Migas & Pertambangan Rawan Bocor, Dirjen Pajak Lapor ke Sri Mulyani
Senin, 02/04/2012 18:53 WIB
Jakarta - Hingga saat ini tidak ada badan independen yang mengawasi sektor Minyak dan Gas (Migas) dan Pertambangan khususnya terkait penerimaan negara.
Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menduga ada kebocoran pemasukan pendapatan pajak di sektor tersebut karena pengawasannya longgar.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak, Fuad Rahmany pernah melaporkan masalah ini ke Sri Mulyani yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Keuangan, namun sampai jabatan Sri Mulyani berakhir, tidak ada jawaban apapun darinya.
"Saya pernah laporkan kondisi ini (kendornya pengawasan pajak di sektor Migas) kepada Ibu Sri Mulyani yang waktu itu masih menjabat sebagai Menteri Keuangan, yah mungkin Ibu Menkeu lagi sibuk banget jadi tidak ada jawaban darinya. Saya bilang, Bu kondisi seperti ini kok Departemen Keuangan diam aja," ujar Fuad di Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar Gambir, Senin (2/4/2012).
Fuad pun siap 'diserang' atas pernyataannya ini. "Ya memang ini kondisinya, kita tidak pernah tahu berapa lifting minyak yang diproduksi perusahaan minyak bahkan dilakukan oleh perusahaan asing, mereka tinggal bilang produksi kita sekian, siapa yang jamin atau memverifikasi data tersebut benar, memang mereka perusahaan minyak yang high teknologi, justru dengan high tech tersebut diduga memungkin-kan mereka tidak melaporkan yang sebenarnya," tegasnya.
Sebelumnya, Fuad Rahmany mengaku tak percaya terhadap produksi (lifting) minyak yang berasal dari laporan perusahaan minyak offshore maupun onshore. Hal ini karena hingga sampai saat ini pemerintah tidak memeriksanya, jadi bodoh dan konyol jika perusahaan minyak tidak curang atau memainka data produksi.
"Teknologi perusahaan Minyak dan Gas itu memang High tech (teknologi tinggi), bisa saja mereka klaim bahya produksinya benar sekian, tapi siapa yang bisa menjamin atau mengklarifikasi hasil produksinya? Kita saja tidak periksa," ujar Fuad Rahmany.
Dikatakan Fuad, perusahaan migas dalam mengebor minyak ada menggunakan alat semacam odometer (seperti alat pengukur kilometer kendaraan). Alat ini akan membaca volume dalam setiap proses bor.
Menurutnya tak ada yang bisa jamin kalau perusahaan migas bisa memainkan pencatatannya. Misalnya seharusnya yang dibor secara volume sebanyak 300.000 barel/hari namun bisa saja disebut 166.000 barel/hari.
"Kan mereka perusahaan high tech, sangat bisa berbuat seperti itu, jadi bisa dipercayakah produksi lifting minyak kita saat ini," tuturnya.
Jadi menurut Fuad, sangat mungkin angka lifting minyak Indonesia bukan pada angka sebenarnya. "Konyol mereka tidak bermain, bodoh mereka kalau tidak melakukan itu, kenapa? Karena kita tidak memeriksanya," tukasnya.
(rrd/hen)
Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menduga ada kebocoran pemasukan pendapatan pajak di sektor tersebut karena pengawasannya longgar.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak, Fuad Rahmany pernah melaporkan masalah ini ke Sri Mulyani yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Keuangan, namun sampai jabatan Sri Mulyani berakhir, tidak ada jawaban apapun darinya.
"Saya pernah laporkan kondisi ini (kendornya pengawasan pajak di sektor Migas) kepada Ibu Sri Mulyani yang waktu itu masih menjabat sebagai Menteri Keuangan, yah mungkin Ibu Menkeu lagi sibuk banget jadi tidak ada jawaban darinya. Saya bilang, Bu kondisi seperti ini kok Departemen Keuangan diam aja," ujar Fuad di Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar Gambir, Senin (2/4/2012).
