detikfinance

MS Hidayat: Ada Produk RI yang Bisa Bersaing dengan China Tapi Mahal

Hardani Tri Yoga - detikfinance
Kamis, 05/04/2012 13:02 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/04/05/1036/mshidayat-dalam1.jpg
Jakarta - Rendahnya rata-rata tarif bea masuk Indonesia yang hanya 6,8% terkait perdagangan bebas semakin memukul sektor industri dalam negeri. Hanya beberapa produk Indonesia yang mampu bersaing dengan produk negara mitra seperti China, itu pun harganya

Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan dibandingkan negara lain seperti China dan India, Indonesia lebih rendah dalam penerapan tarif bea masuk. Misalnya China menerapkan tarif bea masuk sebesar rata-rata 9,6% dan India 13% dan Brazil hanya 13,7%.

Dampak langsung dari rendahnya bea masuk Indonesia adalah memberatkan sektor industri karena berkompetisi dengan barang impor yang harganya lebih murah. Dengan konsumsi daya beli masyarakat yang besar, banyak negara lain yang mengincar Indonesia sebagai partner dalam perdagangan internasional.

"Selain tarif bea masuk rendah, kita juga masih terkendala dengan belum optimal. Dari segi infrastruktur, logistik, serta sumber daya manusia," kata MS Hidayat di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kamis (5/4/2012).

Hidayat menambahkan saat ini sedikitnya ada sepuluh perundingan liberalisasi perdagangan antara dengan negara mitra. Beberapa perundingan tersebut antara lain Indonesia-Iran, Indonesia-Pakistan, Indonesia-India dan Indonesia-EFTA. Dengan liberalisasi perdangan ini, Indonesia berpeluang membuka akses pasar produk karya lokal di negara-negara mitra.

"Pemberlakukan free trade agreement (FTA) tidak selamanya berdampak positif. Seperti penerapan perjanjian kerjasama Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) yang sontak memukul sektor industri dalam negeri. Idealnya tarif bea masuk kita sudah rendah, jangan diturunkan lagi," ujarnya.

Terkait dampak ACFTA terhadap industri dalam negeri, Kemenperin melakukan kajian antara lain diketahui penyebab rendahnya daya saing terhadap produk China adalah tingginya bahan baku, rendahnya pasokan komponen, ketidakstabilan dan tingginya harga energi, serta faktor permodalan yang sulit.

Pemerintah juga belum mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia terutama dalam penyediaan infrastruktur dan pembiayaan. Selain itu, perusahaan cabang industri yang diteliti mengalami penurunan di bidang produksi, penjualan, dan keuangan.

"Meski demikian ada beberapa cabang industri yang mampu bersaing dengan produk asal China. Walaupun, produk yang dihasilkan memiliki harga lebih tinggi," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kemenperin, Agus Tjahajana Wirakusumah menambahkan belum berhasilnya perundingan multilateral khususnya akses pasar untuk mencapai kesepakatan telah menimbulkan agresifitas yang tinggi dari negara-negara maju untuk membuka pasar di negara berkembang. Ia menambahkan Indonesia memiliki tantangan untuk pengembangan industri di dalam negeri.

Menurutnya, posisi tarif bea masuk Indonesia masih rendah dibandingkan tujuh negara anggota G-20. Dengan rata-rata tarif bea masuk hanya 6,8 persen, Indonesia kalah dibandingkan negara maju lain yang memiliki rata-rata tarif bea masuk lebih tinggi.

"Pertumbuhan industri dalam sepuluh tahun terakhir masih di bawah pertumbuhan ekonomi. Kontribusi sektor industri saat ini hanya 24% dari pertumbuhan ekonomi," paparnya.



(hen/hen)

Sponsored Link


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        
    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Senin, 03/06/2013 10:55 WIB
      Wawancara Khusus Wamentan
      Konsumsi Susu Orang Indonesia Terendah se-ASEAN
      Hari Sabtu, 1 Juni 2013 lalu adalah Hari Susu Nasional. Beberapa fakta miris soal persusuan Indonesia masih sangat nyata. Berikut ini wawancara khusus dengan Wamentan Rusman Heriawan soal nasib persusuan Indonesia.
    • Gb Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
      Prospek Saham di Tahun Politik 2014
      Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?


    Online Trading Academy
    200 USD
    Rp 275.000,-
    How To Make in "Capital market"

    Apakah Anda ingin coba-coba trading for living dengan mencoba peruntungan dari pasar modal?

    Akankah Anda mencoba jadi kaya melalui pasar modal? JANGAN COBA-COBA DI PASAR MODAL!
    BUKTIKAN SENDIRI!

    REGISTRASI OTA