detikfinance

Pabrik Pesawat Indonesia

PT DI akan Jadi Pabrik Pesawat 'New N250' Buatan Putra BJ Habibie

Tya Eka Yulianti - detikfinance
Rabu, 20/02/2013 15:00 WIB
//images.detik.com/content/2013/02/20/1036/150422_n250.jpg
Bandung -PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menunggu perkembangan dan kepastian kontrak dari PT Ragio Aviasi Industri (RAI) untuk proyek pembuatan pesawat 'New N-250'. PT RAI merupakan gabungan dari PT Ilthabie Rekatama dan PT Eagle Cap yang menyatakan akan mengembangkan pesawat kembali pesawat N250 yang sempat terbang pada tahun 1995 lalu.

PT Ilthabie Rekatama merupakan milik Ilham Habibie putra BJ Habibie, sementara PT Eagle Cap adalah milik Erry Firmasyah, mantan Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI).

"PT RAI sudah melakukan pembicaraan dengan kami sejak awal 2012. Mereka menyatakan akan membuat pesawat sekelas N-250 dengan kapasitas 80 penumpang. Untuk kontrak pembuatannya, belum ada pembicaraan. Kami masih menunggu, pengennya sih buru-buru," ujar Kepala Tim Komunikasi PT DI Sonny Saleh Ibrahim, di kantor PT DI, Jalan Pajajaran, Bandung, Rabu (20/2/2013).

Sonny menjelaskan, peranan PT DI dalam proyek pesawat tersebut hanya sebagai bagian pabrik pembuat saja. Sementara perencanaan, promosi, pemasaran dan lainnya dilakukan oleh PT RAI.

"Kalau jadi, kami ini mengerjakan 90 persen dari proyek pembuatan pesawat tersebut. Sisannya, soal marketing, royalti dan lainnya itu oleh PT RAI," katanya.

Sebelumnya, PT RAI juga sempat mengajak PT DI untuk mengambil bagian saham dalam proyek ini. "Mereka ajak untuk ikut tanam saham 15 persen. Tapi kami belum mampu lah. Kami yang mengerjakan saja," jelasnya.

Menurutnya, pasar pesawat berkapasitas 80-100 penumpang ini memiliki pasar yang cukup bagus. Karena itu, jika produksi pesawat tersebut jadi, maka PT DI pun akan ikut mendapatkan keuntungan.

"Analisa market untuk pesawat kelas itu cukup bagus, di dalam negeri saja, paling tidak kebutuhannya sekitar 100 pesawat," sebut Sonny.

Namun dirinya mengaku tidak tahu berapa harga pasaran pesawat tersebut termasuk nama yang akan diberikan. "Kalau nama sih itu bagian mereka juga. Harganya juga kami tidak tahu mau dijual berapa," tuturnya.

(tya/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!



Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut