Harga Gas Dinaikkan, RI Dapat Tambahan Rp 67,5 Triliun
Selasa, 08/05/2012 12:47 WIB
Jakarta - Penerimaan negara dari sektor gas bumi berpotensi bertambah US$ 7,5 miliar atau sekitar Rp 67,5 triliun. Ini berasal dari beberapa kontrak perjanjian jual beli gas yang ditandatangani di kantor Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas).
Kepala BP Migas R. Priyono mengatakan, tambahan US$ 7,5 miliar didapat pemerintah sampai akhir kontrak, sementara untuk tahun ini saja, dipastikan ada tambahan Rp 6 triliun.
"Untuk tahun ini saja, tambahan penerimaan negara dipastikan Rp 6 triliun (US$ 665 juta)," kata Priyono dalam sambutannya di acara tersebut yang dihadiri Menteri ESDM Jero Wacik, Jakarta, Selasa (8/5/2012).
Priyono menjelaskan, penandatanganan perjanjian ini menjadi tonggak awal perubahan di industri gas bumi. Ditandai dengan meningkatnya kemampuan pasar domestik untuk membeli gas bumi dengan harga yang lebih tinggi. Terdapat peningkatan harga gas yang cukup signifikan dibandingkan harga sebelumnya.
Dicontohkan harga gas dari lapangan Grissik, Blok Corridor dengan operator ConocoPhillips yang dipasok ke Perusahaan Gas Negara (PGN), naik dari US$ 1,85 per juta British thermal unit (mmBtu) menjadi US$ 5,6 per mmBtu. Dalam kontrak menyebutkan, harga ini akan terus naik bertahap hingga menjadi US$ 6,5 per mmBtu pada 2014.
Begitu pula dengan kontrak gas Pertamina EP Region Sumatera Selatan ke PGN, yang naik dari US$ 2,2 per mmBtu menjadi US$ US$ 5,5 per mmBtu. Kedua belah pihak sepakat, harga ini akan meningkat lagi menjadi US$ 6 per mmBtu pada 2013.
“Kondisi ini menunjukkan sebagian pasar domestik telah memiliki kemampuan untuk membeli gas dengan harga keekonomian,” kata Priyono.
Dia mengungkapkan, untuk mengurangi disparitas harga gas domestik dan ekspor, pemerintah menugaskan BP Migas untuk melakukan renegosiasi harga dengan para pembeli domestik. Tujuannya, meningkatkan gairah kontraktor kontrak kerja sama (KKS) dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi, sekaligus dalam upaya meningkatkan penerimaan negara dari sektor gas.
Menurutnya, harga gas sebelumnya tidak mendorong peningkatan kegiatan hulu migas di tanah air. Dalam jangka panjang, hal itu akan merugikan Indonesia karena menyebabkan banyak lapangan gas yang tidak dikembangkan.
“Paradigma baru ini akan menjamin ketersediaan pasokan gas domestik yang berkesinambungan di masa yang akan datang,” kata Priyono.
Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, BP Migas, Gde Pradnyana menambahkan, ke depan akan semakin banyak proyek yang memproduksikan gas dengan skala besar, seperti proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) dan Muara Bakau di Selat Makassar, proyek lapangan Abadi, Blok Masela, di Maluku Tenggara Barat, pengembangan Tangguh Extension di Papua Barat, serta proyek Natuna Timur di Kepulauan Riau.
Khusus pengembangan proyek IDD, menandai dimulainya era pengembangan gas di laut dalam dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter di Indonesia. Pengembangan seluruh proyek tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit mengingat lokasinya terletak di daerah frontier dan laut dalam. Harga keekonomian gas pun dipastikan akan lebih tinggi.
"Dengan meningkatnya daya beli, produksi gas dari proyek-proyek itu semakin terbuka untuk memenuhi pangsa pasar domestik," kata Gde.
(rrd/dnl)
Kepala BP Migas R. Priyono mengatakan, tambahan US$ 7,5 miliar didapat pemerintah sampai akhir kontrak, sementara untuk tahun ini saja, dipastikan ada tambahan Rp 6 triliun.
"Untuk tahun ini saja, tambahan penerimaan negara dipastikan Rp 6 triliun (US$ 665 juta)," kata Priyono dalam sambutannya di acara tersebut yang dihadiri Menteri ESDM Jero Wacik, Jakarta, Selasa (8/5/2012).
Priyono menjelaskan, penandatanganan perjanjian ini menjadi tonggak awal perubahan di industri gas bumi. Ditandai dengan meningkatnya kemampuan pasar domestik untuk membeli gas bumi dengan harga yang lebih tinggi. Terdapat peningkatan harga gas yang cukup signifikan dibandingkan harga sebelumnya.
