detikfinance

Bos PLN Bingung, Perusahaan Tambang Ogah Patungan Bangun Smelter

Rista Rama Dhany - detikfinance
Senin, 06/08/2012 14:03 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/08/06/1034/140806_082507tpabrik4.jpg
Jakarta - Direktur Utama PT PLN (persero) Nur Pamudji mengaku, tidak mengerti pola pikir para pemilik perusahaan tambang yang ramai-ramai membangun pabrik pengolahan (smelter). Sejatinya adanya satu smelter cukup namun dengan pola konsorsium.

"Saya kok heran ya, kenapa banyak perusahaan tambang ramai-ramai bangun pabrik smelter sendiri-sendiri. Kenapa tidak secara konsorsium atau ramai-ramai bangun jadi satu pabrik saja?" kata Nur Pamudji usai penandatanganan MoU dengan empat perusahaan tambang Nikel di Kantor PLN Pusat, Senin (6/8/2012).

Ia menambahkan, dengan pola keroyokan dalam pembangunan smelter menjadi lebih praktis, tidak terpencar, dan hasil pengolahan hasil tambang bisa langsung dikirim luar negeri.

"Kalau dibangun satu secara konsorsium kan sekalian besar lebih praktis, yang punya tambang tinggal pasok hasil tambangnya dan minta di-smelterin. Dengan begitu lebih praktis, tidak terpencar, dan bisa dibangun di satu lokasi misalnya di Jawa Timur saja," ucapnya.

Dengan pemusatan smelter, misal di Jawa Timur, hasil tambang di seluruh Indonesia bisa dikirim langsung untuk diolah kembali. Setelah itu baru di ekspor.

"Kalau alasannya jauh daerahnya, misal dari Sumatera ke Jawa Timur, kan biasanya hasil tambang dikirim ke China pakai kapal tongkang. Jadi apa susahnya kirim dulu ke Jatim," ujarnya.

Diakui Nur jika tidak ada proses pengolahan, setiap hasil tambang yang diekspor ibarat seperti mengirim 'tanah air Indonesia'. "Hasil tambang mentah atau tanah benar-benar dikirim langsung tanpa diolah lagi. Padahal didalamnya banyak terkandung bahan mineral lainnya yang kalau diolah lagi akan memberikan nilai tambah yang cukup besar," tukasnya.

Sebelumnya, dengan adanya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan Mineral dan Batubara dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2012 tentang pelarangan ekspor bahan tambang mentah. Dimana mewajibkan industri tambang wajib mengolah hasil tambang dan memurnikan hasil tambang dalam negeri sebelum di ekspor.




(rrd/wep)

Sponsored Link


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        
    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
      Wawancara Direktur Komersial AirAsia
      Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
      PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
    • Gb Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
      Prospek Saham di Tahun Politik 2014
      Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
    • Gb Selasa, 21/05/2013 12:26 WIB
      Dahlan Iskan Diserbu 10.000 Guru di Sentul
      Usai menjadi pembicara di depan 10.000 guru se-Kabupaten Bogor, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan langsung diserbu oleh peserta. Ada apa ya?


    Online Trading Academy Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
    REGISTRASI OTA