detikfinance

BBM Naik, Terus Dapur Bagaimana?

Aidil Akbar Madjid - detikfinance
Rabu, 01/05/2013 06:57 WIB
BBM Naik, Terus Dapur Bagaimana?
Jakarta -Banyak orang mulai beralih dari BBM ke WhatsApp, Line dan lain sebagainya, dan ini bukan karena isu kenaikan BBM di Indonesia yang akan dilakukan di bulan Mei ini.

Akan tetapi kalau bicara BBM alias Bahan Bakar Minyak kemana kita bisa beralih? Apa alternatif nya? Kelihatannya dan naga-naganya BBM mau naik (pas tulisan ini ditulis & di-publish) masih belum ada kepastian soalnya, dan kalau sampai naik suka enggak suka, mau enggak mau sepertinya BBM naik dari Rp 4.500/liter ke Rp 6.000/liter atau Rp 6.500/liter tidak bisa dihindari lagi.

Yang “katanya” Demi mengurangi subsidi dan “kebocoran” APBN maka keputusan non-populer ini harus diambil yang sudah barang tentu akan berdampak pada keuangan kita secara perorangan dan keluarga. Biasanya yang paling berasa imbasnya adalah ibu-ibu yang biaya belanja bulanannya meningkat.

Yes, betul sekali, kenaikan BBM tidak hanya akan berakibat pada kenaikan komponen biaya transportasi kita saja tapi juga biaya kehidupan lainnya. Yuk kita coba simulasi kalau ternyata BBM jadi naik dari Rp 4.500 ke Rp 6.000 alias naik Rp 1.500/liter.

Kenaikan ini sama dengan kurang lebih 33,33% dari harga sebelumnya. Yang artinya kalau diterjemahkan ke dalam keuangan keluarga, apabila komponen biaya bensin sebuah keluarga per bulan sekitar Rp 1 juta saat ini, maka komponen ini akan naik menjadi Rp 1,33 juta.

Apabila penghasilan anda saat ini Rp 5 juta dengan komponen transport bensin mobil pribadi Rp 1 juta yaitu 20%, maka biaya bulanan anda akan naik menjadi 26,6%.

Meskipun untuk transportasi non pribadi rencananya harga BBM tidak akan naik, tapi tidak bisa dipungkiri selalu ada celah bagi bisnis dan para pedagang untuk menaikan harga jual barang, hal ini yang ditakuti oleh keluarga terutama para ibu-ibu. Jadi kalau BBM ini diputuskan akan naik, apa yang harus kita lakukan?

Pertama, review kembali biaya transportasi kita, apakah memungkinkan untuk menggunakan kendaraan umum? Apabila pekerjaan kita tidak menuntut mobilitas yang tinggi atau hanya sebatas rumah dan kantor kendaraan umum menjadi alternatif yang baik.

Kalau tidak memungkinkan untuk naik bus, bisa dipikirkan naik KRL Commuter (bila ada), atau setidak-tidaknya naik taksi. Alternatif lain bila tinggal di satu komplek perumahan biasanya ada saja yang menawarkan jasa car pooling sehingga lebih murah.

Apabila mobilitas tinggi, maka dilihat efektivitas penggunaan kendaraan, misalnya hanya menggunakan 1 kendaraan dari 2 mobil yang ada, dan masih banyak lagi strategi alternatif lain yang bisa dipakai.

Kedua, untuk pengeluaran lainnya, silahkan melakukan review ulang terhadap pengeluaran bulanan kita. Pisahkan antara pengeluaran yang sifatnya premier dengan sekunder.

Pengeluaran yang sifatnya tidak penting dan urgent bisa ditunda terlebih dahulu. Di awal-awal kenaikan harga anda bisa melakukan alternatif penghematan dengan misalnya membawa makan siang dari rumah (memasak lebih banyak) dibandingkan makan di kantor, atau dengan mengurangi frekuensi makan siang di luar. Demikian juga pengeluaran lain yang sifatnya “hura-hura” bisa mulai direm dari sekarang.

Ketiga, dalam ilmu keuangan “cash flow” komponen terpenting ada 2 yaitu pemasukan (penghasilan) dan pengeluaran. Di saat semua pengeluaran sudah dihemat-hemat dan masih terasa kesulitan, sudah sebaik kita mulai berpikir untuk menambah penghasilan.

Menambah penghasilan itu mudah, bisa dengan bekerja tambahan atau bekerja double job (setelah pulang kantor), bisa juga dengan memaksimalkan hobi yang bisa mendatangkan uang, atau memaksimalkan pasangan misalkan istri di rumah buka warung atau catering, dan masih banyak lagi ide-ide lainnya.

Yang harus selalu diperhatikan dan dicamkan adalah kenaikan ini merupakan suatu hal yang biasa dan akan terus naik dari tahun ke tahun sehingga hadapi tidak dengan panik. Masa sulit biasanya di awal-awal bulan pertama dan kedua saja, setelah itu kehidupan kita akan melakukan adjustment dan kembali normal.

Apapun yang terjadi, tabungan dan investasi harus tetap diusahakan dan dilakukan.

(ang/ang)

Baca Juga


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Ini Investasi yang Cocok Saat Imlek Senin, 08/02/2016 11:00 WIB
    Ini Investasi yang Cocok Saat Imlek
    Anda bisa mengandalkan feng shui untuk berinvestasi setelah Imlek di tahun monyet api, tapi bisa juga memakai data. Investasi seperti apa yang menarik saat Imlek?


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut