detikfinance

Mitos dalam Bisnis Properti

Broker Ngaku Susah Jual Properti yang Berangka 'Keramat'

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Jumat, 12/04/2013 17:19 WIB
http://us.images.detik.com/content/2013/04/12/1016/172245_rumah333.jpg
Jakarta -Angka 'keramat' seperti angka 4 dan 13 dalam dunia properti dianggap sebagai hal yang negatif bagi sebagian masyarakat Indonesia. Hasilnya, banyak properti bernomor 4 dan 13 sulit mendapat calon pembeli saat akan dijual.

Pengakuan Dimas, seorang agen Properti Century21 The Premier mengatakan untuk cari aman, pihaknya tidak mau menjual properti yang terdapat angka 4 atau 13. Alasannya pihaknya tak mau berisiko barang yang dijual sulit laku.

"Itu biasanya berpengaruh terhadap penjualan. Orang kebanyakan tidak mau kalau ada angka 4 atau 13 soalnya mereka anggap itu angka sial, ya saya sih ikutin konsumen saja," kata Dimas saat dihubungi detikFinance, di Jakarta, Jumat (12/4/2013).

Dimas menjelaskan, sampai saat ini kepercayaan sebagian masyarakat Indonesia terhadap angka-angka keramat masih melekat juga untuk urusan properti. Untuk itu, demi menarik konsumen, pihaknya mau tidak mau mengambil risiko untuk tetap menjual properti yang memang ‘tidak diminati’ masyarakat.

“Kita ikuti permintaan konsumen saja. Properti sekarang memang trennya seperti itu soalnya itu yang dipercaya masyarakat, mereka menganggap itu angka sial atau pun angka buruk. Kita cari aman sehingga tidak menjadi momok menakutkan lagi,” kata Dimas.

Terkait hal itu, biasanya perusahaan pengembang pun sengaja menghilangkan angka 4 atau 13 dalam bangunan properti mereka. Hal itu dilakukan untuk tetap menarik minat konsumen untuk tetap membeli properti.

“Pengembang biasanya sengaja menghilangkan angka 4 dan 13. Lantai yang biasanya dihilangkan 4,13,14, 24 dan seterusnya yang ada nomor empatnya, kita ganti jadi 3A misalnya atau lagsung loncat ke 5. Jadi gimana caranya hal yang dianggap menjadi ‘momok’ di masyarakat jadi sesuatu yang menarik. Masyarakat kan sudah menganggap angka itu sebagai angka sial,” terangnya.

Selain masalah penomoran lantai, biasanya pengembang juga menghilangkan angka 4 dan 13 di unit kamar apartemen mereka. Hal itu juga dilakukan agar konsumen tetap mau menempati unit yang mau dibeli.

“Seperti unit kamar juga angka 4 dan 13 dihilangkan, jadi yang ada 1A,2A,3A tapi nggak ada 4A tapi langsung 5A dan seterusnya karena konsumen nggak mau kalau ada angka 4," kata Dimas.
(hen/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!



Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Gb Senin, 21/07/2014 17:45 WIB
    Bos Blue Bird Bicara Soal Kursi Ketua Hipmi
    Jumat (18/07/2014) lalu, detikFinance berkesempatan mewawancarai Bayu Priawan Djokosoetono, Bendahara Umum Hipmi. Bayu dikabarkan mencalonkan diri untuk menjadi ketua umum Hipmi selanjutnya.
  • Gb Minggu, 20/07/2014 09:52 WIB
    Tips Cermat Mengelola Uang THR
    Sudah mendapat suntikan Tunjangan Hari Raya (THR)? Jika tidak dikelola dengan bijak, bisa jadi THR hanya akan numpang lewat saja. Berikut tipsnya.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut