PGN 'Ditelanjangi', Dahlan Iskan Kok Diam Saja
Senin, 09/07/2012 09:53 WIB
Jakarta - Pengamat BUMN, Muhammad Said Didu mempertanyakan para pemegang saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terutama Menteri BUMN Dahlan Iskan yang hanya diam melihat PGN 'ditelangjangi' oleh swasta hingga badan pemerintah.
"Ke mana Dahlan Iskan? Ke mana Wakil Menteri Keuangan yang merupakan para pemegang saham di PGN melihat PGN begitu ditelanjangi' berbagai pihak mulai dari non korporasi hingga badan pemerintahan, kok diam saja, tidak ada suara pembelaannya," kata Said kepada detikFinance, Senin (9/7/2012).
Menurut Said, sebagai pemegang saham, seharusnya Dahlan dan pihak pemerintah lainnya berpihak terhadap aksi korporasi yang dilakukan PGN, bukannya membiarkan dan menganggap itu masalah direksi (korporasi).
"Bandingkan dengan Freeport, saat perusahaan itu diganggu, tidak hanya induknya yang turun tangan (Freeport McMoran), tetapi Amerika Serikat langsung turun tangan, ada apa sebenarnya ini," kata Said.
Apalagi kata Said, seolah-olah terjadi suatu skenario di balik penelanjangan PGN kali ini, ini bisa dilihat dari Kementerian ESDM, Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), dan lainnya begitu mengeroyok PGN.
"Ada apa ini, ada skenario apa di balik sikap mereka? PGN sebagai salah satu BUMN harusnya dilindungi, kita harus selamatkan PGN dari skenario di balik ini semua, dan saya yakin ada maksud jelek di balik polemik harga gas baik di hulu maupun di hilir," tandasnya.
Saat ini polemik rencana kenaikan harga gas oleh PGN terus bergulir. Pemerintah memutuskan agar PGN membatalkan kenaikan harga gas 55% kepada industri. PGN diminta menaikkan harga gas 50%, itupun dilakukan secara bertahap setelah lebaran nanti.
Menanggapi putusan ini, PGN melontarkan permintaan agar harga gas di hulu ikuti dinaikkan. Namun hal ini menimbulkan 'perlawanan' dari pihak Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) yang menyatakan tak pantas PGN meminta hal tersebut.
Bahkan, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana mengatakan, selama ini BP Migas mencatat harga gas di hulu sangat rendah sementara di hilir cukup besar, artinya PGN telah menikmati marjin yang sangat besar.
Menurut Gde, penguasaan sebagian besar pipa transmisi gas oleh PGN membuatnya bertindak monopoli dan berani mengambil marjin terlalu besar ke pelanggannya di sektor hilir.
Seketaris Perusahaan PGN Heri Yusuf menepis tudingan monopoli dan mengambil untung besar terkait harga gas, dan meminta perusahaannya jangan 'obok-obok' karena tidak merugikan negara.
"Janganlah mengobok-obok perusahaan yang sedang bagus-bagusnya, di mana perusahaan tersebut sama sekali merugikan dan membebani negara, apalagi sebagian besar kepemilikan PGN dikuasai negara," kata Heri.
(rrd/dnl)
"Ke mana Dahlan Iskan? Ke mana Wakil Menteri Keuangan yang merupakan para pemegang saham di PGN melihat PGN begitu ditelanjangi' berbagai pihak mulai dari non korporasi hingga badan pemerintahan, kok diam saja, tidak ada suara pembelaannya," kata Said kepada detikFinance, Senin (9/7/2012).
Menurut Said, sebagai pemegang saham, seharusnya Dahlan dan pihak pemerintah lainnya berpihak terhadap aksi korporasi yang dilakukan PGN, bukannya membiarkan dan menganggap itu masalah direksi (korporasi).
"Bandingkan dengan Freeport, saat perusahaan itu diganggu, tidak hanya induknya yang turun tangan (Freeport McMoran), tetapi Amerika Serikat langsung turun tangan, ada apa sebenarnya ini," kata Said.
Apalagi kata Said, seolah-olah terjadi suatu skenario di balik penelanjangan PGN kali ini, ini bisa dilihat dari Kementerian ESDM, Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), dan lainnya begitu mengeroyok PGN.
"Ada apa ini, ada skenario apa di balik sikap mereka? PGN sebagai salah satu BUMN harusnya dilindungi, kita harus selamatkan PGN dari skenario di balik ini semua, dan saya yakin ada maksud jelek di balik polemik harga gas baik di hulu maupun di hilir," tandasnya.
Saat ini polemik rencana kenaikan harga gas oleh PGN terus bergulir. Pemerintah memutuskan agar PGN membatalkan kenaikan harga gas 55% kepada industri. PGN diminta menaikkan harga gas 50%, itupun dilakukan secara bertahap setelah lebaran nanti.
Menanggapi putusan ini, PGN melontarkan permintaan agar harga gas di hulu ikuti dinaikkan. Namun hal ini menimbulkan 'perlawanan' dari pihak Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) yang menyatakan tak pantas PGN meminta hal tersebut.
Bahkan, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana mengatakan, selama ini BP Migas mencatat harga gas di hulu sangat rendah sementara di hilir cukup besar, artinya PGN telah menikmati marjin yang sangat besar.
Menurut Gde, penguasaan sebagian besar pipa transmisi gas oleh PGN membuatnya bertindak monopoli dan berani mengambil marjin terlalu besar ke pelanggannya di sektor hilir.
Seketaris Perusahaan PGN Heri Yusuf menepis tudingan monopoli dan mengambil untung besar terkait harga gas, dan meminta perusahaannya jangan 'obok-obok' karena tidak merugikan negara.
"Janganlah mengobok-obok perusahaan yang sedang bagus-bagusnya, di mana perusahaan tersebut sama sekali merugikan dan membebani negara, apalagi sebagian besar kepemilikan PGN dikuasai negara," kata Heri.
(rrd/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 24/05/2013 15:40 WIB
Djokir Belum Bisa Pastikan Nasib Jembatan Selat Sunda
-
Jumat, 24/05/2013 15:31 WIB
Pesan Bos OJK ke Gubernur BI Agus Marto
-
Jumat, 24/05/2013 15:30 WIB
RI Jadikan Kesemek Sebagai Buah Unggulan
-
Jumat, 24/05/2013 15:25 WIB
Tawaran Kemitraan Bisnis Rendang Kering Ala 'Dunia Rendang'
-
Jumat, 24/05/2013 15:04 WIB
Agus Marto Jadi Bos BI, Ini Harapan Para Bankir
-
Jumat, 24/05/2013 14:31 WIB
6 Pengusaha Arab Cantik Paling Berpengaruh dari Timur Tengah
-
Jumat, 24/05/2013 13:40 WIB
Kisah Jepang Paksa Warganya Beralih dari Kendaraan Pribadi ke Transportasi Massal
-
Jumat, 24/05/2013 13:42 WIB
Bagaimana Nasib Rp 1.000 Jadi Rp 1 di Tangan Gubernur BI Baru Agus Marto?
-
Jumat, 24/05/2013 14:15 WIB
'Indonesia Seharusnya Bisa Jadi Negara Hebat'
-
Jumat, 24/05/2013 14:17 WIB
Jabat BI-1, Agus Marto Buka Suara Soal Akuisisi Danamon oleh DBS Group
-
40 Komentar
-
36 Komentar
-
33 Komentar
-
26 Komentar
-
22 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Jumat, 24/05/2013 14:35 WIB
6 Pengusaha Arab Cantik Paling Berpengaruh dari Timur Tengah
Tak mau ketinggalan, Arabian Business juga ikut merilis daftar serupa yang bertajuk 100 Wanita Arab Paling Berpengaruh di Dunia.
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Jumat, 24/05/2013 11:13 WIB WIB
MS Hidayat: Calon Kepala BKPM Salah Satunya Bos Garuda Emirsyah Satar
-
Jumat, 24/05/2013 10:53 WIB WIB
Daya Saing Barang Made In RI Masih di Bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


_2.gif)







