Survei INDEF Paparkan Dampak Adanya BukuWarung Bagi Ekonomi RI

Advertorial - detikFinance
Jumat, 19 Nov 2021 00:00 WIB
adv bukawarung
Foto: BukuWarung
Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memaparkan survei yang dilakukan untuk melihat dampak keberadaan BukuWarung bagi ekonomi Indonesia. Dampak tersebut bisa dilihat dari pendapatan pelaku UMKM hingga dampaknya bagi PDB nasional.

Berdiri pada 2019, BukuWarung merupakan perusahaan teknologi penyedia ekosistem finansial digital dengan berbagai layanan unggulan dari awalnya berfokus pada pencatatan keuangan digital, kemudian berkembang hingga penjualan, pembayaran bahkan pembiayaan online. BukuWarung telah menggaet 6,5 juta UMKM Indonesia.

Peneliti INDEF, Nailul Huda menuturkan latar belakang dari penelitian tersebut dilakukan karena UMKM yang memang punya peran penting dalam perekonomian nasional. Apalagi UMKM memiliki kontribusi 60% bagi PDB nasional serta 97% penyerapan tenaga kerja.

Namun di satu sisi, lanjut Huda, UMKM ternyata belum tersentuh atau belum disalurkan dana yang cukup besar oleh perbankan. Menurut Huda, baru ada 20% dari total kredit nasional yang disalurkan kepada pelaku UMKM, yang didasari sistem operasi UMKM yang belum memenuhi standarisasi perbankan.

"Salah satu masalah utamanya itu ada di akuntansinya atau pencatatan dari keuangan UMKM itu sendiri. Maka dari itu banyak sekali UMKM yang masih dalam kategori unbank dan under bank," imbuh Huda dalam Virtual Press Con Kontribusi BukuWarung Terhadap Akselerasi UMKM dan Perekonomian Indonesia, Kamis (18/11/2021).

adv bukawarungFoto: BukuWarung

Adapun survei yang dilakukan INDEF ini melihat kontribusi penggunaan aplikasi BukuWarung yang sudah digunakan 6,5 juta pengguna pelaku UMKM di Indonesia. Studi yang pertama adalah menganalisis perkembangan UMKM sebelum dan sesudah mengikut BukuWarung.

Kedua yaitu menganalisis peran kegiatan ekonomi BukuWarung terhadap perekonomian secara nasional di tingkat output atau PDB penyerapan tenaga kerja dan investasi. Ketiga adalah menganalisis peran kegiatan ekonomi BukuWarung terhadap pengembangan diri termasuk tingkat output UMKM dalam hal penyerapan tenaga kerja dan kredit.

Survei yang dilakukan merupakan rumusan berdasarkan penelitian INDEF yang berlangsung selama 1 September-15 November 2021. Metode penelitian menggabungkan desk study melalui jurnal, laporan lembaga dan dokumen-dokumen lain dengan sumber yang relevan dan kredibel, serta in-depth interview dengan pengguna BukuWarung dan analisis input output.

Adapun hasil survei mendapati penggunaan aplikasi BukuWarung telah berhasil meningkatkan produktivitas pelaku UMKM, sehingga menambah output usaha sebesar Rp 640 miliar, atau setara dengan PDB UMKM 0,01%.

adv bukawarungFoto: BukuWarung

Lebih dari itu, BukuWarung juga berandil mengakselerasi output ekonomi nasional hingga Rp 32,86 triliun, setara dengan PDB Nasional 0,27%, serta menambah nilai investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp 2,32 triliun atau berkontribusi atas peningkatan investasi nasional sebesar 47,07%

"Seiring dengan membaiknya situasi COVID-19 di Indonesia, output ekonomi nasional mengalami peningkatan hingga Rp 138 triliun. Adanya penerapan teknologi yang ditawarkan BukuWarung, seperti pencatatan keuangan digital, semakin mengakselerasi output tersebut, bahkan mencapai Rp 170 triliun," imbuh Huda.

Dampak output terbesar dirasakan oleh sektor jasa lainnya (Rp 8,8 triliun), sektor pertanian (Rp 6,9 triliun), sektor jasa konsultasi komputer dan teknologi informasi (Rp 6,8 triliun), sektor ketenagalistrikan (Rp 1,6 triliun), serta sektor perdagangan besar dan ritel (Rp 1,6 triliun).

Adanya pencatatan pembukuan yang lebih baik juga menjadikan UMKM tersebut memiliki nilai lebih untuk mengajukan pendanaan sehingga mendorong kredit UMKM sebesar Rp 1,14 triliun.

adv bukawarungFoto: BukuWarung

"Pelaku UMKM yang terdaftar sebagai pengguna BukuWarung mendapatkan manfaat yang signifikan seperti peningkatan produktivitas, pencatatan yang lebih terintegrasi dan lebih rapi, termasuk keuntungan atau kerugian dari bisnisnya, serta perluasan pangsa pasar. Peningkatan produktivitas berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, dan pengajuan kredit UMKM," lanjut Nailul Huda.

Dari aspek UMKM, BukuWarung memberi manfaat terbesar pada pelaku usaha di bidang perdagangan eceran dan besar. BukuWarung mampu menambah output UMKM sektor perdagangan sebesar Rp 193 miliar, serta sektor penyedia jasa pembayaran listrik, gas, dan air (PPOB) yang mencapai Rp 97,5 miliar.

"Selain itu, BukuWarung menambah penyerapan tenaga kerja UMKM sebesar 78 ribu tenaga kerja, atau tumbuh sebesar 22,63 persen. Penyerapan tenaga kerja UMKM paling besar terjadi pada sektor pertanian (30 ribu jiwa) dan perdagangan (7,3 ribu jiwa)," jelas Huda.

Sementara itu, Head of Marketing BukuWarung Ika Paramita menyampaikan UMKM menjadi fokus BukuWarung mengingat peran krusialnya terhadap perekonomian Indonesia. Hasil studi bersama INDEF ini membuktikan BukuWarung telah berada pada jalur dan arah yang tepat untuk memajukan UMKM di Tanah Air.

"Kami tak akan berhenti di sini. Sebaliknya, kami justru semakin siap mengembangkan bisnis dan layanan guna semakin memperkuat peran BukuWarung dalam memberdayakan UMKM dan berkontribusi memajukan perekonomian Indonesia," kata Ika.

adv bukawarungFoto: BukuWarung


Di sisi lain, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan berdasarkan data BPS 2021, indikator pertumbuhan ekonomi pada triwulan 3 2021 naik sebesar 3,51 persen year on year. Upaya pemulihan ekonomi terus dilakukan pemerintah antara lain melalui hibah modal kerja untuk usaha mikro dan KUR.

Teten juga mengatakan 1 dari 3 UMKM mengalami masalah pendanaan usaha karena tidak memiliki aset untuk dijaminkan serta tidak adanya pencatatan laporan keuangan. Karenanya ia berharap BukuWarung dapat memberikan masukan terhadap perencanaan pemerintah.

"Semoga webinar BukuWarung menjadi sukses dan dapat memberikan masukan terhadap perencanaan pemerintah dan seluruh stakeholder untuk mendukung UMKM," kata Teten. (adv/adv)