detikfinance

Wacana Sistem Satu Zona Waktu Indonesia Direspons Beragam

Whery Enggo Prayogi - detikfinance
Minggu, 11/03/2012 16:27 WIB
Wacana Sistem Satu Zona Waktu Indonesia Direspons Beragam Foto: dok detikFinance
Jakarta -Rencana penyatuan zona waktu Indonesia dengan menghilangkan tiga pembagian yang selama ini berjalan (WIB, WITA dan WIT), tidak berdampak signifikan pada industri pasar modal, termasuk kalangan dunia usaha.
Misalnya isu regional pasar saham dapat dengan mudah diterima pelaku pasar hingga antisipasi aksi jual atau beli sudah diketahui, tanpa harus menyamakan waktu dengan Singpaura ataupun Hongkong.

"Nggak terlalu pengaruh, karena regional sudah saling tahu. Dan telah ada antisipasi market. Informasi itu dari market sudah tersebar," kata Presiden Direktur HD Capital Anthony Kristanto kepada detikFinance, di Jakarta, Minggu (11/3/2012).

Jika penyatuan zona waktu terealisisi dan WITA menjadi acuan, maka waktu Indonesia sama dengan Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur, Perth dan Beijing. Apakah dengan ini berdampak positif pada perdagangan bursa saham karena tidak ada lagi jeda waktu? Itu yang masih harus diuji lebih jauh.

"Zona waktu kan terkait. Singapura posisinya harusnya ikut sisi barat (WIB) namun mereka ambil WITA. Beda sendiri. Yang benar memang Indonesia. Singapura kenapa ambil (zona) itu karena mengacu pada Hongkong, agar Zonanya sama," jelasnya.

"Dengan penyatuan dan sama dengan Singapura dan Malaysia, jadi sama perdagangan dan bagus. Karena dalam memulai perdagangannya bersamaan. Tapi nggak jauh juga. Zona sebenarnya nggak terlalu bermasalah," tegas Anthony.

Menurutnya, pasar saham domestik akan saling terkait dengan pasar regional ataupun global. Memang berita yang dibawa regional atau global akan berdampak pada pasar saham dalam negeri, namun tidak menguasai yang lain.

"Indeks bisa berjalan sendiri, kalau ada informasi dalam negeri yang signifikan. Tapi tidak tertutup kemungkinan, pada saat itu berpengaruh pasar masing-masing," tuturnya.

Pengusaha sendiri belum mengetahui secara rinci terkait rencana penggabungan zona waktu Indonesia ini. Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto beranggapan, ada alasan kuat yang harus disampaikan pemerintah akan rencana tersebut.

"Biasanya kalau (zona waktu) mundur atau maju kan alasan-alasan menyatukan jam disini dengan pasar modal tertentu. Ada juga untuk penghematan BBM. Karena dimulai lebih pagi, tidak pakai banyak listrik atau penghematan BBM," tegas SBS.

"Kita sebagai pengusaha yang penting biaya. Selama ada penghematan, lihatnya dari sisi itu," imbuhnya.


(wep/dnl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • CEO Arianespace: Peluncuran Satelit BRI dan Rekor Baru Selasa, 21/06/2016 06:52 WIB
    Wawancara Khusus CEO Arianespace
    CEO Arianespace: Peluncuran Satelit BRI dan Rekor Baru
    BRI mengukir sejarah baru perbankan dunia, menjadi bank yang memiliki satelit pertama di dunia. Peluncuran satelit bernama BRIsat ini dibantu oleh Arianespace.
  • Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi? Kamis, 24/03/2016 17:19 WIB
    Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi?
    Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut
MustRead close