Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 24 Agu 2016 13:10 WIB

Nasib Holding BUMN Kebun, dari Rugi Rp 823 M sampai Punya Utang Rp 33 T

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta - Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor perkebunan dibentuk sejak Agustus 2014. Kala itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meneken Peraturan Pemerintah pembentukan holding BUMN kebun. Di dalam holding ini, terdapat 14 BUMN kebun yakni PTPN I sampai PTPN XIV.

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) (PTPN III) dipercaya sebagai induk holding. Dengan hadirnya holding, diharapkan kinerja bisa 'melompat' seperti seniornya yakni holding BUMN pupuk dan semen, serta lini bisnis lebih efisien.

Usia holding BUMN kebun kini telah mencapai 2 tahun, namun mimpi berkinerja 'kinclong' tampaknya masih jauh dari harapan.

Direktur Utama PTPN III Holding, Elia Massa Manik menyebut holding BUMN kebun kini telah berjuang keluar dari 'perangkap' keuangan sampai produktivitas. Pria yang baru menjadi Dirut PTPN III Holding ini menyebut holding BUMN kebun memiliki utang Rp 33,24 triliun pada semester I-2016. Utang ini merupakan konsolidasi dari 13 PTPN di bawah PTPN III. Bila tak dibereskan, utang ini bisa mengganggu kinerja ke depannya.

"Sampai Juni 2016 sebesar Rp 33,24 triliun, dari total tersebut beberapa PTPN akan terus mengalami kerugian dan jika segera dilakukan penanganan maka berpotensi terjadi default di beberapa PTPN," seperti dipaparkan Direktur Utama PTPN III, Elia Massa Manik dikutip Rabu (24/8/2016).

Selain tingginya utang yang ditanggung oleh sang induk, PTPN III Holding mencatat rugi Rp 823,43 miliar pada semester I-2016. Angka ini melompat dari rugi tahun 2015 yang mencapai Rp 613,27 miliar. Sedangkan pendapatan di semester I-2016, holding BUMN kebun ini meraup 13,36 triliun.

"Total aset yang dimiliki PTPN mengalami kenaikan dari kurun 2013 sampai 2015, dengan total aset Rp 109,72 triliun," sebutnya.

Produk utama dari holding BUMN kebun di antaranya karet, teh, kelapa sawit, dan gula. Kinerja produksi sawit dan gula mengalami peningkatan sepanjang 2015 bila dibandingkan tahun 2013 dan 2014, sebaliknya kinerja produksi teh dan karet justru turun.

"Produksi kelapa sawit (minyak sawit dan inti sawit), karet, gula, dan teh pada tahun 2015 berturut-turut sebesar 3,4 juta ton, 184.380 ton, 1,1 juta ton dan 45.000 ton," tambahnya.

Namun kinerja produksi tersebut masih kalah dibandingkan perkebunan swasta. Dari catatan Elia, produktivitas kelapa sawit PTPN tahun 2015 rata-rata hanya 18,20 ton TBS/ha, sementara perkebunan swasta 24-25 ton TBS/ha.

Selain masalah produktivitas, ternyata harga jual atau Harga Pokok Penjualan rata-rata PTPN masih lebih tinggi atau 35% lebih tinggi dibandingkan dengan kompetitor.

Holding BUMN kebun ini memiliki lahan 1,18 juta hektar yang tersebar di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Dari jutaan hektar lahan itu, sebanyak 68% berstatus sudah bersertifikat, 20% sertifikat berakhir/dalam proses perpanjangan, dan 12% belum bersertifikat.

Selain ditanami 4 komoditas unggulan, PTPN III Holding bersama anak usahanya juga menanam kopi, kakao, kina, tembakau, hortikultura, kayu, dan tebu.

Tak hanya banyaknya lahan yang dikelola, holding BUMN kebun ini memiliki 139.669 pekerja, yang terdiri dari 132.826 karyawan pelaksana dan 6.843 karyawan pimpinan. Biaya tenaga kerja menyumbang 60% terhadap beban produksi.

Elia mengakui ada karyawan dari beberapa PTPN yang belum gajian alias mengalami penundaan karena persoalan kinerja. Salah satunya ialah PTPN XIII yang sempat menunda pembayaran gaji karyawan karena masalah keuangan.

"Beberapa pekerja PTPN memang belum gajian," sebutnya.

Direktur Utama PTPN III Holding, Elia Massa Manik (Ardan/Detik)


Program Penyehatan Holding Kebun

Elia yang sukses memperbaiki kinerja PT Elnusa Tbk ini menyebut pihaknya menyusun program penyehatan kinerja perseroan.

Di bidang keuangan, holding BUMN kebun akan merestrukturisasi kewajiban pembayaran bank bagi beberapa PTPN yang mengalami kesulitan likuiditas. PTPN III Holding memerlukan fresh money injection dalam periode 2-6 tahun ke depan mencapai Rp 9,45 triliun.

"Upaya restrukturisasi ini bertujuan untuk menghindari default, meningkatkan repayment capacity dan going concern perusahaan," sebutnya.

Di bidang operasional, PTPN III akan melakukan pembenahan kultur teknis dalam pengelolaan komoditi sesuai Standart Operating Procedure yang telah ditetapkan beserta mekanisme pengawasan yang efektif untuk mencapai productivity improvement. Kemudian, ada program revitalisasi pabrik guna meminimalisasi lossis dan meningkatkan utilisasi pabrik.

"Kita menyusun corp strategy agar masing-masing PTPN dapat segera fokus mengelola komoditi sesuai keunggulan kompetitif yang dimiliki," ujarnya.

Di bidang Sumber Daya Manusia, holding BUMN kebun merestrukturisasi organisasi di level direksi dan dilanjutkan dengan pengelolaan talent pool satu layer di bawah direksi sehingga jabatan yang ditempati sesuai dengan kompetisinya. Kemudian, PTPN III holding melakukan re-assesment terhadap jabatan satu layer di bawah direksi untuk mengetahui competency gap dan upaya pengembangannya.

"Melakukan job enlargement dan job enrichment serta menghapus jabatan yang redundant sehingga diperoleh proses bisnis yang lebih sederhana tanpa mengurangi kontrol dan efektivitas organisasi," tambahnya.

Terakhir, PTPN III Holding melakukan program pengembangan usaha. Agar tak terjebak dalam komoditi trap, maka PTPN III melakukan pengembangan hilirisasi. Misalnya, PTPN III Holding memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei seluas 1.933 hektar. Di terdapat kegiatan utama industri pengolahan kelapa sawit, industri pengolahan karet, logistik dan pariwisata. Saat ini, dibangun pabrik minyak goreng dengan kapasitas 600.000 ton CPO per tahun.

"Untuk mendukung perbaikan kinerja On Farm dan Off Farm, holding akan memberdayakan lembaga riset perkebunan dan Lembaga Pendidikan Perkebunan dalam upaya perbaikan teknologi dan budidaya perkebunan," ujarnya. (feb/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com