Karyawan Bergaji Kurang dari Rp 2,5 Juta Makin Berat Punya Rumah
Jumat, 01/06/2012 10:10 WIB
Jakarta - Keputusan pemerintah menaikkan batas harga rumah tapak dan rusun sederhana akan memupuskan banyak harapan masyarakat berpengsilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah. Berdasarkan hitung-hitungan, orang yang bergaji di bawah Rp 2,5 juta bakal makin sulit punya rumah di segmen sederhana pun.
Direktur eksekutif Indonesia Propderti Watch Ali Tranghanda mengatakan kenyataanya selama ini masyarakat berpenghasilan di bawah itu hanya menjangkau harga rumah di bawah tipe 36 seperti 21, 27 dan 30. Ini konsekuensi adanya ketentuan membangun rumah minimal 36 meter persegi bagi pengembang berdasarkan UU No 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan pemukiman.
"Masyarakat yang di bawah MBR banyak, mereka punya kemampuan di bawah tipe 36. Banyak belum tersentuh yang belum terpikirkan, masyarakat yang gaji Rp 2,5 (per bulan) juta ke bawah, beli tipe 36 nggak bisa, itu makin berat memiliki rumah, di bawah MBR yang belum tersentuh," katanya kepada detikFinance, Jumat (1/6/2012)
Dalam ketentuannya, konsumen yang ingin mendapat fasilitas KPR subsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), untuk rumah tapak maksimal gaji 3,5 juta per bulan, untuk rumah susun Rp 5,5 juta per bulan. Namun menurut Ali, tetap saja masih banyak segmen di bawah MBR yang tak bisa menjangkau untuk membeli rumah.
Menurut Ali kenaikan batas harga rumah dan rusun sesuatu yang tak bisa dihindari, kenyataanya dengan harga lama, rumah tapak hanya dibatasi Rp 70 juta namun batas ukuran rumah sudah naik minimal menjadi 36 meter persegi. Pada posisi ini pengembang tak semangat membangun rumah segmen bawah.
"Kebijakan in mau tak mau harus diambil, ini kebijakan agar FLPP jalan, tipe 36 dengan skema 70 juta, dengan skema itu, nggak jalan, supaya FLPP bisa jalan. Disisi lain ini tak menyelasaikan hunian buat rakyat paling bawah," katanya.
Ali menuturkan dengan penetapan harga baru, dipastikan pengembang akan menggukan harga maksimal untuk mendapat margin yang besar. Misalnya di Jabodetabek harga rumah tapak sederhana naik dari Rp 70 juta menjadi Rp 95 juta.
Ia berpendapat pola semacam ini memicu KPR subsidi tak tepat sasaran, karena kalangan masyarakat MBR yang paling rendah yang hanya sanggup di harga di bawah Rp 70 juta tak mendapatkan kesempatan dapat rumah disisi lain segmen yang lebih atas sebaliknya.
"Tipe 36, di Jabodetebk 80 juta sudah jarang tapi ini harus diambil (menaikan harga batas rumah), tapi ada yang salah sasaran, sejak awal salah DPR saat menyusun UU," katanya.
Ia berharap pemerintah harus punya solusi bagi MBR terbawah. Salah satunya mengalihkan subsidi prasarana dan sarana umum yang diberikan ke pengembang dialihkan menjadi subsidi uang muka. Alasannya dengan harga batas baru, maka uang muka KPR rumah subsidi makin besar.
(hen/ang)
Direktur eksekutif Indonesia Propderti Watch Ali Tranghanda mengatakan kenyataanya selama ini masyarakat berpenghasilan di bawah itu hanya menjangkau harga rumah di bawah tipe 36 seperti 21, 27 dan 30. Ini konsekuensi adanya ketentuan membangun rumah minimal 36 meter persegi bagi pengembang berdasarkan UU No 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan pemukiman.
"Masyarakat yang di bawah MBR banyak, mereka punya kemampuan di bawah tipe 36. Banyak belum tersentuh yang belum terpikirkan, masyarakat yang gaji Rp 2,5 (per bulan) juta ke bawah, beli tipe 36 nggak bisa, itu makin berat memiliki rumah, di bawah MBR yang belum tersentuh," katanya kepada detikFinance, Jumat (1/6/2012)
Dalam ketentuannya, konsumen yang ingin mendapat fasilitas KPR subsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), untuk rumah tapak maksimal gaji 3,5 juta per bulan, untuk rumah susun Rp 5,5 juta per bulan. Namun menurut Ali, tetap saja masih banyak segmen di bawah MBR yang tak bisa menjangkau untuk membeli rumah.
Menurut Ali kenaikan batas harga rumah dan rusun sesuatu yang tak bisa dihindari, kenyataanya dengan harga lama, rumah tapak hanya dibatasi Rp 70 juta namun batas ukuran rumah sudah naik minimal menjadi 36 meter persegi. Pada posisi ini pengembang tak semangat membangun rumah segmen bawah.
"Kebijakan in mau tak mau harus diambil, ini kebijakan agar FLPP jalan, tipe 36 dengan skema 70 juta, dengan skema itu, nggak jalan, supaya FLPP bisa jalan. Disisi lain ini tak menyelasaikan hunian buat rakyat paling bawah," katanya.
Ali menuturkan dengan penetapan harga baru, dipastikan pengembang akan menggukan harga maksimal untuk mendapat margin yang besar. Misalnya di Jabodetabek harga rumah tapak sederhana naik dari Rp 70 juta menjadi Rp 95 juta.
Ia berpendapat pola semacam ini memicu KPR subsidi tak tepat sasaran, karena kalangan masyarakat MBR yang paling rendah yang hanya sanggup di harga di bawah Rp 70 juta tak mendapatkan kesempatan dapat rumah disisi lain segmen yang lebih atas sebaliknya.
"Tipe 36, di Jabodetebk 80 juta sudah jarang tapi ini harus diambil (menaikan harga batas rumah), tapi ada yang salah sasaran, sejak awal salah DPR saat menyusun UU," katanya.
Ia berharap pemerintah harus punya solusi bagi MBR terbawah. Salah satunya mengalihkan subsidi prasarana dan sarana umum yang diberikan ke pengembang dialihkan menjadi subsidi uang muka. Alasannya dengan harga batas baru, maka uang muka KPR rumah subsidi makin besar.
(hen/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Rabu, 19/06/2013 14:40 WIB
Caplok Bank di Filipina, CIMB Selangkah Lagi Jadi Penguasa ASEAN
-
Rabu, 19/06/2013 14:36 WIB
50 Ribu Unit Mobil Murah Siap Dijual Tahun Ini
-
Rabu, 19/06/2013 14:28 WIB
Minta Anak Buah Serap Anggaran 97%, Jokowi: Kalau Tak Tercapai Langsung Berhenti!
-
Rabu, 19/06/2013 14:27 WIB
Perumnas Siap Bangunan Kawasan Perumahan 400 Hektar di Maja Banten
-
Rabu, 19/06/2013 14:16 WIB
Rogoh Rp 10 T, Orang Terkaya China Bangun Menara Tertinggi di London
-
Rabu, 19/06/2013 13:31 WIB
Sebulan Freeport Setop Operasi, Ini Dampak Bagi Daerah Mimika
-
Rabu, 19/06/2013 11:45 WIB
Dahlan Iskan Kunjungi Silvia di Kramat Jati, Siapa Dia?
-
Rabu, 19/06/2013 11:16 WIB
Sempat Jadi Pembersih Tinja, Gita Wirjawan: Banyak yang Pikir Saya Mulai Hidup Enak
-
Rabu, 19/06/2013 12:20 WIB
Telkom Vision Rugi 16 Tahun, Dahlan: Bodoh Banget Kalau Tidak Dijual
-
Rabu, 19/06/2013 11:18 WIB
Hary Tanoe Beli ANTV Rp 4,7 Triliun?
-
79 Komentar
-
75 Komentar
-
70 Komentar
-
63 Komentar
-
56 Komentar
-
Senin, 03/06/2013 10:55 WIB
Wawancara Khusus Wamentan
Konsumsi Susu Orang Indonesia Terendah se-ASEAN
Hari Sabtu, 1 Juni 2013 lalu adalah Hari Susu Nasional. Beberapa fakta miris soal persusuan Indonesia masih sangat nyata. Berikut ini wawancara khusus dengan Wamentan Rusman Heriawan soal nasib persusuan Indonesia.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Rabu, 19/06/2013 12:28 WIB
Ini Dia 10 Orang Kaya yang Pernah Jadi Pencuri (2)
Jadi orang kaya atau konglomerat memang punya banyak harta dan mampu memiliki segalanya. Namun, beberapa orang kaya ini pernah mencuri sesuatu dan menjadi pengutil.
Online Trading Academy
How To Make in "Capital market"
200 USD
Rp 275.000,-
Apakah Anda ingin coba-coba trading for living dengan mencoba peruntungan dari pasar modal?
Akankah Anda mencoba jadi kaya melalui pasar modal?
JANGAN COBA-COBA DI PASAR MODAL!
BUKTIKAN SENDIRI!
MustRead
close
-
Rabu, 19/06/2013 10:38 WIB WIB
Dahlan Ngelawak Soal Daging Impor
-
Rabu, 19/06/2013 10:40 WIB WIB
Tak Jual Bensin Premium, Pemerintah Malaysia Subsidi BBM Sekelas Pertamax Plus
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


_6.gif)








