detikfinance

Ini 3 Solusi Anggota DPR Untuk Jinakkan Harga Bawang Putih

Wahyu Daniel - detikfinance
Jumat, 15/03/2013 09:20 WIB
http://us.images.detik.com/content/2013/03/15/4/091519_bawangputih3.jpg
Jakarta -Saat ini pemerintah sedang dipusingkan oleh tingginya harga bawang putih. Sebanyak 95% pasokan bawang putih di dalam negeri didapat dari hasil impor. Apa solusi yang jitu?

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengatakan dirinya mempunyai tiga solusi untuk menjinakkan harga bawang putih yang saat ini sangat tinggi di pasar.

"Pertama, menelusuri penyumbat komoditas ini ada di pasaran, sehingga ada kepastian pasar merespons terhadap harga. Selebihnya secara bertahap sesuai dengan renstra (rencana dan strategi) pemerintah untuk pangan, di mana menuju pada kedaulatan dan kemandirian pangan dalam pemenuhan kebutuhan dalam negeri," tutur Herman dalam pernyataannya yang dikutip, Kamis (14/3/2013).

Lalu kedua, Herman meminta pemerintah menjerat para spekulan dengan UU Pangan No. 18 tahun 2012 yang berkaitan dengan spekulan harga. Dalam UU tersebut dengan tegas dikatakan, seseorang yang dengan sengaja melakukan penimbunan dan menyebabkan harga pangan tinggi dan merugikan masyarakat, dapat diberikan sanksi administrasi, denda, dan pidana.

Kemudian ketiga, Herman meminta BPS (Badan Pusat Statistik), Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan segera melakukan update data berkaitan dengan kebutuhan konsumsi rata-rata per kapita sehubungan dengan tingginya pertumbuhan konsumsi masyarakat untuk komoditas tertentu yang dicirikan dengan terjadinya fluktuasinya harga pangan trategis.

"Minimalnya saya melihat 3 hal tersebut yang menjadi PR kita bersama, selain dalam waktu dekat, pemerintah harus melakukan intervensi pasar, baik melalui kebijakan harga maupun ketersediaan komoditas tersebut secara cukup di pasaran," tegas Herman.

Menurutnya, ada tiga hal yang menyebabkan kenaikan harga bawang putih sangat tinggi dan tidak logis. Pertama adalah tersendatnya distribusi impor, karena hampir 90% komoditas ini masih impor. Entah disengaja ataupun ada persoalan di negara pengimpor tentunya perlu ada kepastian.

Kedua, Herman mencurigai adanya permainan spekulan yang sangat paham situasi pasar, kapan tarik dan kapan ulur. "Ketiga, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 6%, di mana sebagai negara pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di dunia, mendongkrak pertumbuhan konsumsi per kapita, sehingga realitas permintaan lebih tinggi dari suplai," ungkap Herman.
(dnl/dru)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!



Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Gb Senin, 21/07/2014 17:45 WIB
    Bos Blue Bird Bicara Soal Kursi Ketua Hipmi
    Jumat (18/07/2014) lalu, detikFinance berkesempatan mewawancarai Bayu Priawan Djokosoetono, Bendahara Umum Hipmi. Bayu dikabarkan mencalonkan diri untuk menjadi ketua umum Hipmi selanjutnya.
  • Gb Minggu, 20/07/2014 09:52 WIB
    Tips Cermat Mengelola Uang THR
    Sudah mendapat suntikan Tunjangan Hari Raya (THR)? Jika tidak dikelola dengan bijak, bisa jadi THR hanya akan numpang lewat saja. Berikut tipsnya.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut