BPH Migas: Kerugian Negara Rp 183 Triliun/Tahun Tidak Menyesatkan!
Rabu, 25/04/2012 10:29 WIB
Jakarta - Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Qoyum Tjandranegara mengungkapkan negara mengalami kerugian Rp 183 triliun/tahun akibat mengekspor gas bumi. Namun hal tersebut dibantah oleh Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) dan malah dianggap sangat keliru bahkan menyesatkan.
Atas bantahan tersebut membuat Qoyum geram. "Dari mananya yang sangat keliru dan menyesatkan," kata Qoyum kepada detikFinance, Kamis (25/4/2012).
Dikatakan Qoyum dirinya tidak asal bicara dan asal hitung. "Saya ini pioner pembangunan LNG, saya juga yang membangun infrastruktur gas, saya tahu hitungannya dan permainannya," tegas Qoyum yang juga pernah menduduki jabatan Dirut Perusahaan Gas Negara.
Qoyum malah heran bantahan dari BP Migas yang mengungkapkan hitungannya salah salah satunya karena mengasumsikan harga gas rata-rata sama dengan harga minyak yaitu US$ 111/boe, atau setara harga gas rata-rata sekitar US$ 18,5/mmbtu.
"Loh?, saya tanya, harga minyak sama gas mahal mana? Minyak kan sementara kita ekspor gas dengan harga murah untuk mendapatkan minyak yang besarannya sama, itu kan rugi," ucapnya.
Menurut Qoyum antara gas dan minyak sama hanya beda departemen saja. "Justru saya yang bingung, kemarin dia bilang justru harga gas sama karena harga minyak lagi turun gas naik, sekarang bilang tidak bisa disamain. Yang berubah-ubah itu mereka sendiri," imbuh Qoyum.
Dan perlu diingat, untuk produksi minyak Duri, Negara ini dirugikan tidak hanya Rp 3,3 triliun/tahun seperti banyak diberitakan dimedia, tetapi US$ 2,2 miliar/tahun atau setara dengan Rp 19,8 triliun/tahun.
"Negara yang rugi tetapi pihak ketiga yakni Chevron (PT Chevron Pafic Indonesia/CPI) yang untung gede (besar)," ujarnya Qoyum.
"Jadi jangan bilang saya menyesatkan, saya ini pioner dalam pembangunan gas, saya tidak asal ngomong," tandas Qoyum.
Sebelumnya, Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana mengatakan tidak benar bahwa ekspor gas bumi mengakibatkan negara mengalami kerugian Rp 183 triliun.
"Jadi hitung-hitungan yg menyebutkan bahwa ekspor gas merugikan negara hingga Rp.183 triliun/tahun jelas sangat keliru dan menyesatkan," kata Gde kepada detikFinance, Rabu (25/4/2012).
Sebab, kata Gde hitungan tersebut mengasumsikan harga gas rata-rata sama dengan harga minyak (yaitu US$ 111 per barel oil equivalent (boe) atau setara gas rata-rata sekitar US$ 18,5 per mmbtu).
"Sebagai pembanding, harga gas ekspor melalui pipa atau LNG ke pasar Asia-Pasifik saat ini rata-rata sekitar US$ 15 per mmbtu. Itu bisa dicapai jika harga minyak mentah dunia mencapai sekitar $120/barel," jelas Gde.
(rrd/dru)
Atas bantahan tersebut membuat Qoyum geram. "Dari mananya yang sangat keliru dan menyesatkan," kata Qoyum kepada detikFinance, Kamis (25/4/2012).
Dikatakan Qoyum dirinya tidak asal bicara dan asal hitung. "Saya ini pioner pembangunan LNG, saya juga yang membangun infrastruktur gas, saya tahu hitungannya dan permainannya," tegas Qoyum yang juga pernah menduduki jabatan Dirut Perusahaan Gas Negara.
Qoyum malah heran bantahan dari BP Migas yang mengungkapkan hitungannya salah salah satunya karena mengasumsikan harga gas rata-rata sama dengan harga minyak yaitu US$ 111/boe, atau setara harga gas rata-rata sekitar US$ 18,5/mmbtu.
"Loh?, saya tanya, harga minyak sama gas mahal mana? Minyak kan sementara kita ekspor gas dengan harga murah untuk mendapatkan minyak yang besarannya sama, itu kan rugi," ucapnya.
Menurut Qoyum antara gas dan minyak sama hanya beda departemen saja. "Justru saya yang bingung, kemarin dia bilang justru harga gas sama karena harga minyak lagi turun gas naik, sekarang bilang tidak bisa disamain. Yang berubah-ubah itu mereka sendiri," imbuh Qoyum.
Dan perlu diingat, untuk produksi minyak Duri, Negara ini dirugikan tidak hanya Rp 3,3 triliun/tahun seperti banyak diberitakan dimedia, tetapi US$ 2,2 miliar/tahun atau setara dengan Rp 19,8 triliun/tahun.
"Negara yang rugi tetapi pihak ketiga yakni Chevron (PT Chevron Pafic Indonesia/CPI) yang untung gede (besar)," ujarnya Qoyum.
"Jadi jangan bilang saya menyesatkan, saya ini pioner dalam pembangunan gas, saya tidak asal ngomong," tandas Qoyum.
Sebelumnya, Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana mengatakan tidak benar bahwa ekspor gas bumi mengakibatkan negara mengalami kerugian Rp 183 triliun.
"Jadi hitung-hitungan yg menyebutkan bahwa ekspor gas merugikan negara hingga Rp.183 triliun/tahun jelas sangat keliru dan menyesatkan," kata Gde kepada detikFinance, Rabu (25/4/2012).
Sebab, kata Gde hitungan tersebut mengasumsikan harga gas rata-rata sama dengan harga minyak (yaitu US$ 111 per barel oil equivalent (boe) atau setara gas rata-rata sekitar US$ 18,5 per mmbtu).
"Sebagai pembanding, harga gas ekspor melalui pipa atau LNG ke pasar Asia-Pasifik saat ini rata-rata sekitar US$ 15 per mmbtu. Itu bisa dicapai jika harga minyak mentah dunia mencapai sekitar $120/barel," jelas Gde.
(rrd/dru)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Sabtu, 25/05/2013 17:30 WIB
Bos Garuda Belum Tahu Masuk Daftar Calon Kepala BKPM
-
Sabtu, 25/05/2013 16:44 WIB
Masuk Daftar Maskapai Terbaik Dunia, Bos Garuda: Ini Hasil Kerja Keras
-
Sabtu, 25/05/2013 15:50 WIB
Dahlan Iskan Pakai Bahasa Mandarin Ngajar di Peking University
-
Sabtu, 25/05/2013 15:28 WIB
Chairul Tanjung Jadi 'Pak Pos' Dadakan di Korea
-
Sabtu, 25/05/2013 14:41 WIB
Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat, Indonesia Harus Berguru ke Korsel
-
Sabtu, 25/05/2013 16:41 WIB
Masuk Daftar Maskapai Terbaik Dunia, Bos Garuda: Ini Hasil Kerja Keras
-
Sabtu, 25/05/2013 15:47 WIB
Dahlan Iskan Pakai Bahasa Mandarin Ngajar di Peking University
-
Sabtu, 25/05/2013 14:06 WIB
Merpati Masuk Daftar Maskapai Terburuk di Dunia, Ini Tanggapan Bosnya
-
Sabtu, 25/05/2013 17:28 WIB
Bos Garuda Belum Tahu Masuk Daftar Calon Kepala BKPM
-
Sabtu, 25/05/2013 11:10 WIB
Laporan dari Korea Selatan
Indonesia Bisa Maju Seperti Korsel, Apa Kuncinya?
-
34 Komentar
-
33 Komentar
-
29 Komentar
-
22 Komentar
-
21 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Sabtu, 25/05/2013 15:50 WIB
Dahlan Iskan Pakai Bahasa Mandarin Ngajar di Peking University
Menteri BUMN Dahlan Iskan, menjadi dosen tamu di Peking University, Beijing, China. Dahlan menjadi pembicara pada acara yang diselenggarakan PPI di China.
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Jumat, 24/05/2013 16:24 WIB WIB
Bisnis Keripik Jamur Beromzet Rp 500 Juta/Bulan, Berminat?
-
Jumat, 24/05/2013 15:54 WIB WIB
PT DI Jualan Pesawat 'Made in Bandung' ke 6 Negara
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer











