Cuma 'Management by Tongkrong' Mampu Perbaiki Kinerja BUMN
Kamis, 22/03/2012 10:10 WIB
Jakarta - Pengamat Kebijakan Publik Riant Nugroho menilai tindakan Dahlan Iskan dengan mengamuk di Tol Semanggi merupakan tindakan yang tepat. Pasalnya, terkadang guna langkah perbaikan diperlukan tindakan-tindakan yang di luar nilai-nilai.
"Tindakan Pak Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN sudah tepat, karena hanya dengan cara itu pimpinan BUMN mau turun dan bekerja. Ada yang mengatakan, bahwa hal itu tidak sopan. Pengalaman saya, dalam kondisi tertentu, memang ketidaksopanan boleh dikesampingkan jika ada kepentingan yang lebih besar, kepentingan publik," ujarnya kepada detikFinance, Kamis (22/3/2012).
Sayangnya, lanjut Riant, tindakan tersebut tidak begitu berarti untuk masyarakat Indonesia yang terkenal dengan 'guilt society' atau hanya merasa bersalah ketika terbukti di depan hukum bersalah.
"Kesopanan atau kesantunan pada tingkat tertentu hanya bermakna kesungkanan, dan tidak banyak artinya dalam konten budaya Indonesia yang guilt society atau hanya merasa bersalah jika sudah terbukti di depan hukum daripada shame society atau merasa bersalah dan malu atas kebersalahannya tadi, kalau perlu bunuh diri untuk menanggung malu," jelasnya.
Hal ini berbeda dengan negara lain seperti China dan Korea Selatan yang masyarakatnya sudah merasa bersalah jika dipermalukan di publik. Selain itu, pemimpinnya pun cukup tegas dalam menerapkan aturan tanpa memedulikan norma kesantunan.
"Kemajuan yang dialami China dan Korea Selatan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini karena pimpinannya bertindak amat tegas, tanpa perlu kesantunan yang berlebihan dan/atau tidak perlu, dalam menindak anak buahnya yang menyelewengkan jabatan yang diamanakan untuk melayani publik dengan kualias terbaik," paparnya.
Menurut Riant, metode dalam mengawasi BUMN di Indonesia adalah metode 'management by tongkrong' atau manajemen pengawasan langsung. Pasalnya, jika tidak dipantau secara langsung maka banyak direksi BUMN yang berleha-leha di wilayah aman tanpa berbuat apa-apa.
"Tindakan keras dari Menteri BUMN mengafirmasi keyakinan saya, bahwa dari berbagai metode memanajemeni direksi BUMN, maka metode yang paling efektif adalah, management by tongkrong. Karena, jika tidak ditongkrongi dan dimarahi dengan keras," ungkapnya.
"Tidak sedikit dari para eksekutif BUMN yang menyukai untuk masuk ke comfort zone masing-masing, dengan pekerjaan utama adalah tidak melakukan apa-apa, karena takut jika berbuat apa-apa malah salah. Persis seperti perilaku birokrasi yang tidak profesional yang berprinsip selamat daripada berbuat baik," tambahnya.
Kebanyakan dari direksi BUMN, ungkap Riant, masih melakukan bisnisnya sesuai arahan atasannya saja, bukan menjalankan perusahaan dengan manajemen bisnis dan pasar. Hal inilah yang membuat kualitas pelayanan publik menjadi rendah.
"Sejauh pengetahuan saya yang terbatas, saya menemukan bahwa kebanyakan direksi BUMN ibarat duduk di atas bantal emas, apalagi yang memegang monopoli. Yang perlu dilakukan adalah tidak melakukan apa-apa, atau seolah-olah berbuat tetapi sebenarnya tidak berbuat apa-apa, toh pasti dapat gaji, bonus, tansiem, dan luxuries. Paling-paling yang dilakukan adalah managing the Minister daripada managing their business and market. Mereka baru menggeliat jika sudah dihardik oleh atasannya," tegasnya.
Jika tidak ada pengawasan seperti itu, Riant mengaku pesimis bakal ada perbaikan yang signifikan dalam tubuh BUMN Indonesia.
"Jangan harap keluhan kita diperhatikan. Jika diperhatikan pun hanya sebatas ditelepon balik, dan berkata minta maaf, nanti akan lebih baik lagi," tandasnya.
(nia/dru)
"Tindakan Pak Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN sudah tepat, karena hanya dengan cara itu pimpinan BUMN mau turun dan bekerja. Ada yang mengatakan, bahwa hal itu tidak sopan. Pengalaman saya, dalam kondisi tertentu, memang ketidaksopanan boleh dikesampingkan jika ada kepentingan yang lebih besar, kepentingan publik," ujarnya kepada detikFinance, Kamis (22/3/2012).
Sayangnya, lanjut Riant, tindakan tersebut tidak begitu berarti untuk masyarakat Indonesia yang terkenal dengan 'guilt society' atau hanya merasa bersalah ketika terbukti di depan hukum bersalah.
"Kesopanan atau kesantunan pada tingkat tertentu hanya bermakna kesungkanan, dan tidak banyak artinya dalam konten budaya Indonesia yang guilt society atau hanya merasa bersalah jika sudah terbukti di depan hukum daripada shame society atau merasa bersalah dan malu atas kebersalahannya tadi, kalau perlu bunuh diri untuk menanggung malu," jelasnya.
Hal ini berbeda dengan negara lain seperti China dan Korea Selatan yang masyarakatnya sudah merasa bersalah jika dipermalukan di publik. Selain itu, pemimpinnya pun cukup tegas dalam menerapkan aturan tanpa memedulikan norma kesantunan.
"Kemajuan yang dialami China dan Korea Selatan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini karena pimpinannya bertindak amat tegas, tanpa perlu kesantunan yang berlebihan dan/atau tidak perlu, dalam menindak anak buahnya yang menyelewengkan jabatan yang diamanakan untuk melayani publik dengan kualias terbaik," paparnya.
Menurut Riant, metode dalam mengawasi BUMN di Indonesia adalah metode 'management by tongkrong' atau manajemen pengawasan langsung. Pasalnya, jika tidak dipantau secara langsung maka banyak direksi BUMN yang berleha-leha di wilayah aman tanpa berbuat apa-apa.
"Tindakan keras dari Menteri BUMN mengafirmasi keyakinan saya, bahwa dari berbagai metode memanajemeni direksi BUMN, maka metode yang paling efektif adalah, management by tongkrong. Karena, jika tidak ditongkrongi dan dimarahi dengan keras," ungkapnya.
"Tidak sedikit dari para eksekutif BUMN yang menyukai untuk masuk ke comfort zone masing-masing, dengan pekerjaan utama adalah tidak melakukan apa-apa, karena takut jika berbuat apa-apa malah salah. Persis seperti perilaku birokrasi yang tidak profesional yang berprinsip selamat daripada berbuat baik," tambahnya.
Kebanyakan dari direksi BUMN, ungkap Riant, masih melakukan bisnisnya sesuai arahan atasannya saja, bukan menjalankan perusahaan dengan manajemen bisnis dan pasar. Hal inilah yang membuat kualitas pelayanan publik menjadi rendah.
"Sejauh pengetahuan saya yang terbatas, saya menemukan bahwa kebanyakan direksi BUMN ibarat duduk di atas bantal emas, apalagi yang memegang monopoli. Yang perlu dilakukan adalah tidak melakukan apa-apa, atau seolah-olah berbuat tetapi sebenarnya tidak berbuat apa-apa, toh pasti dapat gaji, bonus, tansiem, dan luxuries. Paling-paling yang dilakukan adalah managing the Minister daripada managing their business and market. Mereka baru menggeliat jika sudah dihardik oleh atasannya," tegasnya.
Jika tidak ada pengawasan seperti itu, Riant mengaku pesimis bakal ada perbaikan yang signifikan dalam tubuh BUMN Indonesia.
"Jangan harap keluhan kita diperhatikan. Jika diperhatikan pun hanya sebatas ditelepon balik, dan berkata minta maaf, nanti akan lebih baik lagi," tandasnya.
(nia/dru)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Sabtu, 18/05/2013 17:35 WIB
Harga BBM Belum Naik, Harga Asbes, Cat, dan Pipa Sudah Naik
-
Sabtu, 18/05/2013 16:04 WIB
Gita Wirjawan: Jangan Sampai 20 Tahun Lagi Kita Masih Beli HP China
-
Sabtu, 18/05/2013 15:31 WIB
Hatta Rajasa Jamin 'Balsem' Rp 150 Ribu/Bulan Tidak Akan Salah Sasaran
-
Sabtu, 18/05/2013 15:16 WIB
Hatta: Minggu Depan Presiden Akan Lantik Menkeu Baru
-
Sabtu, 18/05/2013 15:06 WIB
Bunga Kredit di RI 10% Sementara Malaysia Hanya 2%, Pengusaha Sulit Bersaing
-
Sabtu, 18/05/2013 15:55 WIB
Gita Wirjawan: Jangan Sampai 20 Tahun Lagi Kita Masih Beli HP China
-
Sabtu, 18/05/2013 12:23 WIB
Ini 2 Negara Pemborong Emas Terbesar di Dunia
-
Sabtu, 18/05/2013 13:43 WIB
RI Tidak Mau Disalahkan Atas Perubahan Iklim Dunia
-
Sabtu, 18/05/2013 11:44 WIB
Cerita Gita Wirjawan Temui Hillary Clinton Karena Sawit RI Ditolak AS
-
Sabtu, 18/05/2013 14:33 WIB
Gita Wirjawan: Mahasiswa Korea Masuk Harvard 700 Orang, RI Hanya 5 Orang
-
68 Komentar
-
65 Komentar
-
50 Komentar
-
48 Komentar
-
45 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Sabtu, 18/05/2013 11:27 WIB
Pagi-pagi, Gita Wirjawan Beri Kuliah Mahasiswa dan Alumni IPB di Hotel Hyatt
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di pagi in imemberi kuliah umum kepada mahasiswa dan alumni program pasca sarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB).
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Sabtu, 18/05/2013 12:23 WIB WIB
Ini 2 Negara Pemborong Emas Terbesar di Dunia
-
Sabtu, 18/05/2013 11:44 WIB WIB
Cerita Gita Wirjawan Temui Hillary Clinton Karena Sawit RI Ditolak AS
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








