi kita saat ini menunggu penutupan pendaftaran. Yawadwipa memang berniat melihat Bank Mutiara lebih jauh, jadi nanti setelah pendaftaran ditutup pada akhir April, kita akan kirim data mengenai Bank Mutiara 3 tahun terakhir untuk mereka pelajari. Setelah itu mereka akan menyampaikan letter of confirmation jika berminat," urainya.
Jika surat konfirmasi diterima, maka LPS dan Yawadwipa selanjutnya akan melakukan pembicaraan lebih lanjut. LPS akan mengorek siapa investor Yawadwipa, termasuk darimana asal dananya dan juga komitmen terhadap Bank Mutiara.
Meski menawar Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,75 triliun, Firdaus juga menegaskan Yawadwipa tidak akan menang begitu saja. Menurutnya, bisa saja ada penawar lain dengan harga lebih tinggi, dan itulah nanti yang akan diambil LPS.
"Ketika nanti ada 2 perusahaan, korporasi, atau lembaga keuangan menginginkan Bank Mutiara dengan tawaran yang sama, kita ambil yang lebih tinggi," jelasnya.
Soal harganya, LPS juga bersikukuh pada harga Rp 6,75 triliun sesuai nilai bailout yang dikucurkan pemerintah ke Bank Mutiara ketika mengalami kesulitan likuiditas beberapa tahun silam. Firdaus merasa harga Bank Mutiara Rp 6,75 triliun itu tidak kemahalan.
"Itu tergantung melihatnya, tergantung investor. Sekarang kan pasar lagi bagus dan untuk mengambil bank kan tidak murah di Indonesia," jawab Firdaus saat ditanya apakah harga Bank Mutiara tidak terlalu mahal dijual pada harga Rp 6,7 triliun.
LPS awal Februari lalu memang membuka lagi lelang penjualan Bank Mutiara. Penjualan Bank Mutiara dalam 2 kali kesempatan gagal karena tidak berhasil menemukan pembeli yang memenuhi syarat, terutama soal harga yang mencapai Rp 6,7 triliun.
Nah, awal pekan ini, perusahaan equity fund, Yawadwipa Companies membuat heboh karena mengumumkan rencananya membeli Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,7 triliun. Niat yawadwipa itu mendapatkan banyak respons miring karena baru berdiri pada 9 Januari 2012, namun sudah berani koar-koar membeli Bank Mutiara pada harga mahal.
Atas tudingan miring tersebut, Direktur Operasional Yawadwipa Companies Prasetyo Singgih menyatakan pihaknya memang tengah mengincar Bank Mutiara, dan tak ada misteri apapun meski perusahaan ini baru berdiri 9 Januari 2012.
"Tidak ada siapa-siapa di belakang Yawadwipa. Yawadwipa sebagai private equity firm yang menghimpun dana dari dalam dan luar negeri, baik institusi dan individu. Kemudian dana tersebut selanjutnya dikelola oleh sekelompok profesional. Jadi simpel dan clear!" tegas Prasetyo kepada detikFinance.
(dru/qom)
"Kalau terbentur masalah perusahaan keuangan harus 3 tahun pengalaman dsb, opsinya masih banyak. Jadi kalau Yawadwipa serius, mungkin bisa pakai cara lain," ujar Kepala Eksekutif LPS Firdaus Djaelani kepada detikFinance, Kamis (9/2/2012).
Trik-trik agar lolos dari jeratan aturan tersebut seperti disampaikan Firdaus antara lain bisa saja Yawadwipa membeli Bank Mutiara atas nama perusahaan lain, atau atas nama pemiliknya langsung. Ini mengingat Yawadwipa Companies adalah perusahaan equity fund yang merupakan tempat mengelola dana-dana saja atau bisa disebut SPV.
"Atau yang penting ada cara lain untuk kesitu, untuk mengakali aturan pengalaman 3 tahun itu. Mungkin mereka bisa saja pakai teknik lain," tambah Firdaus.
Terkait rencana membeli Bank Mutiara tersebut, Firdaus mengaku sudah menerima surat minat atau letter of intent dari Yawadwipa. Pihak Danareksa selaku penasihat keuangan juga sudah menyampaikan minat dari Yawadwipa tersebut, setelah penjualan Bank Mutiara dibuka per 1 Februari lalu.
"Jadi posisi kita saat ini menunggu penutupan pendaftaran. Yawadwipa memang berniat melihat Bank Mutiara lebih jauh, jadi nanti setelah pendaftaran ditutup pada akhir April, kita akan kirim data mengenai Bank Mutiara 3 tahun terakhir untuk mereka pelajari. Setelah itu mereka akan menyampaikan letter of confirmation jika berminat," urainya.
Jika surat konfirmasi diterima, maka LPS dan Yawadwipa selanjutnya akan melakukan pembicaraan lebih lanjut. LPS akan mengorek siapa investor Yawadwipa, termasuk darimana asal dananya dan juga komitmen terhadap Bank Mutiara.
Meski menawar Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,75 triliun, Firdaus juga menegaskan Yawadwipa tidak akan menang begitu saja. Menurutnya, bisa saja ada penawar lain dengan harga lebih tinggi, dan itulah nanti yang akan diambil LPS.
"Ketika nanti ada 2 perusahaan, korporasi, atau lembaga keuangan menginginkan Bank Mutiara dengan tawaran yang sama, kita ambil yang lebih tinggi," jelasnya.
Soal harganya, LPS juga bersikukuh pada harga Rp 6,75 triliun sesuai nilai bailout yang dikucurkan pemerintah ke Bank Mutiara ketika mengalami kesulitan likuiditas beberapa tahun silam. Firdaus merasa harga Bank Mutiara Rp 6,75 triliun itu tidak kemahalan.
"Itu tergantung melihatnya, tergantung investor. Sekarang kan pasar lagi bagus dan untuk mengambil bank kan tidak murah di Indonesia," jawab Firdaus saat ditanya apakah harga Bank Mutiara tidak terlalu mahal dijual pada harga Rp 6,7 triliun.
LPS awal Februari lalu memang membuka lagi lelang penjualan Bank Mutiara. Penjualan Bank Mutiara dalam 2 kali kesempatan gagal karena tidak berhasil menemukan pembeli yang memenuhi syarat, terutama soal harga yang mencapai Rp 6,7 triliun.
Nah, awal pekan ini, perusahaan equity fund, Yawadwipa Companies membuat heboh karena mengumumkan rencananya membeli Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,7 triliun. Niat yawadwipa itu mendapatkan banyak respons miring karena baru berdiri pada 9 Januari 2012, namun sudah berani koar-koar membeli Bank Mutiara pada harga mahal.
Atas tudingan miring tersebut, Direktur Operasional Yawadwipa Companies Prasetyo Singgih menyatakan pihaknya memang tengah mengincar Bank Mutiara, dan tak ada misteri apapun meski perusahaan ini baru berdiri 9 Januari 2012.
"Tidak ada siapa-siapa di belakang Yawadwipa. Yawadwipa sebagai private equity firm yang menghimpun dana dari dalam dan luar negeri, baik institusi dan individu. Kemudian dana tersebut selanjutnya dikelola oleh sekelompok profesional. Jadi simpel dan clear!" tegas Prasetyo kepada detikFinance.
(dru/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
