detikfinance

Orang Kaya AS Makin Tajir, Orang Miskin Makin Ketinggalan

Metta Pranata - detikfinance
Kamis, 14/06/2012 11:20 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/06/14/4/dolarreutersdalam.jpg
Jakarta - Laporan terakhir dari Federal Reserve mengungkapkan bahwa harta kekayaan kelas menengah anjlok lebih dari sepertiga sepanjang 2007–2010. Sedangkan harta kekayaan kelas atas yang populasinya hanya sekitar 1% dari populasi warga AS, tumbuh sebanyak 2%.

Data statistik ini tak perlu diragukan lagi akan menyulut situasi politik dari kaum oposisi bahwa kalangan kaya memperoleh keuntungan dari kelas menengah dan sistem ekonomi pemerintahan yang membela orang kaya. Padahal sebenarnya, di balik semua ini ada alasan ekonomi yang lebih sederhana.

Seperti dilansir dari CNBC, Kamis (14/6/2012), kalangan kaya punya proporsi kekayaan di saham lebih banyak daripada properti. Saham dan investasi finansial telah rebound, sementara rumah belum. Data terakhir Fed tidak merinci portfolio 2010 setiap grup. Data tersebut akan keluar akhir bulan ini.

Seperti diketahui, pada 2009 lalu, hanya 10% harta kalangan super kaya yang disimpan di properti. Harta mereka lebih banyak ada di investasi finansial, sekitar 38%, termasuk 9% pada saham.

Kelas menengah dan menengah ke atas, atau mereka yang berada di kisaran 50 – 90% memiliki lebih dari separuh harta mereka di properti. Harta di investasi finansial kurang dari 1/3 dan di saham hanya 1,6%.

Saham dan investasi finansial lainnya kini makin mendekati puncak pra-resesinya. Harga pasaran rumah masih di bawah nilai puncak, sekitar 3 atau beberapa kali lipat lagi dari harga sebelum krisis.

Bukan berarti kalangan kaya lebih pintar daripada kalangan lain. Faktanya, pada masa terburuk resesi, populasi kalangan super kaya berkurang jauh seiring ambruknya bursa saham. Namun kaum 1% ini masih punya surplus harta yang tidak terikat dengan rumah mereka. Hal ini memungkinkan mereka punya uang lebih di investasi finansial.

Dalam kata lain, kaum 1% memiliki lebih dari 60% saham yang dimiliki warga-warga AS secara individual. Ketika pasar naik, mereka yang paling diuntungkan. Ketika perumahan turun, mereka yang paling tidak merasakannya.

Lagi-lagi, banyak yang memperdebatkan politik di balik perbedaan ini. Padahal faktanya, sebagian besar warga Amerika tidak punya banyak harta selain rumah mereka. Inilah penyebab mereka tidak cepat merasakan kebangkitan di pasar finansial.



(ang/ang)

Sponsored Link


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        
    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Senin, 03/06/2013 10:55 WIB
      Wawancara Khusus Wamentan
      Konsumsi Susu Orang Indonesia Terendah se-ASEAN
      Hari Sabtu, 1 Juni 2013 lalu adalah Hari Susu Nasional. Beberapa fakta miris soal persusuan Indonesia masih sangat nyata. Berikut ini wawancara khusus dengan Wamentan Rusman Heriawan soal nasib persusuan Indonesia.
    • Gb Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
      Prospek Saham di Tahun Politik 2014
      Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?


    Online Trading Academy
    200 USD
    Rp 275.000,-
    How To Make in "Capital market"

    Apakah Anda ingin coba-coba trading for living dengan mencoba peruntungan dari pasar modal?

    Akankah Anda mencoba jadi kaya melalui pasar modal? JANGAN COBA-COBA DI PASAR MODAL!
    BUKTIKAN SENDIRI!

    REGISTRASI OTA