detikfinance

PGN 'Ditelanjangi', Dahlan Iskan Kok Diam Saja

Rista Rama Dhany - detikfinance
Senin, 09/07/2012 09:53 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/07/09/1034/095545_144324gas.jpg
Jakarta - Pengamat BUMN, Muhammad Said Didu mempertanyakan para pemegang saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terutama Menteri BUMN Dahlan Iskan yang hanya diam melihat PGN 'ditelangjangi' oleh swasta hingga badan pemerintah.

"Ke mana Dahlan Iskan? Ke mana Wakil Menteri Keuangan yang merupakan para pemegang saham di PGN melihat PGN begitu ditelanjangi' berbagai pihak mulai dari non korporasi hingga badan pemerintahan, kok diam saja, tidak ada suara pembelaannya," kata Said kepada detikFinance, Senin (9/7/2012).

Menurut Said, sebagai pemegang saham, seharusnya Dahlan dan pihak pemerintah lainnya berpihak terhadap aksi korporasi yang dilakukan PGN, bukannya membiarkan dan menganggap itu masalah direksi (korporasi).

"Bandingkan dengan Freeport, saat perusahaan itu diganggu, tidak hanya induknya yang turun tangan (Freeport McMoran), tetapi Amerika Serikat langsung turun tangan, ada apa sebenarnya ini," kata Said.

Apalagi kata Said, seolah-olah terjadi suatu skenario di balik penelanjangan PGN kali ini, ini bisa dilihat dari Kementerian ESDM, Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), dan lainnya begitu mengeroyok PGN.

"Ada apa ini, ada skenario apa di balik sikap mereka? PGN sebagai salah satu BUMN harusnya dilindungi, kita harus selamatkan PGN dari skenario di balik ini semua, dan saya yakin ada maksud jelek di balik polemik harga gas baik di hulu maupun di hilir," tandasnya.

Saat ini polemik rencana kenaikan harga gas oleh PGN terus bergulir. Pemerintah memutuskan agar PGN membatalkan kenaikan harga gas 55% kepada industri. PGN diminta menaikkan harga gas 50%, itupun dilakukan secara bertahap setelah lebaran nanti.

Menanggapi putusan ini, PGN melontarkan permintaan agar harga gas di hulu ikuti dinaikkan. Namun hal ini menimbulkan 'perlawanan' dari pihak Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) yang menyatakan tak pantas PGN meminta hal tersebut.

Bahkan, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana mengatakan, selama ini BP Migas mencatat harga gas di hulu sangat rendah sementara di hilir cukup besar, artinya PGN telah menikmati marjin yang sangat besar.

Menurut Gde, penguasaan sebagian besar pipa transmisi gas oleh PGN membuatnya bertindak monopoli dan berani mengambil marjin terlalu besar ke pelanggannya di sektor hilir.

Seketaris Perusahaan PGN Heri Yusuf menepis tudingan monopoli dan mengambil untung besar terkait harga gas, dan meminta perusahaannya jangan 'obok-obok' karena tidak merugikan negara.

"Janganlah mengobok-obok perusahaan yang sedang bagus-bagusnya, di mana perusahaan tersebut sama sekali merugikan dan membebani negara, apalagi sebagian besar kepemilikan PGN dikuasai negara," kata Heri.



(rrd/dnl)

Sponsored Link


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        
    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    BeritaTerbaru Index »
    • Gb Senin, 03/06/2013 10:55 WIB
      Wawancara Khusus Wamentan
      Konsumsi Susu Orang Indonesia Terendah se-ASEAN
      Hari Sabtu, 1 Juni 2013 lalu adalah Hari Susu Nasional. Beberapa fakta miris soal persusuan Indonesia masih sangat nyata. Berikut ini wawancara khusus dengan Wamentan Rusman Heriawan soal nasib persusuan Indonesia.
    • Gb Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
      Prospek Saham di Tahun Politik 2014
      Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?


    200 USD
    Rp 275.000,-
    How To Make in "Capital market"

    Apakah Anda ingin coba-coba trading for living dengan mencoba peruntungan dari pasar modal?

    Akankah Anda mencoba jadi kaya melalui pasar modal? JANGAN COBA-COBA DI PASAR MODAL!
    BUKTIKAN SENDIRI!

    Info Lebih Lanjut