detikfinance

RI Tak Pantas Impor Minyak Lewat Trader, Ini Alasannya

Suhendra - detikfinance
Rabu, 09/05/2012 16:27 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/05/09/1034/tetes-minyak-dalam.jpg
Jakarta - Impor minyak Indonesia yang setiap harinya mencapai ratusan ribu barel yang dilakukan oleh Pertamina melalui para trader dianggap tak menguntungkan. Beberapa kalangan termasuk Menteri BUMN Dahlan Iskan mendorong agar impor minyak bisa dilakukan langsung dari produsennya.

Pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan ada beberapa hal yang menjadi alasan bahwa Pertamina tak seharusnya mengimpor minyak dari trader. Selain faktor harga yang lebih mahal, ada beberapa faktor praktik impor minyak via trader seharusnya dihindari.

"Untuk bisa mendapat harga bagus dan kepastian pasokan, menurut saya mestinya beli langsung ke produsen minyak, tak membeli lewat trader. Yang namanya trader itu kan membeli minyak dari produsen atau bahkan dari trader lainnya, dari sisi harga tentunya lebih mahal, karena impor minyak kita itu bukan sementara tapi permanen dan rutin," katanya kepada detikFinance, Rabu (9/5/2012)

Ia menegaskan menentukan mengimpor melalui trader atau pun produsen minyak sangat tergantung sikap dari pembelinya (pengimpor). Menurutnya dari impor minyak mentah dan BBM yang dilakukan Pertamina, sudah menjadi pilihan terakhir karena produksi minyak Indonesia terus turun sementara kebutuhan terus melonjak, sehingga impor harus dilakukan oleh produsen dengan kontrak jangka panjang dan kepastian suplai.

"Untuk mendapat harga impor yang bagus dan kepastian suplai maka semestinya dari produsen, sekarang ini lebih banyak dari trader, dari informasi yang saya tahu, Petral membeli dari para trader tapi juga mungkin membeli dari produsen," katanya.

Kurtubi juga mengingatkan kadang-kadang publik bisa terkecoh, soal praktik yang dilakukan oleh anak usaha Pertamina yaitu, Petral karena telah membeli BBM kepada perusahaan yang memproduksi minyak. Pada kenyataanya, BBM yang dibeli berasal dari perusahaan trader atau broker yang menggunakan nama perusahaan produsen minyak.

"Meskipun proses pembelian melalui mekanisme tender dan terbuka, tapi sepanjang yang menang tender melalui trader berarti kita belum efisien, secara prosedur sudah benar, mencari penawaran yang paling rendah, tapi ternyata membeli dari pihak lain (trader)," katanya.


(hen/dnl)

Sponsored Link


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        
    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
      Wawancara Direktur Komersial AirAsia
      Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
      PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
    • Gb Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
      Prospek Saham di Tahun Politik 2014
      Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?


    Online Trading Academy Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
    REGISTRASI OTA