detikfinance

MS Hidayat: Negara Penghasil SDA Sering Jadi Pecundang, Indonesia Jangan!

Rista Rama Dhany - detikfinance
Rabu, 13/06/2012 14:04 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/06/13/1036/140446_pusingdalam.jpg
Jakarta - Kebijakan pemerintah yang menerapkan bea keluar atau pajak ekspor barang tambang mentah mendapat protes banyak pihak termasuk Jepang. Namun pemerintah tidak ingin Indonesia jadi pecundang.

Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan, banyak negara penghasil sumber daya alam (SDA) pada akhirnya menjadi pecundang karena SDA-nya dikeruk habis-habis secara mentah oleh pihak luar.

Dikatakan Hidayat, ada teori kutukan ekonomi bagi negara penghadil SDA. Karena penghasil SDA malas mengelolanya dan akhirnya dikeruk pihak lain tanpa memberikan nilai tambah.

"Seringkali negara penghasil SDA hanya mengambil jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan dengan hanya mengeruk lalu diekspor langsung tanpa mau sedikit usaha untuk mengelola," tegas Hidayat di kantornya, Jalan Gator Subroto, Jakarta, Rabu (13/6/2012).

Nanti setelah semua SDA-nya habis, apa yang terjadi? Negara penghasil SDA tersebut akan ditinggalkan investornya, hilang pendapatan besarnya dan ujung-ujungnya tidak mampu mensejahterakan rakyatnya.

"Setelah habis, mereka ditinggalkan, negara tersebut hanya akan jadi pecundang, apakah Indonesia mau seperti itu?," ucapnya.

Dikatakan Hidayat, tentunya Indonesia tidak ingin seperti itu, Indonesia jangan sampai jadi pecundang, mulai saat ini harus berusaha keras untuk mengelola sendiri SDA-nya, tingkatkan nilai tambah.

"Makanya pemerintah mengkeluarkan aturan larangan ekspor bahan mentah pada 2014, kenakan bea keluar, contoh saja seperti Tiongkok susah sekali kalau mau ekspor bahan mentah, bea, pajak ini itu dan banyak lagi, kita ingin lakukan hal yang sama, tujuannya untuk mensejahterakan rakyat," ujarnya.

Kalau industri hilirnya berkembang, Indonesia memiliki nilai tambah sangat besar, tercipta lapangan kerja.

"Contoh kalau kita ekspor bijih nikel, diolah negara lain menjadi stainles, kita beli itu harganya naik menjadi 105 kali dari harga bahan bakunya," tandasnya.

Hal ini disampaikan Hidayat berkaitan dengan protes Jepang ke WTO terkait aturan pajak ekspor bahan tambang mentah yang diberlakukan pemerintah Indonesia. Kebijakan ini membuat smelter di Jepang terancam 'menganggur' karena selama ini mendapat pasokan dari Indonesia. Padahal pemerintah berniat agar industri smelter di Indonesia bisa berkembang dan memberikan nilai tambah ekonomi.



(rrd/dnl)

Sponsored Link


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        
    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Kamis, 13/12/2012 10:36 WIB
      Wawancara Khusus Oesman Sapta Odang
      Mengorek Bos OSO Grup, Si Pemilik Bisnis Jet Pribadi
      Oesman Sapta Odang, pendiri OSO Grup yang sukses menggeluti bisnis skala nasional. Kini bisnisnya menggurita mulai dari pertambangan, perkebunan, transportasi, dan properti.
    • Gb Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
      Prospek Saham di Tahun Politik 2014
      Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?


    Online Trading Academy Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
    REGISTRASI OTA