SBY Dituding Cuma Koar-Koar Krisis Pangan Tanpa Tanggung Jawab
Sabtu, 11/02/2012 11:37 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dituduh Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) lepas tanggung jawab akan krisis pangan, setelah dalam beberapa hari terakhir ia berkoar-koar akan pentingnya memperkuat ketahanan pangan nasional (Food Security).
"Pernyataan SBY adalah bagian dari upaya pemerintah untuk lepas tanggung jawab atas krisis pangan yang melanda Indonesia," kata Sekretaris Jenderal KIARA, Riza Damanik, dalam rilisnya di Jakarta, Sabtu (11/2/2012).
KIARA menyatakan, turunnya produksi pangan adalah cermin gagalnya pemerintah menjadi terlindunginya lahan pangan dan perikanan. Ini menjadikan kesejahteraan petani dan nelayan tradisional terabaikan.
Pemerintah berjanji untuk mendorong ekspor serta menargetkan kenaikan konsumsi ikan nasional hingga 40 kg per kapita per tahun hingga 2014. Namun kenyataannya, impor hasil perikanan terus saja naik.
Berdasarkan statistik Kelautan dan Perikanan 2010, KIARA menyampaikan pada 2010 impor hasil perikanan mencapai 369.282 ton dengan nilai Rp US$ 391.815. Realisasi ini naik dari tahun 2009 yang tercatat impor hanya 331.893 ton senilai US$ 300.261.
Pemerintah juga masih mau mengimpor garam 700 ribu ton di Maret 2012. Pada pasar tradisional juga masih banyak ditemui sayuran dan ikan impor.
Perubahan iklim juga semakin tidak berpihak pada sektor perikanan. Sepanjang Januari-Februari 2012, 500 ribu keluarga nelayan berhenti melaut akibat cuara ekstrem. Sepanjang 2011 juga tercatat terjadi peningkatan dua kali lipat nelayan yang hilang dan meninggal dunia di laut.
"Perubahan iklim jadi salah satu faktor penghambat ketersediaan pangan. Sebab, di sektor perikanan misalnya 92% kebutuhan domestik untuk pangan perikanan bersumber dari tangkapan dan budidaya iklan nelayan tradisional," paparnya.
"Karenanya, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk memperbesar kapasitas nelayan beradaptasi terhadap perubahan iklim tersebut. Sayangnya, sampai hari ini pemerintah absen melakukannya," ucap Riza.
Bagi KIARA, perlu ada perombakan kebijakan politik pangan yang selama ini berbasis korporasi dan pasar, kepada perlindungan kebutuhan domestik dan kesejahteraan petani dan nelayan.
(wep/ang)
"Pernyataan SBY adalah bagian dari upaya pemerintah untuk lepas tanggung jawab atas krisis pangan yang melanda Indonesia," kata Sekretaris Jenderal KIARA, Riza Damanik, dalam rilisnya di Jakarta, Sabtu (11/2/2012).
KIARA menyatakan, turunnya produksi pangan adalah cermin gagalnya pemerintah menjadi terlindunginya lahan pangan dan perikanan. Ini menjadikan kesejahteraan petani dan nelayan tradisional terabaikan.
Pemerintah berjanji untuk mendorong ekspor serta menargetkan kenaikan konsumsi ikan nasional hingga 40 kg per kapita per tahun hingga 2014. Namun kenyataannya, impor hasil perikanan terus saja naik.
Berdasarkan statistik Kelautan dan Perikanan 2010, KIARA menyampaikan pada 2010 impor hasil perikanan mencapai 369.282 ton dengan nilai Rp US$ 391.815. Realisasi ini naik dari tahun 2009 yang tercatat impor hanya 331.893 ton senilai US$ 300.261.
Pemerintah juga masih mau mengimpor garam 700 ribu ton di Maret 2012. Pada pasar tradisional juga masih banyak ditemui sayuran dan ikan impor.
Perubahan iklim juga semakin tidak berpihak pada sektor perikanan. Sepanjang Januari-Februari 2012, 500 ribu keluarga nelayan berhenti melaut akibat cuara ekstrem. Sepanjang 2011 juga tercatat terjadi peningkatan dua kali lipat nelayan yang hilang dan meninggal dunia di laut.
"Perubahan iklim jadi salah satu faktor penghambat ketersediaan pangan. Sebab, di sektor perikanan misalnya 92% kebutuhan domestik untuk pangan perikanan bersumber dari tangkapan dan budidaya iklan nelayan tradisional," paparnya.
"Karenanya, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk memperbesar kapasitas nelayan beradaptasi terhadap perubahan iklim tersebut. Sayangnya, sampai hari ini pemerintah absen melakukannya," ucap Riza.
Bagi KIARA, perlu ada perombakan kebijakan politik pangan yang selama ini berbasis korporasi dan pasar, kepada perlindungan kebutuhan domestik dan kesejahteraan petani dan nelayan.
(wep/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