Dicontohkan harga gas dari lapangan Grissik, Blok Corridor dengan operator ConocoPhillips yang dipasok ke Perusahaan Gas Negara (PGN), naik dari US$ 1,85 per juta British thermal unit (mmBtu) menjadi US$ 5,6 per mmBtu. Dalam kontrak menyebutkan, harga ini akan terus naik bertahap hingga menjadi US$ 6,5 per mmBtu pada 2014.
Begitu pula dengan kontrak gas Pertamina EP Region Sumatera Selatan ke PGN, yang naik dari US$ 2,2 per mmBtu menjadi US$ US$ 5,5 per mmBtu. Kedua belah pihak sepakat, harga ini akan meningkat lagi menjadi US$ 6 per mmBtu pada 2013.
“Kondisi ini menunjukkan sebagian pasar domestik telah memiliki kemampuan untuk membeli gas dengan harga keekonomian,” kata Priyono.
Dia mengungkapkan, untuk mengurangi disparitas harga gas domestik dan ekspor, pemerintah menugaskan BP Migas untuk melakukan renegosiasi harga dengan para pembeli domestik. Tujuannya, meningkatkan gairah kontraktor kontrak kerja sama (KKS) dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi, sekaligus dalam upaya meningkatkan penerimaan negara dari sektor gas.
Menurutnya, harga gas sebelumnya tidak mendorong peningkatan kegiatan hulu migas di tanah air. Dalam jangka panjang, hal itu akan merugikan Indonesia karena menyebabkan banyak lapangan gas yang tidak dikembangkan.
“Paradigma baru ini akan menjamin ketersediaan pasokan gas domestik yang berkesinambungan di masa yang akan datang,” kata Priyono.
Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, BP Migas, Gde Pradnyana menambahkan, ke depan akan semakin banyak proyek yang memproduksikan gas dengan skala besar, seperti proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) dan Muara Bakau di Selat Makassar, proyek lapangan Abadi, Blok Masela, di Maluku Tenggara Barat, pengembangan Tangguh Extension di Papua Barat, serta proyek Natuna Timur di Kepulauan Riau.
Khusus pengembangan proyek IDD, menandai dimulainya era pengembangan gas di laut dalam dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter di Indonesia. Pengembangan seluruh proyek tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit mengingat lokasinya terletak di daerah frontier dan laut dalam. Harga keekonomian gas pun dipastikan akan lebih tinggi.
"Dengan meningkatnya daya beli, produksi gas dari proyek-proyek itu semakin terbuka untuk memenuhi pangsa pasar domestik," kata Gde.
(rrd/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Selasa, 21/05/2013 13:27 WIB
MS Hidayat: 31 Oktober 2013 Inalum Pasti Kita Ambil Alih
-
Selasa, 21/05/2013 13:25 WIB
Dahlan: Program Direksi BUMN Mengajar Diadakan 2 Kali Setahun
-
Selasa, 21/05/2013 13:18 WIB
Chatib Jadi Menkeu, CT: Dia Bukan Pengurus Partai Jadi Bisa All Out
-
Selasa, 21/05/2013 13:14 WIB
Gaet Senayan City, Bank Mandiri Incar Transaksi Kartu Kredit Rp 500 Miliar
-
Selasa, 21/05/2013 13:09 WIB
MS Hidayat Tepis Kabar Karen Agustiawan Jadi Kepala BKPM
-
Selasa, 21/05/2013 12:25 WIB
Izin Belum Keluar, BlackBerry Q10 dan Z10 Dilarang Beredar di Indonesia
-
Selasa, 21/05/2013 11:12 WIB
Ini Cara 'Menempel' Orang Kaya Agar Jadi Pengusaha Sukses
-
Selasa, 21/05/2013 12:47 WIB
Selain Brimob, 1 Barracuda Disiapkan Hadang Demo di Kantor Jero Wacik
-
Selasa, 21/05/2013 09:52 WIB
Puluhan Brimob Berjaga-jaga di Kantor Jero Wacik, Ada Apa?
-
Selasa, 21/05/2013 12:52 WIB
Dahlan: Chatib Cocok Jadi Menkeu Karena Tidak Ikut Partai
-
68 Komentar
-
38 Komentar
-
30 Komentar
-
29 Komentar
-
26 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Selasa, 21/05/2013 12:26 WIB
Dahlan Iskan Diserbu 10.000 Guru di Sentul
Usai menjadi pembicara di depan 10.000 guru se-Kabupaten Bogor, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan langsung diserbu oleh peserta. Ada apa ya?
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Selasa, 21/05/2013 10:32 WIB WIB
Rata-rata Masyarakat RI Tinggalkan 'Receh' Rp 500 Setiap Hari
-
Selasa, 21/05/2013 10:17 WIB WIB
Hotel-hotel Unik, dari Bangkai Pesawat Hingga Pabrik Bir (1)
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer










