detikfinance

Mobil Murah, Apa Benar Ramah Lingkungan?

Suhendra - detikfinance
Rabu, 18/09/2013 11:16 WIB
http://us.images.detik.com/content/2013/09/18/1036/agya.jpg
Jakarta -Konsep kendaraan low cost green car (LCGC) atau mobil murah dan ramah lingkungan dipayungi Peraturan Menteri Perindustrian No. 33/M-IND/PER/7/2013 tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau.

Harga mobil jenis ini memang jauh lebih murah dibandingkan mobil lainnya karena dipatok maksimal off the road Rp 95 juta, tetapi apakah benar-benar ramah lingkungan seperti slogannya?

"Mengapa disebut ramah lingkungan? Itu pertanyaan yang sulit terjawab. Sebab kalau dasarnya hanya karena irit bahan bakar, maka itu tidak kuat, mengingat iritnya itu per unit," kata Direktur Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas kepada detikFinance, Rabu (18/9/2013)

Memang dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 33/M-IND/PER/7/2013, LCGC harus memenuhi syarat konsumsi bahan bakarnya paling sedikit 1 liter per 20 Km.

"Tapi lantaran harganya murah, sehingga masyarakat berbondong-bondong untuk membelinya, maka secara komulatif jadi boros energi," katanya.

Menurut Darmaningtyas, pihak PT Pertamina sendiri sudah mengkhawatirkan bahwa mobil murah ini akan menyedot BBM bersubsidi. Ia mempertanyakan siapa yang akan mengontrol di lapangan agar mobil murah tersebut menggunakan BBM nonsubsidi.

Darmaningtyas menambahkan kebijakan mobil murah selain kontradiksi dengan kebijakan hemat BBM, juga kontradiktif dengan upaya pemerintah untuk mengurai kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makasar, Bandung. Ia yakin kota-kota tersebut sulit terhindar dari kemacetan karena mendapatkan grojokan mobil baru dengan harga murah di jalanan.

"Inilah ambivalensi kebijakan mobil murah tersebut," tegasnya.

Menurutnya penyebab LCGC bisa dijual murah karena memperoleh insentif pajak dari pemerintah yang besarannya 75 hingga 0%. Berdasarkan PP No. 41/2013 pasal 3 ayat (1) butir C menyebutkan bahwa mobil hemat energi dan harga terjangkau, Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak sebesar 0% dari harga jual.

"Pajak 0% tersebut untuk motor bahan bakar cetus api dengan kapasitas silinder 1.200 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per 1 liter atau bakan bakar setaranya," terangnya.
(hen/dru)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!



Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Gb Senin, 21/07/2014 17:45 WIB
    Bos Blue Bird Bicara Soal Kursi Ketua Hipmi
    Jumat (18/07/2014) lalu, detikFinance berkesempatan mewawancarai Bayu Priawan Djokosoetono, Bendahara Umum Hipmi. Bayu dikabarkan mencalonkan diri untuk menjadi ketua umum Hipmi selanjutnya.
  • Gb Minggu, 20/07/2014 09:52 WIB
    Tips Cermat Mengelola Uang THR
    Sudah mendapat suntikan Tunjangan Hari Raya (THR)? Jika tidak dikelola dengan bijak, bisa jadi THR hanya akan numpang lewat saja. Berikut tipsnya.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut