Pemerintah Wajib Renegosiasi Kontrak Freeport
Sabtu, 11/02/2012 17:18 WIB
Jakarta - Renegosiasi kontrak pertambangan sah-sah saja dilakukan pemerintah Indonesia. Terlebih, kontrak awal Freeport yang disepakati tahun 1967 tidak lagi adil bagi rakyat.
(wep/ang)
Hal ini disampaikan Direktur Center For Petroleum and Energy Economics Studies, Muhammad Kurtubi kepada detikFinance, Sabtu (11/2/2012).
"Boleh saja pemerintah diminta pihak Dubes (Amerika Serikat) atau manapun menghormati kontrak karya. Tapi kontrak awal 1967, dirasakan sangat tidak adil," jelasnya.
Renegosiasi kontrak yang dilakukan Presiden SBY pun dinilai sudah tepat, meski belum ada progres yang signifikan. Untuk itu Kurtubi berharap, pemerintah bisa lebih tegas. "Itu harus ada tindakan tegas dari pemerintah," paparnya."Boleh saja pemerintah diminta pihak Dubes (Amerika Serikat) atau manapun menghormati kontrak karya. Tapi kontrak awal 1967, dirasakan sangat tidak adil," jelasnya.
Sebelumnya, Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel mengatakan kontrak karya pertambangan janganlah dirusak karena berdampak buruk pada iklim investasi dalam negeri.
Dengan niat pemerintah ini, Marciel menilai investor agak berfikir ulang untuk berinvestasi lebih besar di Indonesia. "Kami berharap kesucian kontrak tetap dipertahankan. Ini penting bagi setiap pemerintah. Tapi bukan berarti tidak bisa ada penyesuaian. Namun harus mempertimbangkan iklim investasi," kata Marciel kemarin di kantornya.
Namun bagi Kurtubi, azas keadilan harus menjadi prioritas. Caranya dengan renegosiasi kontrak. Pemerintah harus berani menawarkan kontrak baru dengan besaran royalti yang lebih besar.
"Besaran royalti harus mengikuti aturan terbaru dari pemerintah. Kalau pakai awal, terlalu kecil. Emas contohnya hanya 1%. Itu tidak adil bagi rakyat, siapapun Presidennya," timpalnya.
Dengan niat pemerintah ini, Marciel menilai investor agak berfikir ulang untuk berinvestasi lebih besar di Indonesia. "Kami berharap kesucian kontrak tetap dipertahankan. Ini penting bagi setiap pemerintah. Tapi bukan berarti tidak bisa ada penyesuaian. Namun harus mempertimbangkan iklim investasi," kata Marciel kemarin di kantornya.
Namun bagi Kurtubi, azas keadilan harus menjadi prioritas. Caranya dengan renegosiasi kontrak. Pemerintah harus berani menawarkan kontrak baru dengan besaran royalti yang lebih besar.
"Besaran royalti harus mengikuti aturan terbaru dari pemerintah. Kalau pakai awal, terlalu kecil. Emas contohnya hanya 1%. Itu tidak adil bagi rakyat, siapapun Presidennya," timpalnya.
"Cara kedua, supaya pihak kontraktor bersedia mendivestasikan sahamnya atau menjual sebesar 51% kepada Pemerintah Indonesia, termasuk Pemerintah Daerah (Pemda). Ini seperti yang dilakukan Newmont Nusa Tenggara," imbuh Kurtubi.
(wep/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
