detikfinance

Produksi Kedelai Tahun Ini Diprediksi Sulit Meningkat

Michael Agustinus - detikfinance
Selasa, 05/01/2016 21:15 WIB
Produksi Kedelai Tahun Ini Diprediksi Sulit Meningkat
Jakarta -Saat ini Indonesia amat bergantung pada kedelai impor karena minimnya produksi kedelai di dalam negeri. Dari kebutuhan sekitar 2,5 juta ton per tahun, 1,7 juta ton diantaranya harus dipenuhi dari impor.

Pemerintah saat ini berupaya melepaskan ketergantungan pada kedelai impor tersebut. Kedelai masuk sebagai salah satu dari 3 komoditas pangan yang ditargetkan bisa swasembada pada 2017, yakni padi, jagung dan kedelai.

Namun, sampai tahun 2016 ini produksi kedelai diperkirakan masih sulit beranjak dari kisaran 800-900 ribu ton per tahun sehingga impor kedelai belum bisa dikurangi.

Dewan Kedelai Nasional mengungkapkan ada 3 penyebab produksi kedelai sulit naik tahun ini. Pertama, kemungkinan la nina bakal menyerang Indonesia dalam waktu dekat. Kedua, luas lahan kedelai juga tidak bertambah. Ketiga, harga kedelai masih kurang menarik bagi petani.

‎"Masih ada impact dari cuaca, luasan lahan, harga," kata Ketua Dewan Kedelai Nasional, Benny Kusbini, kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (5/1/2016).

Benny mengungkapkan bahwa la nina bisa mulai menerpa Indonesia pada pekan depan sehingga menyebabkan hujan deras dan banjir dimana-mana, termasuk di lahan-lahan pertanian, tak terkecuali kedelai.‎

"Ramalan BMKG, minggu depan ada hujan deras dan banjir. Ini harus diantisipasi kalau banjir di tempat budidaya," ucapnya.

Dia juga menuturkan, harga kedelai di tingkat petani saat ini hanya sekitar Rp 5.000/kg, jauh dibandingkan harga beras. Akibatnya, petani kedelai banyak yang beralih menanam padi karena jauh lebih menguntungkan.

‎"Saya baru beberapa hari lalu ke Cirebon, harga kedelai di pengrajin tahu tempe itu Rp 7.200/kg, di petani bisa-bisa cuma Rp 5.000/kg. Sementara beras sudah lebih dari Rp 10.000/kg, ini akan membuat menanam kedelai semakin tidak menarik ‎buat petani," ucapnya.

Idealnya, harga kedelai 1,5 kali lipat dari harga beras agar produksinya berlimpah di dalam negeri seperti pada era Orde Baru. Tapi tentu saja harga kedelai lokal sekarang tak mungkin setinggi itu.

‎"Kalau zaman Soeharto dulu, harga kedelai rata-rata 1,5 kali harga beras. Tapi kalau sekarang kan tidak mungkin, kalau rata-rata harga beras Rp 8.000/kg, harga kedelai lokal jadi Rp 12.000/kg," paparnya.

‎"Tapi kalau harga kedelai tinggi harus dipikirkan impact buat pengrajin tahu tempe, masyarakat, dan sebagainya. Ini juga problem," Benny menambahkan.

Agar harga kedelai menguntungkan buat petani tapi juga tidak memberatkan konsumen, pihaknya mengusulkan adanya kebijakan subsidi harga. Tanpa adanya perbaikan harga, sulit mendongkrak produksi kedelai nasional.

"Mungkin apakah pemerintah menyubsidi harga sehingga harga kedelai menarik. Petani harus bisa menikmati keuntungan tapi masyarakat juga tidak diberatkan," tutupnya.


(hns/hns)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Natuna, Daerah Kaya Sumber Daya yang Diincar China Senin, 18/07/2016 12:05 WIB
    Wawancara Tenaga Ahli Kemenko Maritim
    Natuna, Daerah Kaya Sumber Daya yang Diincar China
    Natuna adalah wilayah yang sangat penting. Bukan hanya kaya akan ikan, Natuna juga menyimpan potensi besar di sektor migas dan pariwisata.
  • Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi? Kamis, 24/03/2016 17:19 WIB
    Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi?
    Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut