Pertamina Kehilangan Rp 392 Miliar Akibat Proyek Balongan Molor
Kamis, 16/02/2012 19:25 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - PT Pertamina (Persero) kehilangan potensi pendapatan US$ 43,6 juta atau sekitar Rp 392 miliar karena belum rampungnya proyek pemanfaatan gas buang di Kilang Balongan senilai US$ 238 juta.
Demikian terungkap dalam dokumen pemeriksaan BPK yang diterima detikFinance, Kamis (16/2/2012).
Proyek pemanfaatan gas buang atau RCC Off Gas to Propylene Project (ROPP) di Kilang Balongan milik Pertamina memang dikerjakan konsorsium PT Rekayasa Industri dan Toyo Engineering Corporation dengan nilai kontrak 238 juta dolar AS. Sesuai kontrak yang ditandatangani pada Januari 2008, proyek ROPP Balongan ditargetkan mulai berproduksi komersial pada September 2010. Namun, hingga kini, proyek belum beroperasi.
Dokumen BPK berjudul Risalah Pembahasan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Kegiatan Investasi PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan tertanggal 15 Desember 2011 dan ditandatangani Saptono, sebagai Ketua Tim dari BPK, Vice President (VP) Refining Project, Mochamad Khamim, dan VP Refinery Internal Audit, Wahyu Widjajanto.
Dalam penjelasan atas temuan BPK tersebut, Khamim mengatakan, perbaikan proyek selambat-lambatnya pada 16 April 2012.
Saat dikonfirmasi, Vice President Corporate Communication Pertamina M. Harun mengatakan pihaknya berharap Rekayasa Industri bisa menyelesaikan proyek segera.
"Kami menghargai itikad baik Rekin untuk menuntaskan permasalahan yang ada sehingga dalam waktu dekat diharapkan proyek tersebut bisa dioperasikan," kata Harun kepada detikFinance.
Akhir tahun lalu, Sekretaris Perusahaan Rekin Wilka Osca mengatakan telah mengerahkan 100 karyawan untuk merampungkan proyek tersebut pada 25 Januari 2012 namun kembali mundur.
Proyek ROPP memanfaatkan gas buang yang dihasilkan unit pemisah katalis residu (residue catalytic cracking/RCC) dan sebelumnya hanya dibakar buat menunjang operasi kilang Balongan.
Namun, melalui proyek ROPP, gas tersebut selanjutnya diolah kembali menjadi propilen yang bernilai jual tinggi.
Volume gas buang yang dihasilkan unit RCC di Kilang Balongan mencapai 513 ton per hari atau mengandung etilen sekitar 45.000-50.000 ton per tahun.
Produk etilen yang dihasilkan itu selanjutnya dicampur dengan butana yang ada di Mixed C4 untuk diolah menjadi propilen dengan kapasitas 179.000 metrik ton per tahun.
(dnl/hen)
Demikian terungkap dalam dokumen pemeriksaan BPK yang diterima detikFinance, Kamis (16/2/2012).
Proyek pemanfaatan gas buang atau RCC Off Gas to Propylene Project (ROPP) di Kilang Balongan milik Pertamina memang dikerjakan konsorsium PT Rekayasa Industri dan Toyo Engineering Corporation dengan nilai kontrak 238 juta dolar AS. Sesuai kontrak yang ditandatangani pada Januari 2008, proyek ROPP Balongan ditargetkan mulai berproduksi komersial pada September 2010. Namun, hingga kini, proyek belum beroperasi.
Dokumen BPK berjudul Risalah Pembahasan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Kegiatan Investasi PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan tertanggal 15 Desember 2011 dan ditandatangani Saptono, sebagai Ketua Tim dari BPK, Vice President (VP) Refining Project, Mochamad Khamim, dan VP Refinery Internal Audit, Wahyu Widjajanto.
Dalam penjelasan atas temuan BPK tersebut, Khamim mengatakan, perbaikan proyek selambat-lambatnya pada 16 April 2012.
Saat dikonfirmasi, Vice President Corporate Communication Pertamina M. Harun mengatakan pihaknya berharap Rekayasa Industri bisa menyelesaikan proyek segera.
"Kami menghargai itikad baik Rekin untuk menuntaskan permasalahan yang ada sehingga dalam waktu dekat diharapkan proyek tersebut bisa dioperasikan," kata Harun kepada detikFinance.
Akhir tahun lalu, Sekretaris Perusahaan Rekin Wilka Osca mengatakan telah mengerahkan 100 karyawan untuk merampungkan proyek tersebut pada 25 Januari 2012 namun kembali mundur.
Proyek ROPP memanfaatkan gas buang yang dihasilkan unit pemisah katalis residu (residue catalytic cracking/RCC) dan sebelumnya hanya dibakar buat menunjang operasi kilang Balongan.
Namun, melalui proyek ROPP, gas tersebut selanjutnya diolah kembali menjadi propilen yang bernilai jual tinggi.
Volume gas buang yang dihasilkan unit RCC di Kilang Balongan mencapai 513 ton per hari atau mengandung etilen sekitar 45.000-50.000 ton per tahun.
Produk etilen yang dihasilkan itu selanjutnya dicampur dengan butana yang ada di Mixed C4 untuk diolah menjadi propilen dengan kapasitas 179.000 metrik ton per tahun.
(dnl/hen)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
