Harga Gas Naik, PGN Klaim Tak Ambil Untung
Minggu, 24/06/2012 16:40 WIB
Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk mengaku tidak mengambil margin lebih besar pasca kenaikan harga gas yang diberlakukannya per 15 Mei 2012. Bahkan perusahaan ini menyatakan masih merugi untuk membeli gas di beberapa perusahaan hulu.
"Mesti diluruskan kita tidak ambil keuntungan, margin masih yang lama, tol fee sudah US$ 1,47 sisanya itu margin Rp 750 per meter kubik. Jadi kami tetap margin lama, itu tidak berubah," ujar Direktur Utama PT PGN Tbk Hendi Prio Santoso dalam bincang wartawan di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Minggu (24/6/2012).
Bahkan, lanjut Hendi, saat ini pihaknya masih merugi dengan beberapa perusahaan hulu dalam membeli gas.
"Misalnya dengan Conocco Phillips, kalau kita hitung harga dengan Conocco yang tadinya US$ 1,85 menjadi US$ 5,6 ada selisih US$ 3,8. Lalu harga jual PGN tadinya US$ 6,7 menjadi US$ 10,1, selisihnya US$ 3,6, artinya kita naik US$3,6 masih ada sekitar 2 sen selisihnya dengan harga beli. Artinya kita sudah subsidi, sudah nombok," ujarnya.
PGN membeli gas paling banyak dari Conocco Phillips. Komposisinya sekitar 64 persen. Sementara itu sebanyak 21 persen dari Pertamina Pagardewa dan 5 persen dari Pertamina Jawa Barat. Kemudian 5 persen dari Medco Lematang, 4 persen dari Medco Keramasan, dan Ellipse sebanyak 1 persen.
"Jadi kalau Conocco dan Pertamina tidak naik, kami tidak akan menyesuaikan harga," ujarnya. Hendi sendiri mengaku pihaknya bisa saja menahan kenaikan harga gasnya hingga kapanpun, asalkan harga gas di hulu juga masih ditahan.
Hendi mengaku pihaknya bisa saja tidak melakukan penyesuaian harga, asalkan perusahaan penjual gas di hulu, tidak menaikkan harganya.
"Yang kewajiban minta (penyesuaian harga) itu BP Migas bukan kami. Kita bisa saja menahan harga sampai kapan pun asal sinkron dengan hulu. Tapi kalau hulu naik duluan, kita yang semakin bleeding," tegasnya.
Untuk itu, lanjut Hendi, pihak PGN harus menyesuaikan harga gas tersebut.
"PGN ini bukan departemen sosial, tapi BUMN yang tidak boleh rugi dan harus memberikan dividen kepada pemerintah," pungkasnya.
Sebelumnya, PGN mengaku mendapatkan restu dari BP Migas untuk menaikkan harga gas tersebut. Namun, BP Migas membantah hal tersebut.
BP Migas juga beranggapan PGN hanya mementingkan pengaliran gas miliknya ketimbang perusahaan lain.
"Pipa transmisi yang semestinya open access (terbuka) lebih diprioritaskan melayani kepentingan bisnis trading-nya(niaga) dulu sebelum memberikan akses kepada pihak lain yang hanya ingin membayar toll-fee (ongkos angkut) dari pipa itu," kata Juru Bicara BP Migas, Gde Pradnyana.
Menurut Gd, kondisi tersebut akibat rangkap posisi PGN yang menjalankan fungsi pengangkutan (transporter) sekaligus niaga (trader) gas bumi melalui pipa.
Persoalan hilir yang tidak efisien lalu dibebankan ke hulu. PGN diharapkan memposisikan dirinya sebagai 'transporter' saja, sehingga tata niaga gas menjadi lebih efisien.
"PGN yang semestinya menjadi transporter, tapi dengan fasilitas jaringan transmisi pipa yang dimilikinya malah memposisikan diri sebagai trader," katanya.
(nia/dru)
"Mesti diluruskan kita tidak ambil keuntungan, margin masih yang lama, tol fee sudah US$ 1,47 sisanya itu margin Rp 750 per meter kubik. Jadi kami tetap margin lama, itu tidak berubah," ujar Direktur Utama PT PGN Tbk Hendi Prio Santoso dalam bincang wartawan di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Minggu (24/6/2012).
Bahkan, lanjut Hendi, saat ini pihaknya masih merugi dengan beberapa perusahaan hulu dalam membeli gas.
"Misalnya dengan Conocco Phillips, kalau kita hitung harga dengan Conocco yang tadinya US$ 1,85 menjadi US$ 5,6 ada selisih US$ 3,8. Lalu harga jual PGN tadinya US$ 6,7 menjadi US$ 10,1, selisihnya US$ 3,6, artinya kita naik US$3,6 masih ada sekitar 2 sen selisihnya dengan harga beli. Artinya kita sudah subsidi, sudah nombok," ujarnya.
PGN membeli gas paling banyak dari Conocco Phillips. Komposisinya sekitar 64 persen. Sementara itu sebanyak 21 persen dari Pertamina Pagardewa dan 5 persen dari Pertamina Jawa Barat. Kemudian 5 persen dari Medco Lematang, 4 persen dari Medco Keramasan, dan Ellipse sebanyak 1 persen.
"Jadi kalau Conocco dan Pertamina tidak naik, kami tidak akan menyesuaikan harga," ujarnya. Hendi sendiri mengaku pihaknya bisa saja menahan kenaikan harga gasnya hingga kapanpun, asalkan harga gas di hulu juga masih ditahan.
Hendi mengaku pihaknya bisa saja tidak melakukan penyesuaian harga, asalkan perusahaan penjual gas di hulu, tidak menaikkan harganya.
"Yang kewajiban minta (penyesuaian harga) itu BP Migas bukan kami. Kita bisa saja menahan harga sampai kapan pun asal sinkron dengan hulu. Tapi kalau hulu naik duluan, kita yang semakin bleeding," tegasnya.
Untuk itu, lanjut Hendi, pihak PGN harus menyesuaikan harga gas tersebut.
"PGN ini bukan departemen sosial, tapi BUMN yang tidak boleh rugi dan harus memberikan dividen kepada pemerintah," pungkasnya.
Sebelumnya, PGN mengaku mendapatkan restu dari BP Migas untuk menaikkan harga gas tersebut. Namun, BP Migas membantah hal tersebut.
BP Migas juga beranggapan PGN hanya mementingkan pengaliran gas miliknya ketimbang perusahaan lain.
"Pipa transmisi yang semestinya open access (terbuka) lebih diprioritaskan melayani kepentingan bisnis trading-nya(niaga) dulu sebelum memberikan akses kepada pihak lain yang hanya ingin membayar toll-fee (ongkos angkut) dari pipa itu," kata Juru Bicara BP Migas, Gde Pradnyana.
Menurut Gd, kondisi tersebut akibat rangkap posisi PGN yang menjalankan fungsi pengangkutan (transporter) sekaligus niaga (trader) gas bumi melalui pipa.
Persoalan hilir yang tidak efisien lalu dibebankan ke hulu. PGN diharapkan memposisikan dirinya sebagai 'transporter' saja, sehingga tata niaga gas menjadi lebih efisien.
"PGN yang semestinya menjadi transporter, tapi dengan fasilitas jaringan transmisi pipa yang dimilikinya malah memposisikan diri sebagai trader," katanya.
(nia/dru)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Selasa, 21/05/2013 13:18 WIB
Chatib Jadi Menkeu, CT: Dia Bukan Pengurus Partai Jadi Bisa All Out
-
Selasa, 21/05/2013 13:14 WIB
Gaet Senayan City, Bank Mandiri Incar Transaksi Kartu Kredit Rp 500 Miliar
-
Selasa, 21/05/2013 13:09 WIB
MS Hidayat Tepis Kabar Karen Agustiawan Jadi Kepala BKPM
-
Selasa, 21/05/2013 13:06 WIB
Tak Lagi Rangkap Jabatan Menkeu, Hatta: Saya Jadi Agak Rileks
-
Selasa, 21/05/2013 12:56 WIB
Dahlan: Chatib Cocok Jadi Menkeu Karena Tidak Ikut Partai
-
Selasa, 21/05/2013 12:25 WIB
Izin Belum Keluar, BlackBerry Q10 dan Z10 Dilarang Beredar di Indonesia
-
Selasa, 21/05/2013 11:12 WIB
Ini Cara 'Menempel' Orang Kaya Agar Jadi Pengusaha Sukses
-
Selasa, 21/05/2013 12:47 WIB
Selain Brimob, 1 Barracuda Disiapkan Hadang Demo di Kantor Jero Wacik
-
Selasa, 21/05/2013 09:52 WIB
Puluhan Brimob Berjaga-jaga di Kantor Jero Wacik, Ada Apa?
-
Selasa, 21/05/2013 10:41 WIB
Mengintip Gaji Pejabat Komnas HAM dan KPPU, Paling Tinggi Rp 30 Juta
-
68 Komentar
-
38 Komentar
-
30 Komentar
-
29 Komentar
-
26 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Selasa, 21/05/2013 12:26 WIB
Dahlan Iskan Diserbu 10.000 Guru di Sentul
Usai menjadi pembicara di depan 10.000 guru se-Kabupaten Bogor, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan langsung diserbu oleh peserta. Ada apa ya?
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Selasa, 21/05/2013 10:32 WIB WIB
Rata-rata Masyarakat RI Tinggalkan 'Receh' Rp 500 Setiap Hari
-
Selasa, 21/05/2013 10:17 WIB WIB
Hotel-hotel Unik, dari Bangkai Pesawat Hingga Pabrik Bir (1)
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer










