Wawancara Khusus
Uang Tunai Makin Ditinggalkan, Bagaimana Nasib Perum Peruri?
Rabu, 04/07/2012 11:48 WIB
Jakarta - Cashless society alias transaksi tanpa uang tunai/non tunai semakin menjamur di masyarakat. Selain praktis, cashless society dianggap jadi solusi aman dibandingkan membawa lembaran uang dalam jumlah banyak.
Di beberapa negara maju, katakanlah negara di Eropa dan AS, hampir sebagian besar transaksi yang terjadi dilakukan secara non tunai. Di sana, hampir jarang dijumpai adanya transaksi yang menggunakan uang tunai, terlebih apabila nilainya cukup besar.
Selaku regulator perbankan, Bank Indonesia (BI) menyatakan dukungan terhadap cashless society karena biaya pencetakan uang cukup mahal, bahkan kedua termahal setelah anggaran operasi moneter BI.
Lalu bagaimana nasib Perum Peruri, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki salah satu fungsi mencetak uang rupiah? Pola transaksi baru masyarakat ini apakah menggerus bisnis Peruri atau bahkan membuatnya lebih maju dengan strategi bisnis inovatif baru?
Berikut wawancara detikFinance dengan Direktur Utama Peruri, Junino Jahja di sela-sela kesibukannya di Jakarta, Rabu (4/7/2012).
Peruri dikenal sebagai perusahaan pencetak uang pesanan Bank Indonesia. Dengan cashless society apakah mempengaruhi pola pemesanan uang dari regulator perbankan Indonesia ini?
Memang sekarang jamannya masyarakat tanpa uang (cashless society). Sehingga pesanan uang dari Bank Indonesia sedikit berkurang. Bukan dari sisi jumlah namun waktu cetak menjadi mundur, tidak lagi di awal tahun.
Memang berapa rata-rata Bank Indonesia memesan uang ke Peruri?
Untuk tahun 2012, Bank Indonesia pesan 6,2 miliar lembar uang. Namun jumlah lembarnya saya tidak ingat. Yang saya maksud pesanan berkurang, Bank Indonesia tahun ini baru cetak bulan April lalu karena persediaan uang mereka masih cukup.
Apa strategi Peruri dalam menghadapi tekanan pengurangan pesanan cetak uang dari Bank Indonesia?
Tantangan utama kita yang sudah ditemui tahun-tahun sebelumnya adalah teknologi. Masyarakat tren sudah ada ePayment. Payment bukan cuma uang, juga ada elektronik passpor, elektronik cukai dan itu kita produksi.
Jadi Peruri mesti ke sana. Kita akan membentuk anak usaha ePayment, namanya Peruri Digital Security atau disingkat (PDS). Anak usaha ini akan memproduksi ePayment, eCukai, ePasspor. kita sudah memulainya sebagai anak usaha di bidang business electronic solution.
PDS sebagai anak usaha baru akan menjadi penopang bisnis Peruri di kemudian hari?
Untuk saat ini business electronic solution menjadi kombinasi bisnis dari percetakan yang ada sekarang. Namun ke depan, dia bisa dapat lebih besar seiring makin berkembangnya masyarakat tanpa uang cash tadi.
Lagi pula, Indonesia memang latah (dalam bertransaksi eMoney) dan pemakaian internet di Indonesia tinggi sekali. Saya saja keluar uang cash seminggu sekali, waktu di Masjid, sisanya pakai Kredit Kredit dan Internet (Banking).
Pembenahan internal Peruri dengan adanya bisnis baru ini, seperti apa?
Modal tentu kami akan penyertaan langsung di anak usah baru ini. Jumlahnya besar karena tantangan yang tadi saya sudah sebut, teknologi.
Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), kita tingkatkan kemampuannya. Kita akan mencarai SDM yang pakar IT (Information Technology) dan pakar Security. Kita juga terus melakukan efisiensi serta mengembangkan teknologi-teknologi baru yang lebih murah.
Peruri yang sekarang sudah beda dengan yang dulu karena punya pekerjaan rumah besar dalam menjawab pola transaksi yang ada di masyarakat saat ini?
Memang, selain memproduksi uang Peruri akan kehilangan hak monopolinya. Seperti pada cukai, passpor dan buku tanah. Ini menjadi tantangan meski masalahnya (Peruri) belum biasa bersaing.
