Follow detikFinance
Kamis 26 May 2016, 18:36 WIB

Indonesia Kejar Investasi Hingga Hollywood

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Indonesia Kejar Investasi Hingga Hollywood Foto: Ari Saputra
Los Angeles - Usai melakukan pertemuan dengan 10 perusahaan QG100 di Montreal, Kanada, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terus melanjutkan rangkaian pertemuannya dalam rangka penyampaian reformasi layanan investasi yang telah diterbitkan oleh pemerintah belakangan ini.

Kepala BKPM, Franky Sibarani, dijadwalkan melakukan pertemuan dengan anggota Motion Pictures Association of America (MPAA) di Los Angeles (LA), Amerika Serikat (AS). Dalam pertemuan tersebut, Franky akan memaparkan potensi bisnis sektor perfilman di Indonesia.

"Dengan pengesahan Perpres Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha Penanaman Modal yang Terbuka dengan persyaratan, maka sektor perfilman terbuka 100% untuk asing mulai dari sektor produksi, distribusi dan eksibisi," ujarnya, dalam keterangan tertulis, Kamis (26/5).

Dengan terbitnya Perpres 44 tahun 2016 12 Mei lalu, investor asing lebih terbuka untuk berbisnis di sektor perfilman. Sebelumnya sektor-sektor perfilman tertutup untuk asing atau dibatasi maksimal 49%.

Sektor tersebut di antaranya dalam bidang usaha jasa teknik film termasuk studio shooting film (maksimal 49%), laboratorium film (maksimal 49%), fasilitas editing sound (maksimal 49%), film editing 100% PMDN, film subtitle 100% PMDN.

Upaya untuk meyakinkan investor AS didasari oleh beberapa peluang bisnis sektor perfilman yang masih terbuka lebar. Salah satunya adalah bisnis bioskop, dengan melihat angka rasio layar berbanding populasi di Indonesia.

"Rasio layar berbanding 100 ribu populasi Indonesia adalah 0,4. Ini di bawah Amerika Serikat yang rasionya 14, Inggris 6,8, Korea Selatan 4,3, Singapura 3,9, Malaysia 2,4, China 1,8 dan Thailand 1,2," jelasnya.

Dari jumlah layar bioskop tersebut 87% layar berada di Pulau Jawa dan 35% di antaranya berlokasi di Jakarta.

"Jumlah keseluruhan bioskop di Indonesia sama dengan jumlah layar bioskop yang ada di kota Beijing, Tiongkok," lanjutnya.

Masuknya investasi di sektor perfilman, diharapkan mampu berkontribusi positif pada pencapaian target investasi nasional tahun 2016.

Pemerintah sendiri memiliki tiga program utama untuk mendorong pertumbuhan sektor perfilman. Pertama adalah meningkatkan distribusi Cinema di seluruh Indonesia, ditandai dengan target Badan Ekonomi Kreatif untuk menambah jumlah cinema 5.000 per tahunnya.

Kedua adalah terkait peningkatan kualitas sumber daya manusia di industri film nasional. Korea Selatan memiliki 300 sekolah film dan masuk di kurikulum pendidikan, sementara di Indonesia hanya ada 5 sekolah dengan fakultas film.

Ketiga adalah terkait dengan membuka akses untuk pembiayaan dan teknologi, sektor film tergolong sektor yang padat modal sehingga banyak teknologi yang banyak dan membutuhkan modal besar yang belum dimanfaatkan oleh produsen film di Indonesia.

Temui 100 Pengusaha Kanada

Sebelumnya, Franky sudah berkunjung ke forum bisnis di Montreal, Kanada. Franky menyampaikan paparan di hadapan lebih 100 calon investor dalam acara Indonesia Business Forum: Opportunities in The Making yang digagas oleh KBRI Ottawa.

Franky juga bertemu dengan 10 perusahaan QG100 di Montreal. Menurut Franky, kunjungan yang dilakukan ke Kanada cukup strategis untuk memetakan minat investasi negara tersebut ke Indonesia.

Dia menyinggung mengenai pertemuan dengan perusahan anggota QG100. QG100 adalah organisasi nirlaba yang sifatnya private.

Franky juga menyampaikan bahwa beberapa perusahaan Kanada tertarik menanamkan modal melalui skema public private partnership.

"Beberapa hal utama yang telah disampaikan adalah terkait penyederhanaan layanan yang dilakukan oleh BKPM di antaranya adalah terkait PTSP, layanan investasi 3 jam, serta kemudahan investasi langsung konstruksi (KLIK). Selanjutnya, tim pemasaran investasi wilayah Amerika dan Kanada akan melakukan komunikasi dengan perusahaan untuk merealisasikan investasi mereka," tambahnya.

BKPM sendiri menargetkan pada tahun 2016 capaian realisasi investasi bisa tumbuh 14,4% dari target tahun 2015 atau mencapai Rp 594,8 triliun. Realisasi ini dikontribusi dari PMA sebesar Rp 386,4 triliun atau naik 12,6% dari target PMA tahun lalu, serta dari PMDN sebesar Rp 208,4 triliun naik 18,4% dari target PMDN tahun lalu.

Dari data BKPM realisasi investasi dari Kanada pada per triwulan I tahun 2016 mencapai US$ 37,6 juta berada di peringkat 16 terdiri dari 15 proyek dan menyerap 332 tenaga kerja. Untuk meningkatkan realisasi investasi tersebut,

Franky melakukan roadshow pemasaran investasi ke Amerika Serikat dan Kanada pada tanggal 23-28 Mei 2016.

Tercatat, ada lima forum bisnis yang akan diselenggarakan, masing-masing di Washington DC, Salt Lake City, dan LA untuk AS, serta Toronto dan Montreal untuk Kanada.

Selain itu, Kepala BKPM juga akan mengadakan pertemuan one on one dengan perusahaan-perusahaan di kedua negara yang sudah mengindikasikan minat berinvestasi ke Indonesia, baik yang melakukan investasi baru maupun perluasan. (ang/dnl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed