detikfinance

Pedagang & Konsumen Bingung Soal Aturan Pembatasan Rokok

Feby Dwi Sutianto - detikfinance
Minggu, 22/04/2012 16:55 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/04/22/1036/Rokok-dalam.jpg
Jakarta - Pemerintah berencana mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) soal produl tembakau yang salah satu isinya memuat peraturan peringatan bergambar yang besarnya minimal 40% dari kemasan rokok, termasuk larangan dijual eceran, pembatasan iklan luar ruangan maksimal 72 m2 dan lain-lain.

Bagaimana tanggapan para penjual dan konsumen?

Misalnya Reni salah satu pedagang rokok eceran di depan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Jakarta, mengaku tidak tahu dengan rencana penerapan RPP Tembakau tersebut.

Bagi Reni, yang ia khawatirkan adalah jika ada larangan penjualan secara eceran, karena dipastikan akan sangat sulit diterapkan karena sebagian besar konsumennya membeli secara eceran.

"Mana bisa, karena banyak orang ngeteng (beli eceran) kalau bungkus jarang. Lebih banyak ngeteng. Orang bisa beli 2 atau 3 batang. Kalau suruh bungkusan ya nggak bisa. Orang kalau beli rokok (bungkusan) paling murah Rp 10.000," ungkapnya kepada detikFinance, Minggu (22/4/2012).

Secara terpisah Miing, salah satu pedagang yang berjualan rokok di dalam TIM mengaku merasa keberatan kalau penjualan rokok secara eceran dilarang. Kadang-kadang petugas marketing perusahaan rokok malah menganjurkan menjual rokok secara eceran untuk rokok baru agar konsumen bisa mencoba.

"Ya mengurangi penjualan saya," imbuh Miing.

Sementara dari konsumen rokok sendiri merasa tidak berpengaruh dengan iklan rokok bergambar dampak dari merokok di dalam bungkus rokok. Salah satunya Pardi, dia merasa tidak terpengaruh dengan munculnya rencana pembatasan iklan tersebut terhadap kebiasaan merokoknya. Ia malah keberatan dengan larangan menjual rokok secara eceran.

"Saya sering ngeteng. Kalau ngeteng 3 batang. Kalau saya nggak setuju kalau ngecer rokok batangan dilarang," sebut Pardi.

Sementara Rosidi salah satu perokok malah merasa jijik dan bakal mempengaruhi kebiasaan merokoknya jika ada gambar yang menampilkan dampak buruk merokok yang dikemas dalam bungkus rokok. Dia juga agak keberatan jika dilarang membeli rokok secara eceran.

"Kalau saya seringnya beli ngeteng (ngecer). Sesuai kapasitas saya. Kalau saya punya duit, ya beli bungkusan," ungkap Rosidi.



(feb/hen)

Sponsored Link


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        
    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Senin, 03/06/2013 10:55 WIB
      Wawancara Khusus Wamentan
      Konsumsi Susu Orang Indonesia Terendah se-ASEAN
      Hari Sabtu, 1 Juni 2013 lalu adalah Hari Susu Nasional. Beberapa fakta miris soal persusuan Indonesia masih sangat nyata. Berikut ini wawancara khusus dengan Wamentan Rusman Heriawan soal nasib persusuan Indonesia.
    • Gb Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
      Prospek Saham di Tahun Politik 2014
      Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?


    200 USD
    Rp 275.000,-
    How To Make in "Capital market"

    Apakah Anda ingin coba-coba trading for living dengan mencoba peruntungan dari pasar modal?

    Akankah Anda mencoba jadi kaya melalui pasar modal? JANGAN COBA-COBA DI PASAR MODAL!
    BUKTIKAN SENDIRI!

    Info Lebih Lanjut