Apakah rencana pengembangan anak usaha bidang ePayment ini sudah diketahui Menteri BUMN, Dahlan Iskan?
Kita dalam setiap melakukan apa sudah lapor ke Kementerian. Namun memang belum pernah rapat khusus mengenai itu (Peruri) dengan pak Menteri.
Untuk bisnis as usual dalam mencetak uang, selain mengandalkan pesanan Bank Indonesia, Peruri menerima pesanan dari pihak lain?
Kita rencana ikut tender baru untuk Nepal tahun ini, setelah tahun lalu kami juga cetak uang negara Nepal. Selain Nepal tender juga kami lakukan di satu negara di Amerika Selatan. Tentu semua aspek akan dilihat, termasuk keamanan.
Khusus pengamanan, produksi uang rupiah kami canggih jadi sangat sulit dipalsukan. Feature uang kita banyak dan dikatakan salah satu terbaik di dunia setelah Swiss Franc dan mata uang Euro. Bahkan (pengamanan) US dollar dan Yen (Jepang) di bawah kita.
Uang Tunai Makin Ditinggalkan, Bagaimana Nasib Perum Peruri?
(wep/dru)
Di beberapa negara maju, katakanlah negara di Eropa dan AS, hampir sebagian besar transaksi yang terjadi dilakukan secara non tunai. Di sana, hampir jarang dijumpai adanya transaksi yang menggunakan uang tunai, terlebih apabila nilainya cukup besar.
Selaku regulator perbankan, Bank Indonesia (BI) menyatakan dukungan terhadap cashless society karena biaya pencetakan uang cukup mahal, bahkan kedua termahal setelah anggaran operasi moneter BI.
Lalu bagaimana nasib Perum Peruri, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki salah satu fungsi mencetak uang rupiah? Pola transaksi baru masyarakat ini apakah menggerus bisnis Peruri atau bahkan membuatnya lebih maju dengan strategi bisnis inovatif baru?
Berikut wawancara detikFinance dengan Direktur Utama Peruri, Junino Jahja di sela-sela kesibukannya di Jakarta, Rabu (4/7/2012).
Peruri dikenal sebagai perusahaan pencetak uang pesanan Bank Indonesia. Dengan cashless society apakah mempengaruhi pola pemesanan uang dari regulator perbankan Indonesia ini?
Memang sekarang jamannya masyarakat tanpa uang (cashless society). Sehingga pesanan uang dari Bank Indonesia sedikit berkurang. Bukan dari sisi jumlah namun waktu cetak menjadi mundur, tidak lagi di awal tahun.
Memang berapa rata-rata Bank Indonesia memesan uang ke Peruri?
Untuk tahun 2012, Bank Indonesia pesan 6,2 miliar lembar uang. Namun jumlah lembarnya saya tidak ingat. Yang saya maksud pesanan berkurang, Bank Indonesia tahun ini baru cetak bulan April lalu karena persediaan uang mereka masih cukup.
Apa strategi Peruri dalam menghadapi tekanan pengurangan pesanan cetak uang dari Bank Indonesia?
Tantangan utama kita yang sudah ditemui tahun-tahun sebelumnya adalah teknologi. Masyarakat tren sudah ada ePayment. Payment bukan cuma uang, juga ada elektronik passpor, elektronik cukai dan itu kita produksi.
Jadi Peruri mesti ke sana. Kita akan membentuk anak usaha ePayment, namanya Peruri Digital Security atau disingkat (PDS). Anak usaha ini akan memproduksi ePayment, eCukai, ePasspor. kita sudah memulainya sebagai anak usaha di bidang business electronic solution.
PDS sebagai anak usaha baru akan menjadi penopang bisnis Peruri di kemudian hari?
Untuk saat ini business electronic solution menjadi kombinasi bisnis dari percetakan yang ada sekarang. Namun ke depan, dia bisa dapat lebih besar seiring makin berkembangnya masyarakat tanpa uang cash tadi.
Lagi pula, Indonesia memang latah (dalam bertransaksi eMoney) dan pemakaian internet di Indonesia tinggi sekali. Saya saja keluar uang cash seminggu sekali, waktu di Masjid, sisanya pakai Kredit Kredit dan Internet (Banking).
Pembenahan internal Peruri dengan adanya bisnis baru ini, seperti apa?
Modal tentu kami akan penyertaan langsung di anak usah baru ini. Jumlahnya besar karena tantangan yang tadi saya sudah sebut, teknologi.
Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), kita tingkatkan kemampuannya. Kita akan mencarai SDM yang pakar IT (Information Technology) dan pakar Security. Kita juga terus melakukan efisiensi serta mengembangkan teknologi-teknologi baru yang lebih murah.
Peruri yang sekarang sudah beda dengan yang dulu karena punya pekerjaan rumah besar dalam menjawab pola transaksi yang ada di masyarakat saat ini?
Memang, selain memproduksi uang Peruri akan kehilangan hak monopolinya. Seperti pada cukai, passpor dan buku tanah. Ini menjadi tantangan meski masalahnya (Peruri) belum biasa bersaing.
Apakah rencana pengembangan anak usaha bidang ePayment ini sudah diketahui Menteri BUMN, Dahlan Iskan?
Kita dalam setiap melakukan apa sudah lapor ke Kementerian. Namun memang belum pernah rapat khusus mengenai itu (Peruri) dengan pak Menteri.
Untuk bisnis as usual dalam mencetak uang, selain mengandalkan pesanan Bank Indonesia, Peruri menerima pesanan dari pihak lain?
Kita rencana ikut tender baru untuk Nepal tahun ini, setelah tahun lalu kami juga cetak uang negara Nepal. Selain Nepal tender juga kami lakukan di satu negara di Amerika Selatan. Tentu semua aspek akan dilihat, termasuk keamanan.
Khusus pengamanan, produksi uang rupiah kami canggih jadi sangat sulit dipalsukan. Feature uang kita banyak dan dikatakan salah satu terbaik di dunia setelah Swiss Franc dan mata uang Euro. Bahkan (pengamanan) US dollar dan Yen (Jepang) di bawah kita.
Uang Tunai Makin Ditinggalkan, Bagaimana Nasib Perum Peruri?
(wep/dru)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Rabu, 22/05/2013 21:39 WIB
Apa Kabar Mobil Nasional? Tak Satupun Pengusaha Besar Mau Beri Modal
-
Rabu, 22/05/2013 21:20 WIB
RI Bergantung Minyak Impor, MS Hidayat: Importir Makin Besar Untungnya
-
Rabu, 22/05/2013 19:10 WIB
Ekspansi Intraco Penta di Kalimantan
-
Rabu, 22/05/2013 18:48 WIB
Rp 64 Triliun Lenyap, Wanita Ini Tetap Jadi yang Terkaya di Australia
-
Rabu, 22/05/2013 18:38 WIB
Ini Alasan Bos PT KAI Tak Gusur Minimarket di Stasiun Kereta
-
Rabu, 22/05/2013 18:39 WIB
Rp 64 Triliun Lenyap, Wanita Ini Tetap Jadi yang Terkaya di Australia
-
Rabu, 22/05/2013 12:56 WIB
Bos Majalah Porno Beli Rumah Rp 48 Miliar, Kado Untuk Istri Baru
-
Rabu, 22/05/2013 21:39 WIB
Apa Kabar Mobil Nasional? Tak Satupun Pengusaha Besar Mau Beri Modal
-
Rabu, 22/05/2013 18:38 WIB
Ini Alasan Bos PT KAI Tak Gusur Minimarket di Stasiun Kereta
-
Rabu, 22/05/2013 15:14 WIB
Perusahaan Taksi Ini Jual Mobil Bekas Rp 7,5 Juta
-
38 Komentar
-
25 Komentar
-
22 Komentar
-
21 Komentar
-
19 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Rabu, 22/05/2013 18:48 WIB
Rp 64 Triliun Lenyap, Wanita Ini Tetap Jadi yang Terkaya di Australia
Pengusaha tambang raksasa Gina Rinehart telah kehilangan kekayaan AUD 7 miliar (US$ 6,8 miliar) atau sekitar Rp 64 triliun tahun lalu. Meski begitu, Rinehart tetap jadi orang terkaya di Australia.
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Rabu, 22/05/2013 16:01 WIB WIB
Perbanas Ungkap Alasan Soal Gencarnya Bank Singapura Akuisisi Bank Lokal
-
Rabu, 22/05/2013 15:46 WIB WIB
Sudah Terpasang AC, Harga Tiket Kereta Jarak Jauh Kelas 3 Naik 175%
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


_2.gif)







