Follow detikFinance
Kamis 04 May 2017, 19:05 WIB

Penyebab Ketimpangan: Harta si Miskin Naik Tapi Tak Sebanyak si Kaya

Hendra Kusuma - detikFinance
Penyebab Ketimpangan: Harta si Miskin Naik Tapi Tak Sebanyak si Kaya Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menilai, ketimpangan ekonomi di Indonesia dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang dialami masyarakat belum seimbang.

Kepala Pokja Pemantauan dan Evaluasi TNP2K Elan Satriawan mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tergolong tinggi hanya membuat jurang antara si kaya dengan si miskin semakin menjauh.

"Ketimpangan di kota tinggi sekali karena itu natural, kalau di desa cenderung stagnan karena kemiskinan juga banyak di desa," kata Elan saat Diskusi Menggali Keadilan Ekonomi Dalam Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Kantor Tempo, Jakarta, Kamis (4/5/2017).



Sekarang gini ratio Indonesia ada di posisi 0,39, jika dibandingkan dengan negara lain memang masih belum masuk dalam kategori "lampu merah". Namun, yang dikhawatirkan adalah pertumbuhan dari gini ratio itu sendiri.

Ekonomi Indonesia memang tumbuh, baik kelompok kaya dan miskin masing-masing mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan bagi kelas bawah tidak sebesar jika dibanding kelompok kaya.

"Indonesia masalah ketimpangannya melesat dengan sagat cepat, apa yang menjelaskan ketimpangan? misal dari 2008-2012 ada pola konsisten yaitu yang kaya tumbuh berlipat kali dari pada yang bawah. Tapi yang paling bawah juga tumbuh tapi kecil," tambahnya.

Lanjut Elan, penyebab utama ketimpangan adalah akses layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur dasar yang masih sulit didapatkan kelas bawah. Lalu, ketimpangan juga tercipta dari kualitas pekerjaan yang bersumber dari perbedaan produktivitas dan jenis pekerjaan.



Selanjutnya, kata Elan, masih tingginya konsentrasi kekayaan pada sekelompok kecil masyarakat, serta masih rendahnya kemampuan kelas bawah dalam menghadapi guncangan perekonomian.

Dikatakan Elan, selama ini yang perlu diperhatikan lebih utama oleh pemerintah adalah kelas bawah yang masih sedikit di atas garis kemiskinan. Dia menyebutkan, jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 28 juta atau sekitar 10,7% dari penduduk Indonesia.

Dari 28 juta, yang rentan atau berada di atas sedikit garis kemiskinan berjumlah 25 juta rumah tangga.

"Tidak perlu bicara krisis, bicara kenaikan harga karena kelangkaan barang, itu menggeser garis kemiskinan dan itu meningkatkan orang miskin, dan naiknya tidak linier, 20% itu bukan berarti naik 20% orang miskinnya, tetapi bisa 50%, bahkan lebih. Karena tadi, banyak orang yang enggak miskin hidupnya tidak jauh di garis kemiskinan," ungkapnya.



Guna mengatasi hal tersebut, kata Elan, pemerintah telah merancang kebijakan ekonomi pemerataan, mulai dari reforma agraria, redistribusi aset, serta kemudahan akses pelayanan dan fasilitas bagi masyarakat bawah.

"Memperbaiki desain dan kualitas implementasi program pelindungan sosial," tutupnya.

Potret KemiskinanPotret Kemiskinan Foto: Hasan Alhabshy
(mkj/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed