detikfinance

Rencana Perubahan APBN 2013 Ditolak, Ini Alasannya

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Minggu, 02/06/2013 15:00 WIB
Rencana Perubahan APBN 2013 Ditolak, Ini Alasannya
Jakarta -Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menolak tegas pengajuan Rancangan APBN-P 2013 oleh pemerintah kepada DPR. FITRA memandang RAPBN-P 2013 yang diajukan sarat kepentingan politik menjelang 2014. FITRA memberikan 10 alasan atas penolakan tersebut. Apa saja?

"Ini sarat politisasi menjelang Pemilu dan menyengsarakan rakyat. Tidak benar jika subsidi BBM malah bikin anggaran membengkak," kata Sekretaris Jenderal FITRA Yuna Farhan usai Konferensi Pers Menolak APBN-P 2013, di Kantor FITRA, Jakarta, Minggu (2/6/2013).

Dia menyebutkan, ada 10 alasan kenapa pihaknya menolak pengajuan APBN-P 2013 oleh pemerintah kepada DPR.

Pertama, pemerintah beralasan beban subsidi memberatkan dan bisa menyebabkan APBN jebol serta defisit. Dengan menaikkan harga BBM menjadi Rp 6.500 per liter, pemerintah mengaku bisa menghemat anggaran sebesar Rp 30 triliun. Faktanya, alih-alih bisa mengurangi alokasi belanja subsidi, ini malah justru membengkak sebesar Rp 16,1 triliun.

Kedua adalah beban subsidi BBM sebagai penyebab membengkaknya defisit juga tidak benar. Kenaikan defisit Rp 80 triliun pada APBN-P 2013 lebih disebabkan karena diturunkannya target penerimaan perpajakan senilai Rp 53,6 triliun. Artinya, tambahan beban subsidi BBM hanya berkontribusi 20% terhadap defisit, sementara penurunan pajak berkontribusi 66% terhadap defisit.

Ketiga, ia menyebutkan, bukan beban subsidi BBM yang menjadi alasan untuk mengajukan APBN-P 2013, namun mensiasati APBN-P 2013 untuk menyusupkan program-program populis dalam rangka menarik simpati rakyat untuk kepentingan pemilu 2014.

Pasalnya, belanja kompensasi kenaikan BBM (BLSM, tambahan raskin, beasiswa masyarakat miskin, dan infrastruktur dasar) dengan total Rp 30 triliun, besarnya hampir dua kali lipat dari kenaikan subsidi BBM Rp 16,1 triliun.

Keempat, Yuna mengatakan sejak APBN-P 2012 dan 2013, pemerintah sudah diberikan diskresi untuk menyesuaikan harga BBM bersubsidi tapi pemerintah tidak memanfaatkan momentum ini. Pemerintah tidak berani disalahkan atas kebijakannya dan melempar ke DPR dan membuka peluang tawar-menawar antar partai politik di DPR.

Kelima, dengan Sisa Anggaran Lebih (SAL) 2012 sebesar Rp 56,1 triliun, sebenarnya pemerintah tidak perlu mengajukan APBN perubahan. SAL mampu mengcover pembengkakan subsidi BBM Rp 16 triliun dan kompensasi kenaikan BBM (BLSM, tambahan raskin, beasiswa masyarakat miskin, dan infrastruktur dasar) sebesar Rp 30 triliun.

Sehingga tidak diperlukan lagi justifikasi menambah utang baru sebesar Rp 63,4 triliun. Pemerintah juga tidak perlu menambah anggaran pendidikan sebesar Rp 7,5 triliun sebagai konsekuensi penambahan belanja.

Keenam, pemerintah tidak mau mengubah secara mendasar asumsi makro ekonomi terkait kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pendapatan.

AKetujuh, target pertumbuhan ekonomi dan inflasi tidak realistis. Jika BBM dinaikkan, pertumbuhan ekonomi hanya akan berada di kisaran 5,9% dan inflasi sekitar 8,5-9%.

Kedelapan, pemerintah tidak memiliki argumen yang sahih atas penurunan pajak, pemerintah memaksa menaikkan harga BBM tapi memanjakan birokrasi dengan menyetujui penurunan penerimaan pajak.

Kesembilan, kenaikan BBM dan dampak yang harus ditanggung oleh rakyat tidak diikuti dengan pengorbanan pemerintah. Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) hanya dipotong Rp 7,1 triliun dan belanja pegawai hanya berkurang Rp 1,4 triliun. Belanja pegawai 35% digunakan untuk membiayai pensiun.

Kesepuluh, tidak ada pemotongan yang signifikan dari belanja barang yang selama ini menjadi sumber inefisiensi yang sangat besar. "Jika harga BBM jadi dinaikkan, kita menuntut semua mobil dinas dibiayai sendiri khususnya minyak, tidak boleh dibebankan kepada pemerintah," kata Yuna.

(hen/hen)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi? Kamis, 24/03/2016 17:19 WIB
    Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi?
    Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut