Tambang Emas Hitam di Tanah Borneo Untuk Negara
Kamis, 09/08/2012 07:44 WIB
Banjarmasin - Sekitar 200 km dari Banjarmasin dapat ditemui sebuah lubang besar, luasnya hampir 2500 hektar. Itulah tambang batu bara terbesar milik PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang terletak di Kecamatan Tanjung, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Nama blok tambang batu bara itu adalah Tutupan.
Dari dua blok tambang lain yang dimiliki PT Adaro Energy, yaitu Paringin dan Wara, Tutupan memberikan kontribusi batu bara terbesar bagi perusahaan tambang ini. Ketebalan batubara di Tutupan umumnya mencapai 10 sampai 50 meter dengan kemiringan lapisan sekitar 45 – 50 derajat.
"Terlihat garis-garis hitam yang miring, itu adalah batu bara. Kalau dihitung-hitung, total batu bara yang ada di sini itu sekitar 125 meter ke dalamannya, jadi meskipun ditimbun tanah, tetap akan berlubang. Lubang tambang tidak akan tertutup seperti semula namun sebagiannya akan difungsikan sesuai kebutuhan. Misalnya untuk wisata air dan lainnya," ujar Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy, Devindra Ratzarwin dalam kunjungan ke Tambang Tutupan, Tanjung, Banjarmasin, Rabu (8/8/2012).
Tambang ini tidak terpisah jauh dari perumahan warga yang mayoritas bekerja sebagai petani karet. Namun, arus tambang ini memiliki jalur sendiri yang terpisah dari jalan umum milik warga sekitar sehingga tidak mengganggu kehidupan penduduk.
Luas kawasan tambang ini sendiri mencapai 5.000 hektar termasuk beberapa pos untuk menimbun batu bara yang telah dikeruk. Batu bara yang sudah dikeruk dari tambang dimasukkan ke dumptruck untuk diletakkan ke tempat penyimpanan untuk kemudian diambila oleh truk gandeng ke pelabuhan.
Di pelabuhan, pecahan batu bara ini kemudian disamakan ukurannya sekitar 5 cm dengan sebuah alat. Kemudian barulah batu bara tersebut dimasukkan ke kapal tongkang untuk menyeberangi sungai selama hampir 36 jam untuk sampai ke laut. Dari sana, batu bara-batu bara ini disalurkan ke negara-negara pengekspor.
Ciri khas dari batu bara di tambang Tutupan ini adalah batu bara tersebut tidak menghasilkan gas-gas yang berbahaya karena kandungan sulfurnya yang rendah. Inilah yang membuat PT Adaro mengklaim batu bara miliknya itu sebagai “Envirocoal” yaitu batubara ramah lingkungan.
"Kalau terlalu banyak sulfur maka dapat menyebabkan hujan asam, sedangkan kadar sulfur dalam batu bara ini hanya 0,01 persen, sementara yang lain mencapai 4 persen. Selain itu, abunya juga sedikit hanya 2-3 persen. Hal ini berarti sisa pembakarannya tidak banyak," ujarnya.
Devindra menambahkan untuk mengelola tambang tersebut ditariklah sekitar 70 persen lebih pegawai lokal. Maksudnya, pegawai kelahiran Kalimantan.
"Berdasarkan data Desember 2011, terdapat 20 ribu tenaga kerja di tambang ini. Lebih 70 persennya lokal, jadi kalau ibunya Jawa, bapakny Sumatera, tapi anaknya lahir di Kalimantan, itu bisa dibilang lokal," ujarnya.
Sementara itu, untuk penduduk sekitar yang bertani karet, perusahaan tambang ini juga turut memberikan bibit unggul karet.
Devindra pun menyatakan PT Adaro telah memenuhi Domestic Market Obligation untuk memenuhi keperluan batu bara dalam negeri yang dipatok sekitar 25-30 persen dalam perjanjian dengan pemerintah.
"Ada yang kita suplai ke PLTU Jawa Bali dan Industri semen serta pulp," jelasnya.
Perusahaan ini pun juga mengklaim patuh membayar kewajiban berupa pajak dan royalti kepada pemerintah. Berdasarkan data kuartal I tahun ini, kontribusi kepada negara berupa pajak dan royalti sekitar 70 persen dari labanya.
