detikfinance

Mie Instan Masih Jadi Makanan Terlaris di Indonesia

Angga Aliya - detikfinance
Selasa, 07/05/2013 07:22 WIB
Mie Instan Masih Jadi Makanan Terlaris di Indonesia
Jakarta -Frekuensi rata-rata konsumen Indonesia membeli mie instan adalah sebanyak 324 bungkus dalam satu tahun. Pembelian mie instan tersebut paling besar dibandingkan dengan frekuensi untuk produk kategori lain di pasar Fast Moving Consumer Goods (FMCG).

Kantar Worldpanel, perusahaan riset pemasaran untuk produk FMCG, merilis hasil penelitian bertajuk Kantar Worldpanel’s Brand Footprint Ranking. Dalam penelitian ini, Kantar memaparkan sejumlah brand atau merek yang menjadi pilihan konsumen di seluruh dunia dan Indonesia pada tahun 2012.

Merek paling terkenal di Indonesia menurut penelitian ini adalah Sedaap, ternyata 99% konsumen di Indonesia membeli merek ini dengan rata-rata pembelian sebanyak 54 kali dalam kurun waktu satu tahun.

Artinya, hampir seluruh konsumen di Tanah Air membeli produk-produk bermerek Sedaap. Sedangkan brand Indomie menyusul ke urutan kedua dengan pembelian konsumen sebanyak 96% dengan frekuensi sebanyak 43 kali dalam waktu satu tahun.

Kedua brand lokal tersebut dominan menjual produk-produk mie instan. Wajar, jika kedua brand tersebut ada diperingkat atas karena berdasarkan perhitungan, frekuensi rata-rata konsumen Indonesia membeli mie instan adalah sebanyak 324 bungkus dalam satu tahun.

Jadi mie instan adalah produk yang paling diminati konsumen di Tanah Air. Pada penelitian Kantar yang terakhir juga ditemukan banyak produk mie instan di dalam keranjang belanja saat konsumen membeli produk di pasar, lebih banyak dibandingkan produk lain seperti, kopi instan dan biskuit.

Selanjutnya, peringkat ketiga diraih oleh brand produk bumbu dapur yakni Masako, peringkat keempat diraih oleh produk kopi ABC Santos, Royco di posisi kelima dan Kapal Api diurutan keenam.

Kemudian Frisian Flag untuk produk susu diperingkat ketujuh, biskuit Roma diperingkat kedelapan. Segment personal care dan home care yakni Lifebuoy dari Unilever berada di ranking kesembilan dan Rinso pada urutan kesepuluh.

Lim Soon Lee, General Manager Kantar Worldpanel Indonesia, mengatakan, saat ini brand membutuhkan analisa yang mendalam mengenai seberapa jauh perusahaan bisa mengisi keranjang belanja konsumen dibandingkan dengan kompetitor lain, serta mencari peluang untuk tumbuh dan berkembang bisnis ke depan.

"Penelitian The Brand Footprint mampu menjawab kebutuhan ini, dengan adanya kebutuhan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan tren positif manufaktur dalam memperluas dan meningkatkan loyalitas konsumen, ini dua hal penting yang harus diperhatikan," ungkapnya dalam siaran pers, Selasa (7/5/2013).

Brand Footprint Ranking ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan kekuatan dari produk-produk FMCG contohnya yakni, makanan, minuman, kesehatan, kecantikan, dan produk perawatan rumah tangga di 32 negara dunia.

Brand Footprint Ranking ini menggunakan metode yang dinamakan Consumer Reach Point (CRP). CRP bertujuan mengukur seberapa banyak konsumen (dalam hal ini rumah tangga) di dunia yang membeli brand tertentu dan seberapa sering brand tersebut dibeli.

(ang/ang)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • CEO Arianespace: Peluncuran Satelit BRI dan Rekor Baru Selasa, 21/06/2016 06:52 WIB
    Wawancara Khusus CEO Arianespace
    CEO Arianespace: Peluncuran Satelit BRI dan Rekor Baru
    BRI mengukir sejarah baru perbankan dunia, menjadi bank yang memiliki satelit pertama di dunia. Peluncuran satelit bernama BRIsat ini dibantu oleh Arianespace.
  • Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi? Kamis, 24/03/2016 17:19 WIB
    Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi?
    Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut