Masa Suram Saham Facebook Terus Berlanjut?
Sabtu, 18/08/2012 14:02 WIB
Jakarta - Saham Facebook, Inc. (FB) pada perdagangan terakhir jelang akhir pekan ini kembali merosot 4,13% dan bertahan pada posisi 19,05. Saham Facebook 'tenggelam' hampir 50% dari harga penawaran (Initial Public Offering).
Apakah ini sebuah kutukan? Seperti ditulis New York Times dalam artikel terakhirnya. Saham-saham teknologi yang tercatat di Nasdaq memang seakan masuk kutukan, namun sejatinya ini hanya faktor penilaian saham.
Penilaian harga saham perusahaan sering direfleksikan dengan target pencapaian laba. Namun khusus saham teknologi, dengan usia perusahaan relatif muda, kinerja keuangan sulit diperkirakan.
Optimisme pada perusahaan teknologi, awalnya menyelimuti investor, terlebih ide baru mereka dianggap menjadi terobosan. Pemuda seperti Mark Zuckerberg jadi muka baru di tengah janji-janji perusahaan konvensional dengan paradigma masing-masing.
Hasilnya, Facebook jadi rebutan. Permintaan saham FB melebihi penawaran. Inilah yang digambarkan sebagai 'sihir' IPO Facebook, dengan harapan laba yang meningkat ratusan kali lipat.
Waktu berlalu, saham Facebook mulai terkendala bisnis, khususnya pendapatan iklan yang menyusut. Tentu ini menjadi pertimbangan investor akan masa depan Facebook. Apakah 'kekeringan' ini terus berlanjut?
Pada perusahaan teknologi yang telah tercatat di Nasdaq memang butuh satu langkah revolusioner untuk membalikkan kinerja mereka. Namun saat harapan investor tidak terealisasi oleh perusahaan teknologi, ini menjadi mimpi buruk lanjutan.
Perolehan laba tidak signifikan terjadi pada Facebook, Groupon dan Zynga. Perusahaan terakhir yang disebut merupakan perusahaan game online yang begitu dikenal, berkat bermitra dengan Facebook.
Saham Facebook tegolong mahal jika dibandingkan dengan Google. Facebook memiliki Price-to-Earnings Ratio (PER) atau perbandingan harga pasar saham terhadap pendapatan per lembar saham 31 kali, atau jauh lebih tinggi dari PER Google, 14 kali.
Pertimbangan teknikal ini diduga menjadi penyebab investor 'lari' dari Facebook di triwulan II-2012. "Nyaris tidak ada sinyal positif dari Facebook pada enam bulan ini," kata Asisten Professor dari Kellogg School of Management at Northwestern University, Anup Srivastava dikutip dari New York Times, Sabtu (18/8/2012).
Bahkan Anup memperkirakan saham Facebook berada di kisaran US$ 12, jika memperhatikan arus kas perusahaan. Artinya, penurunan yang sudah nyaris 50% dari harga IPO, akan terus berlanjut.
Facebook harus bekerja keras menyamai kinerja Google agar investor kembali menaruh kepercayaan. Google menjadi acuan karena perusahaan stius percairan internet ini dianggap lebih matang dibanding FB.
Jumlah iklan Google bisa naik 42% dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ini membuat analis Nomura menilai Google sangat luar biasa, hingga saham perseroan layak dikoleksi.
Namun Facebook bisa kembali jaya saat optimisme tinggi jelang IPO lalu bisa dibuktikan manajemen dengan kinerja positif.
"Karena perusahaan masih sangat mudah, hingga tidak ada yang benar-benar tahun nilai Facebook. Ke depan, investor bisa saja bereaksi berlebih, baik positif atau negatif," tutur Professor Keuangan asal New York University Stern School of Business, Aswath Damodaran.
(wep/dru)
Apakah ini sebuah kutukan? Seperti ditulis New York Times dalam artikel terakhirnya. Saham-saham teknologi yang tercatat di Nasdaq memang seakan masuk kutukan, namun sejatinya ini hanya faktor penilaian saham.
Penilaian harga saham perusahaan sering direfleksikan dengan target pencapaian laba. Namun khusus saham teknologi, dengan usia perusahaan relatif muda, kinerja keuangan sulit diperkirakan.
Optimisme pada perusahaan teknologi, awalnya menyelimuti investor, terlebih ide baru mereka dianggap menjadi terobosan. Pemuda seperti Mark Zuckerberg jadi muka baru di tengah janji-janji perusahaan konvensional dengan paradigma masing-masing.
Hasilnya, Facebook jadi rebutan. Permintaan saham FB melebihi penawaran. Inilah yang digambarkan sebagai 'sihir' IPO Facebook, dengan harapan laba yang meningkat ratusan kali lipat.
Waktu berlalu, saham Facebook mulai terkendala bisnis, khususnya pendapatan iklan yang menyusut. Tentu ini menjadi pertimbangan investor akan masa depan Facebook. Apakah 'kekeringan' ini terus berlanjut?
Pada perusahaan teknologi yang telah tercatat di Nasdaq memang butuh satu langkah revolusioner untuk membalikkan kinerja mereka. Namun saat harapan investor tidak terealisasi oleh perusahaan teknologi, ini menjadi mimpi buruk lanjutan.
Perolehan laba tidak signifikan terjadi pada Facebook, Groupon dan Zynga. Perusahaan terakhir yang disebut merupakan perusahaan game online yang begitu dikenal, berkat bermitra dengan Facebook.
Saham Facebook tegolong mahal jika dibandingkan dengan Google. Facebook memiliki Price-to-Earnings Ratio (PER) atau perbandingan harga pasar saham terhadap pendapatan per lembar saham 31 kali, atau jauh lebih tinggi dari PER Google, 14 kali.
Pertimbangan teknikal ini diduga menjadi penyebab investor 'lari' dari Facebook di triwulan II-2012. "Nyaris tidak ada sinyal positif dari Facebook pada enam bulan ini," kata Asisten Professor dari Kellogg School of Management at Northwestern University, Anup Srivastava dikutip dari New York Times, Sabtu (18/8/2012).
Bahkan Anup memperkirakan saham Facebook berada di kisaran US$ 12, jika memperhatikan arus kas perusahaan. Artinya, penurunan yang sudah nyaris 50% dari harga IPO, akan terus berlanjut.
Facebook harus bekerja keras menyamai kinerja Google agar investor kembali menaruh kepercayaan. Google menjadi acuan karena perusahaan stius percairan internet ini dianggap lebih matang dibanding FB.
Jumlah iklan Google bisa naik 42% dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ini membuat analis Nomura menilai Google sangat luar biasa, hingga saham perseroan layak dikoleksi.
Namun Facebook bisa kembali jaya saat optimisme tinggi jelang IPO lalu bisa dibuktikan manajemen dengan kinerja positif.
"Karena perusahaan masih sangat mudah, hingga tidak ada yang benar-benar tahun nilai Facebook. Ke depan, investor bisa saja bereaksi berlebih, baik positif atau negatif," tutur Professor Keuangan asal New York University Stern School of Business, Aswath Damodaran.
(wep/dru)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 20/06/2013 12:51 WIB
Ingin Naik Monorel Gratis Seumur Hidup, Wajib Baca Ini!
-
Kamis, 20/06/2013 12:48 WIB
MS Hidayat: 2,5 Tahun Lagi, Saya Berjanji HP Diproduksi di Indonesia
-
Kamis, 20/06/2013 12:33 WIB
Gita Wirjawan Pede Raup Rp 19 Triliun di Trade Expo 2013
-
Kamis, 20/06/2013 12:15 WIB
IHSG Anjlok Lagi ke Level 4.600
-
Kamis, 20/06/2013 12:12 WIB
Jelang Lebaran, Kementerian PU Lakukan Pelebaran Jalan di Jawa
-
Kamis, 20/06/2013 11:11 WIB
Siap-siap, Besok Malam Ada Pengumuman Kenaikan Harga BBM
-
Kamis, 20/06/2013 11:58 WIB
Harga BBM Subsidi Naik Mulai Sabtu Ini Pukul 00.00?
-
Kamis, 20/06/2013 12:01 WIB
Chairul Tanjung: Negara Harus Paksa Orang Miskin Sekolah Tinggi
-
Kamis, 20/06/2013 10:52 WIB
Laporan dari Kuala Lumpur
Mahalnya Tarif Parkir di Kuala Lumpur
-
Kamis, 20/06/2013 10:01 WIB
Para Menteri Kumpul di Kantor Agus Marto, Ada Apa?
-
79 Komentar
-
74 Komentar
-
68 Komentar
-
64 Komentar
-
55 Komentar
-
Senin, 03/06/2013 10:55 WIB
Wawancara Khusus Wamentan
Konsumsi Susu Orang Indonesia Terendah se-ASEAN
Hari Sabtu, 1 Juni 2013 lalu adalah Hari Susu Nasional. Beberapa fakta miris soal persusuan Indonesia masih sangat nyata. Berikut ini wawancara khusus dengan Wamentan Rusman Heriawan soal nasib persusuan Indonesia.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Rabu, 19/06/2013 12:28 WIB
Ini Dia 10 Orang Kaya yang Pernah Jadi Pencuri (2)
Jadi orang kaya atau konglomerat memang punya banyak harta dan mampu memiliki segalanya. Namun, beberapa orang kaya ini pernah mencuri sesuatu dan menjadi pengutil.
200 USD
Rp 275.000,-
How To Make Money in "Capital market"
Apakah Anda ingin coba-coba trading for living dengan mencoba peruntungan dari pasar modal?
Akankah Anda mencoba jadi kaya melalui pasar modal? JANGAN COBA-COBA DI PASAR MODAL!
BUKTIKAN SENDIRI!
MustRead
close
-
Kamis, 20/06/2013 07:45 WIB WIB
5 Tahun Ngebor Migas RI, 8 Perusahaan Asing Ini Tak Dapat Apa-apa
-
Kamis, 20/06/2013 07:24 WIB WIB
Utang Pemerintah Terus Membengkak, Saat Ini Capai Rp 2.036 Triliun
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer




