Megawati Institute: Ekonomi Tumbuh 6,4%, Cari Kerja Masih Susah
Rabu, 08/08/2012 08:59 WIB
Jakarta - Direktur Eksekutif Megawati Institute Arif Budimanta mengatakan di balik tingginya angka pertumbuhan ekonomi RI ternyata menyisakan keprihatinan dan problem sosial di tengah masyarakat, yaitu sulitnya memperoleh pekerjaan dan kemiskinan.
“Secara makro pertumbuhan 6,4% itu cukup baik tetapi menjadi kurang berarti karena ternyata problem sosial masyarakat tidak banyak berkurang, orang masih sulit memperoleh pekerjaan yang layak dan penurunan angka kemiskinan juga masih lambat” ungkap Arif kepada detikFinance, Rabu (8/8/2012).
Anggota komisi XI DPR RI ini juga menjelaskan jika kualitas pertumbuhan Indonesia masih perlu diperbaiki agar kesejahteraan masyarakat ikut meningkat.
"Jika dalam beberapa tahun kedepan para elit tetap bergembira dengan kualitas petumbuhan yang seperti sekarang, maka kesenjangan akan menjadi sangat tinggi dan akan menimbulkan masalah sosial yang lebih besar” tambahnya.
Dalam penjelasannya Badan Pusat Statistik (BPS) juga menjelaskan bahwa lebih dari 50% struktur pertumbuhan Indonesia masih disumbang dari sektor konsumsi rumah tangga sedangkan pertumbuhan ekspor lebih rendah dibandingkan impor.
"Indonesia dapat tetap tumbuh ditengah krisis keuangan global tidak seperti negara-negara yang perekonomiannya maju dan bertumpu pada ekspor," katanya.
Namun ia juga mengingatkan bahwa kondisi perekonomian yang bertumpu pada konsumsi ini tidak baik karena hanya memiliki efek pengganda (Multiplier Effect) yang rendah.
"Indonesia harus segera mendorong investasinya khususnya untuk sektor-sektor yang padat karya, jadi selain kita akan memperleh efek pengganda yang tinggi juga akan menciptakan lapangan pekerjaan," tutupnya.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II mencapai 6,4%. Hal tersebut mendapat respons positif dari Presiden Republik Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan SBY menilai pertumbuhan tersebut masih bisa tembus lebih tinggi.
(feb/ang)
“Secara makro pertumbuhan 6,4% itu cukup baik tetapi menjadi kurang berarti karena ternyata problem sosial masyarakat tidak banyak berkurang, orang masih sulit memperoleh pekerjaan yang layak dan penurunan angka kemiskinan juga masih lambat” ungkap Arif kepada detikFinance, Rabu (8/8/2012).
Anggota komisi XI DPR RI ini juga menjelaskan jika kualitas pertumbuhan Indonesia masih perlu diperbaiki agar kesejahteraan masyarakat ikut meningkat.
"Jika dalam beberapa tahun kedepan para elit tetap bergembira dengan kualitas petumbuhan yang seperti sekarang, maka kesenjangan akan menjadi sangat tinggi dan akan menimbulkan masalah sosial yang lebih besar” tambahnya.
Dalam penjelasannya Badan Pusat Statistik (BPS) juga menjelaskan bahwa lebih dari 50% struktur pertumbuhan Indonesia masih disumbang dari sektor konsumsi rumah tangga sedangkan pertumbuhan ekspor lebih rendah dibandingkan impor.
"Indonesia dapat tetap tumbuh ditengah krisis keuangan global tidak seperti negara-negara yang perekonomiannya maju dan bertumpu pada ekspor," katanya.
Namun ia juga mengingatkan bahwa kondisi perekonomian yang bertumpu pada konsumsi ini tidak baik karena hanya memiliki efek pengganda (Multiplier Effect) yang rendah.
"Indonesia harus segera mendorong investasinya khususnya untuk sektor-sektor yang padat karya, jadi selain kita akan memperleh efek pengganda yang tinggi juga akan menciptakan lapangan pekerjaan," tutupnya.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II mencapai 6,4%. Hal tersebut mendapat respons positif dari Presiden Republik Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan SBY menilai pertumbuhan tersebut masih bisa tembus lebih tinggi.
(feb/ang)
Baca Juga
Foto Video Terkait
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Sabtu, 25/05/2013 17:30 WIB
Bos Garuda Belum Tahu Masuk Daftar Calon Kepala BKPM
-
Sabtu, 25/05/2013 16:44 WIB
Masuk Daftar Maskapai Terbaik Dunia, Bos Garuda: Ini Hasil Kerja Keras
-
Sabtu, 25/05/2013 15:50 WIB
Dahlan Iskan Pakai Bahasa Mandarin Ngajar di Peking University
-
Sabtu, 25/05/2013 15:28 WIB
Chairul Tanjung Jadi 'Pak Pos' Dadakan di Korea
-
Sabtu, 25/05/2013 14:41 WIB
Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat, Indonesia Harus Berguru ke Korsel
-
Sabtu, 25/05/2013 16:41 WIB
Masuk Daftar Maskapai Terbaik Dunia, Bos Garuda: Ini Hasil Kerja Keras
-
Sabtu, 25/05/2013 15:47 WIB
Dahlan Iskan Pakai Bahasa Mandarin Ngajar di Peking University
-
Sabtu, 25/05/2013 14:06 WIB
Merpati Masuk Daftar Maskapai Terburuk di Dunia, Ini Tanggapan Bosnya
-
Sabtu, 25/05/2013 17:28 WIB
Bos Garuda Belum Tahu Masuk Daftar Calon Kepala BKPM
-
Sabtu, 25/05/2013 11:10 WIB
Laporan dari Korea Selatan
Indonesia Bisa Maju Seperti Korsel, Apa Kuncinya?
-
34 Komentar
-
33 Komentar
-
29 Komentar
-
22 Komentar
-
20 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Sabtu, 25/05/2013 15:50 WIB
Dahlan Iskan Pakai Bahasa Mandarin Ngajar di Peking University
Menteri BUMN Dahlan Iskan, menjadi dosen tamu di Peking University, Beijing, China. Dahlan menjadi pembicara pada acara yang diselenggarakan PPI di China.
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Jumat, 24/05/2013 16:24 WIB WIB
Bisnis Keripik Jamur Beromzet Rp 500 Juta/Bulan, Berminat?
-
Jumat, 24/05/2013 15:54 WIB WIB
PT DI Jualan Pesawat 'Made in Bandung' ke 6 Negara
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer











