Djan Faridz Melunak, Bunga KPR Subsidi Hanya Turun Jadi 7%
Jumat, 10/02/2012 12:42 WIB
Jakarta - Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz akhirnya melunak perihal kenginannya menurunkan suku bunga KPR subsidi skema FLPP yang tahun lalu berkisar 8,15%. Awalnya, ia meminta agar bunga FLPP sebesar 5%-6% namun kini ia menyetujui penurunanya hingga hanya 7%.
"Waktu itu 5%, karena suku bunga Bank Indonesia 5%. Tapi pasti di atas itu karena ada biaya tambahan. Bisa sekitar 7%," kata Djan dalam diskusi bersama wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (10/2/2012).
Bunga FLPP sebesar 7%, sesuai dengan keinginan Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai bank penyalur FLPP terbesar, yang menawarkan bungan 7,42%. Meski sudah setuju soal suku bunga, namun ia masih ngotot agar skema dana penyertaan pemerintah di bank penyalur komposisinya 50:50 atau merevisi dari palaksanaan tahun sebelumnya pemerintah 60% dan perbankan 40%.
Sebagai catatan, bunga KPR FLPP 7,42% yang ditawarkan oleh BTN masih dengan skema lama yaitu dana penyertaan pemerintah dengan komposisi 60:40. Jika skema tetap 50:50 maka besaran bunganya bisa mencapai diatasnya.
Lalu apakah akan ada titik temu?
Djan Faridz masih optimis akan ada titik temu terkait bunga FLPP. Bank penyalur pasti akan mengikuti keinginan kementeriannya dalam penetapan bunga. Ia menambahkan, negosiasi bunga FLPP yang lebih murah akan menguntungkan masyarakat karena ada pengurangan biaya angsuran dan biaya yang timbul atas akad KPR.
"Kalau dihitung, cicilan Rp 650 ribu per bulan. Dan saat akad ada tambahan biaya yang timbul akibat kredit Rp 11,5 juta. Kalau bunga turun cicilan turun jadi Rp 550 ribu, biaya timbul juga jadi Rp 7,5 juta dengan asuransi masuk dalam komponen bunga. Kalau seperti itu pilih mana? Tentu pilih yang murah," tegasnya.
Sementara itu Deputi Perumahan Formal Kemenpera Pangihutan Marpaung mengatakan sampai kemarin sudah ada BNI yang menyepakati secara formal bunga FLPP dengan bunga 7,25%, sedangkan BRI belum final proses negosiasinya.
"BTN masih alot masih diangka di atas 8%," kata Pangihutan kemarin.
Seperti diketahui kisruh penetapan bunga FLPP hampir 2 bulan ini belum tuntas antara bank penyalur seperti BTN dengan kementerian perumahan rakyat. Selama dua bulan berjalan proses penyaluran KPR subsidi dengan pola ini akhirnya mandeg karena belum ada kepastian suku bunga yang disepakati.
(wep/hen)
"Waktu itu 5%, karena suku bunga Bank Indonesia 5%. Tapi pasti di atas itu karena ada biaya tambahan. Bisa sekitar 7%," kata Djan dalam diskusi bersama wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (10/2/2012).
Bunga FLPP sebesar 7%, sesuai dengan keinginan Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai bank penyalur FLPP terbesar, yang menawarkan bungan 7,42%. Meski sudah setuju soal suku bunga, namun ia masih ngotot agar skema dana penyertaan pemerintah di bank penyalur komposisinya 50:50 atau merevisi dari palaksanaan tahun sebelumnya pemerintah 60% dan perbankan 40%.
Sebagai catatan, bunga KPR FLPP 7,42% yang ditawarkan oleh BTN masih dengan skema lama yaitu dana penyertaan pemerintah dengan komposisi 60:40. Jika skema tetap 50:50 maka besaran bunganya bisa mencapai diatasnya.
Lalu apakah akan ada titik temu?
Djan Faridz masih optimis akan ada titik temu terkait bunga FLPP. Bank penyalur pasti akan mengikuti keinginan kementeriannya dalam penetapan bunga. Ia menambahkan, negosiasi bunga FLPP yang lebih murah akan menguntungkan masyarakat karena ada pengurangan biaya angsuran dan biaya yang timbul atas akad KPR.
"Kalau dihitung, cicilan Rp 650 ribu per bulan. Dan saat akad ada tambahan biaya yang timbul akibat kredit Rp 11,5 juta. Kalau bunga turun cicilan turun jadi Rp 550 ribu, biaya timbul juga jadi Rp 7,5 juta dengan asuransi masuk dalam komponen bunga. Kalau seperti itu pilih mana? Tentu pilih yang murah," tegasnya.
Sementara itu Deputi Perumahan Formal Kemenpera Pangihutan Marpaung mengatakan sampai kemarin sudah ada BNI yang menyepakati secara formal bunga FLPP dengan bunga 7,25%, sedangkan BRI belum final proses negosiasinya.
"BTN masih alot masih diangka di atas 8%," kata Pangihutan kemarin.
Seperti diketahui kisruh penetapan bunga FLPP hampir 2 bulan ini belum tuntas antara bank penyalur seperti BTN dengan kementerian perumahan rakyat. Selama dua bulan berjalan proses penyaluran KPR subsidi dengan pola ini akhirnya mandeg karena belum ada kepastian suku bunga yang disepakati.
(wep/hen)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