Fuad pun siap 'diserang' atas pernyataannya ini. "Ya memang ini kondisinya, kita tidak pernah tahu berapa lifting minyak yang diproduksi perusahaan minyak bahkan dilakukan oleh perusahaan asing, mereka tinggal bilang produksi kita sekian, siapa yang jamin atau memverifikasi data tersebut benar, memang mereka perusahaan minyak yang high teknologi, justru dengan high tech tersebut diduga memungkin-kan mereka tidak melaporkan yang sebenarnya," tegasnya.
Sebelumnya, Fuad Rahmany mengaku tak percaya terhadap produksi (lifting) minyak yang berasal dari laporan perusahaan minyak offshore maupun onshore. Hal ini karena hingga sampai saat ini pemerintah tidak memeriksanya, jadi bodoh dan konyol jika perusahaan minyak tidak curang atau memainka data produksi.
"Teknologi perusahaan Minyak dan Gas itu memang High tech (teknologi tinggi), bisa saja mereka klaim bahya produksinya benar sekian, tapi siapa yang bisa menjamin atau mengklarifikasi hasil produksinya? Kita saja tidak periksa," ujar Fuad Rahmany.
Dikatakan Fuad, perusahaan migas dalam mengebor minyak ada menggunakan alat semacam odometer (seperti alat pengukur kilometer kendaraan). Alat ini akan membaca volume dalam setiap proses bor.
Menurutnya tak ada yang bisa jamin kalau perusahaan migas bisa memainkan pencatatannya. Misalnya seharusnya yang dibor secara volume sebanyak 300.000 barel/hari namun bisa saja disebut 166.000 barel/hari.
"Kan mereka perusahaan high tech, sangat bisa berbuat seperti itu, jadi bisa dipercayakah produksi lifting minyak kita saat ini," tuturnya.
Jadi menurut Fuad, sangat mungkin angka lifting minyak Indonesia bukan pada angka sebenarnya. "Konyol mereka tidak bermain, bodoh mereka kalau tidak melakukan itu, kenapa? Karena kita tidak memeriksanya," tukasnya.
(rrd/hen)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Selasa, 21/05/2013 22:46 WIB
DBS Boleh Beli 67% Saham Danamon, Asal Bank BUMN Mudah Buka Cabang di Singapura
-
Selasa, 21/05/2013 20:48 WIB
Pesawat Perdana Buatan Honda Lolos Uji FAA
-
Selasa, 21/05/2013 20:36 WIB
Chatib Basri Angkat Bicara Soal Nasib Jembatan Selat Sunda
-
Selasa, 21/05/2013 20:23 WIB
Jero Wacik: Jika Tak Impor BBM, Antrean Kendaraan di SPBU Bisa 10 Km
-
Selasa, 21/05/2013 20:11 WIB
Pemerintah Masih Tunggu Investigasi Runtuhnya Tambang Bawah Tanah Freeport
-
Selasa, 21/05/2013 08:34 WIB
Kisah Sulitnya Bintang Porno Membuka Rekening Bank
-
Selasa, 21/05/2013 08:24 WIB
Dapat Predikat 'Termahal', Ini Dia Rumah Berharga Rp 1,8 Triliun
-
Selasa, 21/05/2013 07:31 WIB
Cari 60.000 PNS Baru, Pemerintah Gunakan Kembali Passing Grade
-
Selasa, 21/05/2013 20:48 WIB
Pesawat Perdana Buatan Honda Lolos Uji FAA
-
Selasa, 21/05/2013 09:52 WIB
Puluhan Brimob Berjaga-jaga di Kantor Jero Wacik, Ada Apa?
-
68 Komentar
-
38 Komentar
-
30 Komentar
-
29 Komentar
-
26 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Selasa, 21/05/2013 12:26 WIB
Dahlan Iskan Diserbu 10.000 Guru di Sentul
Usai menjadi pembicara di depan 10.000 guru se-Kabupaten Bogor, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan langsung diserbu oleh peserta. Ada apa ya?
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Selasa, 21/05/2013 14:15 WIB WIB
Ini Kementerian yang Berikan Gaji Paling Tinggi Bagi PNS-nya
-
Selasa, 21/05/2013 14:06 WIB WIB
Gita Wirjawan Akui BlackBerry Q10 dan Z10 Tak Boleh Beredar
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


_2.gif)







