Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 24 Feb 2014 16:09 WIB

Bisnis Urusan Kematian di China (4)

Demi Gengsi, Orang China Pilih Pemakaman Mahal

- detikFinance
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Pemerintah China membantah bahwa pemakaman di negeri itu sangat mahal. Dalam sebuah konferensi tahun lalu, Kementerian Urusan Sipil China mengatakan bahwa ongkos pemakaman itu murah, asal ikut cara pemerintah, yakni dengan cara dikremasi.

Kremasi lebih murah dan ramah lingkungan. Apalagi jika abu jenazah dibuang ke laut. Menteri Urusan Sipil Li Liguo, dalam konferensi itu, mengatakan bahwa pemerintah malah menyediakan subsidi selama bertahun-tahun. Tarifnya, menurut Liguo, adalah antara 1.000 yuan (US$ 161) dan 2.000 yuan.

Masalahnya, apa kata pemerintah tak sejalan dengan yang terjadi di lapangan. Publik lebih suka pemakaman tradisional daripada kremasi. Menurut China Daily, masih kental anggapan masyarakat bahwa upacara kematian itu erat kaitannya dengan status sosial dan ekonomi. Jadi makin mewah sebuah upacara, makin terhormat keluarga itu.

Jadi, kalau perusahaan penyedia jasa urusan kematian menerapkan tarif tinggi, permintaan tetap ada. Apalagi di tengah makin terbatasnya lahan. Permintaan terhadap pemakaman yang mewah makin tinggi. Padahal terbatasnya lahan membuat harga tanah kuburan terus melonjak.

Sebagai contoh di Suzhou di Provinsi Jiangsu. Rata-rata harga satu meter persegi tanah kuburan adalah antara 40-50 ribu yuan, yang lebih mahal dari harga tanah untuk perumahan. Faktanya, hanya 150 keluarga, dari 15 ribu kremasi di Suzhou tiap tahun, yang memakai model pemakaman murah ala pemerintah.
 
Wakil Menteri Urusan Sipil, Dou Yupei, mengatakan pemakaman memang mencerminkan psikologis masyarakat yang terkungkung tradisi. Pengakuan sosial dan tanda bakti adalah faktor utama yang membuat masyarakat kurang menerima model pemakaman murah.

Menurut Yupei, banyak masyarakat rela mengeluarkan banyak duit karena tekanan sosial atau gengsi. Ada pula yang menilai itu adalah sebagai tanda baktinya pada orang tua yang wafat.
 
Tapi pandangan seperti itulah yang justru menguntungkan perusahaan-perusahaan penyedia jasa pemakaman. Asosiasi Penguburan China menyatakan, margin bisnis pemakaman di China tak ada standarnya.

“Ada yang bisa meraih margin 300 persen dan bahkan bisa 1.000 atau 2.000 persen,” ujar asosiasi itu.

Situasi ini memusingkan pemerintah China. Berbagai kampanye untuk mempopulerkan kremasi sebagai cara yang lebih terjangkau, serta penebaran abu jenazah ke laut, telah dilakukan pemerintah untuk menekan harga pemakaman yang makin tak terjangkau.

Media milik pemerintah pun tak jarang menuliskan headline-headline berita bernada satir untuk mengkritisi tren pemakaman yang mahal itu. Salah satunya: “Mari kita hidup lebih lama dan sehat karena kita enggak bakalan sanggup membayar kematian”. Yang lain menulis,”Kuburan semakin mahal, bagaimana kalau kita membuang abu jenazah ke laut saja.”



(DES/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com