"Ada sekitar 13,5% diberikan kepada pemerintah dalam bentuk royalti dan 45% pajak penghasilan, ini kita berikan kepada pemerintah, katakanlah secara ilustrasi, kami menghitung hampir 70% diberikan kepada pemerintah, kami dan pemegang saham hanya menikmati 30% dari yang dihasilkan," jelas Presiden Direktur PT Adaro Garibaldi Thohir usai RUPS di Jakarta, beberapa bulan lalu.
Untuk tahun 2011, Garibaldi menyatakan telah memberikan Pajak Penghasilan US$ 450,5 juta dan royalti sebesar US$ 405,4 juta. Totalnya setara Rp 7,7 triliun.
"Secara gambaran besar kami bayar royalti dan pajak dan dana-dana CSR hampir US$ 900 juta dolar pada tahun 2011. Itulah kontribusi kami sebagai perusahaan Indonesia, kami ingin jadi perusahaan terkemuka di mining dan energi," tandasnya.
(nia/ang)
Dari dua blok tambang lain yang dimiliki PT Adaro Energy, yaitu Paringin dan Wara, Tutupan memberikan kontribusi batu bara terbesar bagi perusahaan tambang ini. Ketebalan batubara di Tutupan umumnya mencapai 10 sampai 50 meter dengan kemiringan lapisan sekitar 45 – 50 derajat.
"Terlihat garis-garis hitam yang miring, itu adalah batu bara. Kalau dihitung-hitung, total batu bara yang ada di sini itu sekitar 125 meter ke dalamannya, jadi meskipun ditimbun tanah, tetap akan berlubang. Lubang tambang tidak akan tertutup seperti semula namun sebagiannya akan difungsikan sesuai kebutuhan. Misalnya untuk wisata air dan lainnya," ujar Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy, Devindra Ratzarwin dalam kunjungan ke Tambang Tutupan, Tanjung, Banjarmasin, Rabu (8/8/2012).
Tambang ini tidak terpisah jauh dari perumahan warga yang mayoritas bekerja sebagai petani karet. Namun, arus tambang ini memiliki jalur sendiri yang terpisah dari jalan umum milik warga sekitar sehingga tidak mengganggu kehidupan penduduk.
Luas kawasan tambang ini sendiri mencapai 5.000 hektar termasuk beberapa pos untuk menimbun batu bara yang telah dikeruk. Batu bara yang sudah dikeruk dari tambang dimasukkan ke dumptruck untuk diletakkan ke tempat penyimpanan untuk kemudian diambila oleh truk gandeng ke pelabuhan.
Di pelabuhan, pecahan batu bara ini kemudian disamakan ukurannya sekitar 5 cm dengan sebuah alat. Kemudian barulah batu bara tersebut dimasukkan ke kapal tongkang untuk menyeberangi sungai selama hampir 36 jam untuk sampai ke laut. Dari sana, batu bara-batu bara ini disalurkan ke negara-negara pengekspor.
Ciri khas dari batu bara di tambang Tutupan ini adalah batu bara tersebut tidak menghasilkan gas-gas yang berbahaya karena kandungan sulfurnya yang rendah. Inilah yang membuat PT Adaro mengklaim batu bara miliknya itu sebagai “Envirocoal” yaitu batubara ramah lingkungan.
"Kalau terlalu banyak sulfur maka dapat menyebabkan hujan asam, sedangkan kadar sulfur dalam batu bara ini hanya 0,01 persen, sementara yang lain mencapai 4 persen. Selain itu, abunya juga sedikit hanya 2-3 persen. Hal ini berarti sisa pembakarannya tidak banyak," ujarnya.
Devindra menambahkan untuk mengelola tambang tersebut ditariklah sekitar 70 persen lebih pegawai lokal. Maksudnya, pegawai kelahiran Kalimantan.
"Berdasarkan data Desember 2011, terdapat 20 ribu tenaga kerja di tambang ini. Lebih 70 persennya lokal, jadi kalau ibunya Jawa, bapakny Sumatera, tapi anaknya lahir di Kalimantan, itu bisa dibilang lokal," ujarnya.
Sementara itu, untuk penduduk sekitar yang bertani karet, perusahaan tambang ini juga turut memberikan bibit unggul karet.
Devindra pun menyatakan PT Adaro telah memenuhi Domestic Market Obligation untuk memenuhi keperluan batu bara dalam negeri yang dipatok sekitar 25-30 persen dalam perjanjian dengan pemerintah.
"Ada yang kita suplai ke PLTU Jawa Bali dan Industri semen serta pulp," jelasnya.
Perusahaan ini pun juga mengklaim patuh membayar kewajiban berupa pajak dan royalti kepada pemerintah. Berdasarkan data kuartal I tahun ini, kontribusi kepada negara berupa pajak dan royalti sekitar 70 persen dari labanya.
"Ada sekitar 13,5% diberikan kepada pemerintah dalam bentuk royalti dan 45% pajak penghasilan, ini kita berikan kepada pemerintah, katakanlah secara ilustrasi, kami menghitung hampir 70% diberikan kepada pemerintah, kami dan pemegang saham hanya menikmati 30% dari yang dihasilkan," jelas Presiden Direktur PT Adaro Garibaldi Thohir usai RUPS di Jakarta, beberapa bulan lalu.
Untuk tahun 2011, Garibaldi menyatakan telah memberikan Pajak Penghasilan US$ 450,5 juta dan royalti sebesar US$ 405,4 juta. Totalnya setara Rp 7,7 triliun.
"Secara gambaran besar kami bayar royalti dan pajak dan dana-dana CSR hampir US$ 900 juta dolar pada tahun 2011. Itulah kontribusi kami sebagai perusahaan Indonesia, kami ingin jadi perusahaan terkemuka di mining dan energi," tandasnya.
(nia/ang)
Baca Juga
Foto Video Terkait
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Rabu, 19/06/2013 16:57 WIB
Jelang Harga Naik, Pembelian BBM di Jatim Melonjak
-
Rabu, 19/06/2013 16:44 WIB
Bank Mestika Bidik Salurkan Kredit Rp 5,9 Triliun di 2013
-
Rabu, 19/06/2013 16:37 WIB
Renegosiasi Kontrak Tak Kunjung Deal, Ini Kata Bos Freeport
-
Rabu, 19/06/2013 16:16 WIB
Aksi Ambil Untung Ramai Lagi, IHSG Berkurang 33 Poin
-
Rabu, 19/06/2013 16:04 WIB
Bos Chevron Bertemu Wapres Boediono Bahas Rencana Investasi
-
Rabu, 19/06/2013 15:02 WIB
Janji Serap Anggaran, Pejabat Tinggi DKI Ini Rela Disembelih Jokowi
-
Rabu, 19/06/2013 14:28 WIB
Minta Anak Buah Serap Anggaran 97%, Jokowi: Kalau Tak Tercapai Langsung Berhenti!
-
Rabu, 19/06/2013 14:31 WIB
50 Ribu Unit Mobil Murah Siap Dijual Tahun Ini
-
Rabu, 19/06/2013 15:35 WIB
Laporan dari Kuala Lumpur
Bos Besar Ingin CIMB Niaga Jadi Bank Terbesar, Kalahkan Malaysia
-
Rabu, 19/06/2013 15:19 WIB
Rumah Tahan Gempa Ini Bisa Dibangun dalam Seminggu
-
79 Komentar
-
75 Komentar
-
70 Komentar
-
63 Komentar
-
56 Komentar
-
Senin, 03/06/2013 10:55 WIB
Wawancara Khusus Wamentan
Konsumsi Susu Orang Indonesia Terendah se-ASEAN
Hari Sabtu, 1 Juni 2013 lalu adalah Hari Susu Nasional. Beberapa fakta miris soal persusuan Indonesia masih sangat nyata. Berikut ini wawancara khusus dengan Wamentan Rusman Heriawan soal nasib persusuan Indonesia.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Rabu, 19/06/2013 12:28 WIB
Ini Dia 10 Orang Kaya yang Pernah Jadi Pencuri (2)
Jadi orang kaya atau konglomerat memang punya banyak harta dan mampu memiliki segalanya. Namun, beberapa orang kaya ini pernah mencuri sesuatu dan menjadi pengutil.
Online Trading Academy
How To Make in "Capital market"
200 USD
Rp 275.000,-
Apakah Anda ingin coba-coba trading for living dengan mencoba peruntungan dari pasar modal?
Akankah Anda mencoba jadi kaya melalui pasar modal?
JANGAN COBA-COBA DI PASAR MODAL!
BUKTIKAN SENDIRI!
MustRead
close
-
Rabu, 19/06/2013 11:16 WIB WIB
Sempat Jadi Pembersih Tinja, Gita Wirjawan: Banyak yang Pikir Saya Mulai Hidup Enak
-
Rabu, 19/06/2013 10:38 WIB WIB
Dahlan Ngelawak Soal Daging Impor
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer











