DPR Hantam Ide Widjajono Soal Premix RON 90 Seharga Rp 7.200
Rabu, 04/04/2012 13:17 WIB
Jakarta - Ide Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo agar SPBU Pertamina bisa menyediakan Premix RON 90 seharga Rp 7.200 per liter dihantam DPR-RI
RON 90 yang merupakan campuran antara premium dan pertamax dinilai sangat berbahaya, pasalnya akan mengakibatkan migrasi dari pengguna murni BBM non Subsidi ke Premix yang masih ada unsur subsidi di dalamnya.
"Yang sangat diwaspadai adalah larinya pengguna BBM non subsidi ke Premix yang diusulkan Pak Widjajono," kata anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha ditemui di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Rabu (4/4/2012).
Menurut Satya ide Wamen ESDM tersebut mungkin baik, tapi berbahaya apalagi dalam komponen Premix RON 90 tersebut masih ada unsur subsidi. "Kalau sudah ada unsur subsidinya artinya harus disampaikan secara resmi ke kita (DPR) tidak bisa seenaknya saja ngomong ke wartawan, dari mana alokasi dananya, karena subsidi Rp 225 triliun yang diketok di paripurna sudah menjadi undang-undang dan sudah ada pos-pos nya sendiri," ungkap Satya.
Adanya komponen subsidi menurutnya merupakan dasar masalah, dari mana anggarannya, sementara kalau mau ditambah tidak mungkin.
"Baru kemarin kita babak belur bahas APBN-P, mau diubah lagi supaya ada alokasi dana untuk Premix, kalau Premix tidak mengandung unsur subsidi tidak masalah buat saja, kayak SPBU Shell RON 92 namanya Super, Ron 95 Super extra, tapi harganya kan beda, dan apakah premix bisa harganya Rp 7.250 seperti diusulkan Pak Widjajono, kalaupun tetap mau diusulkan, ya kita bahas nanti di sekitar September waktu bahas RAPBN 2012," katanya.
Selain itu, tidak mungkin juga ada produk, BBM bersubsidi (Premium dan solar), BBM setelah subsidi (Premix) dan BBM non subsidi (pertamax cs). "Masyarakat perlu kejelasan tidak boleh dibuat bingung seperti itu, ide mirip seperti itu, premium bersubsidi dan premium harga keekonomian saja kita tolak mentah-mentah," tandas Satya.
(rrd/hen)
RON 90 yang merupakan campuran antara premium dan pertamax dinilai sangat berbahaya, pasalnya akan mengakibatkan migrasi dari pengguna murni BBM non Subsidi ke Premix yang masih ada unsur subsidi di dalamnya.
"Yang sangat diwaspadai adalah larinya pengguna BBM non subsidi ke Premix yang diusulkan Pak Widjajono," kata anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha ditemui di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Rabu (4/4/2012).
Menurut Satya ide Wamen ESDM tersebut mungkin baik, tapi berbahaya apalagi dalam komponen Premix RON 90 tersebut masih ada unsur subsidi. "Kalau sudah ada unsur subsidinya artinya harus disampaikan secara resmi ke kita (DPR) tidak bisa seenaknya saja ngomong ke wartawan, dari mana alokasi dananya, karena subsidi Rp 225 triliun yang diketok di paripurna sudah menjadi undang-undang dan sudah ada pos-pos nya sendiri," ungkap Satya.
Adanya komponen subsidi menurutnya merupakan dasar masalah, dari mana anggarannya, sementara kalau mau ditambah tidak mungkin.
"Baru kemarin kita babak belur bahas APBN-P, mau diubah lagi supaya ada alokasi dana untuk Premix, kalau Premix tidak mengandung unsur subsidi tidak masalah buat saja, kayak SPBU Shell RON 92 namanya Super, Ron 95 Super extra, tapi harganya kan beda, dan apakah premix bisa harganya Rp 7.250 seperti diusulkan Pak Widjajono, kalaupun tetap mau diusulkan, ya kita bahas nanti di sekitar September waktu bahas RAPBN 2012," katanya.
Selain itu, tidak mungkin juga ada produk, BBM bersubsidi (Premium dan solar), BBM setelah subsidi (Premix) dan BBM non subsidi (pertamax cs). "Masyarakat perlu kejelasan tidak boleh dibuat bingung seperti itu, ide mirip seperti itu, premium bersubsidi dan premium harga keekonomian saja kita tolak mentah-mentah," tandas Satya.
(rrd/hen)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Selasa, 21/05/2013 17:02 WIB
Ingin Kuasai Danamon, DBS Harus Penuhi Syarat Ini
-
Selasa, 21/05/2013 16:55 WIB
Chatib Basri Resmi Jadi Bos Kemenkeu
-
Selasa, 21/05/2013 16:50 WIB
BlackBerry Ilegal Hasil Sidak Gita Wirjawan di Roxy akan Disita
-
Selasa, 21/05/2013 16:25 WIB
Hotel-hotel Unik, dari Bangkai Pesawat Hingga Pabrik Bir (2)
-
Selasa, 21/05/2013 16:17 WIB
Jero Wacik: 1.000 SPBU Nelayan Siap Dibangun Tahun Ini
-
Selasa, 21/05/2013 16:01 WIB
Ini Penyebab HP Ilegal Marak Beredar di Indonesia
-
Selasa, 21/05/2013 14:15 WIB
Ini Kementerian yang Berikan Gaji Paling Tinggi Bagi PNS-nya
-
Selasa, 21/05/2013 15:27 WIB
Dahlan Iskan: Karen Agustiawan Tetap Jadi Dirut Pertamina
-
Selasa, 21/05/2013 14:06 WIB
Gita Wirjawan Akui BlackBerry Q10 dan Z10 Tak Boleh Beredar
-
Selasa, 21/05/2013 16:21 WIB
Hotel-hotel Unik, dari Bangkai Pesawat Hingga Pabrik Bir (2)
-
68 Komentar
-
38 Komentar
-
30 Komentar
-
29 Komentar
-
26 Komentar
-
Kamis, 13/12/2012 10:36 WIB
Wawancara Khusus Oesman Sapta Odang
Mengorek Bos OSO Grup, Si Pemilik Bisnis Jet Pribadi
Oesman Sapta Odang, pendiri OSO Grup yang sukses menggeluti bisnis skala nasional. Kini bisnisnya menggurita mulai dari pertambangan, perkebunan, transportasi, dan properti.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Selasa, 21/05/2013 12:26 WIB
Dahlan Iskan Diserbu 10.000 Guru di Sentul
Usai menjadi pembicara di depan 10.000 guru se-Kabupaten Bogor, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan langsung diserbu oleh peserta. Ada apa ya?
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Selasa, 21/05/2013 11:59 WIB WIB
Gita Wirjawan: Karen Agustiawan Cocok Jadi Kepala BKPM
-
Selasa, 21/05/2013 11:42 WIB WIB
Apple, Perusahaan Termahal Dunia yang Dituding Mengemplang Pajak
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer










