Follow detikFinance
Rabu, 07 Jun 2017 11:20 WIB

Penutupan Jalur KA Salemba dan Berhentinya Pabrik Opium di Jakarta

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Muhammad Idris/detikFinance Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Meski belum sepadat seperti sekarang, pemerintahan Hindia Belanda sudah membangun jaringan rel kereta api yang begitu kompleks di Jakarta. Jaringan kereta Jakarta-Bogor bahkan sudah dibuatkan jalur ganda dan elektrifikasi.

Mengutip data dari PT Kereta Api Indonesia, perusahaan swasta pertama yang membangun jaringan rel di Tanah Betawi yakni Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan lintasan Jakarta-Bogor yang dibuka tahun 1873.

Kemudian perusahaan pemerintah Staatssporwegen (SS )membangun jaringan Jakarta-Tanjung Priok yang diresmikan tahun 1886, dan Jakarta-Anyer dengan cabang Duri-Tangerang tahun 1899. Sementara Bataviasche Ooster Spoorweg Maatscappij (BOS) membuka jalur timur yakni Jakarta-Bekasi-Karawang yang tahun 1989 diambil alh oleh SS.



Salah satu jalur yang paling strategis saat itu yakni lintasan Stasiun Salemba, yang menghubungkan Stasiun Tanah Abang, Stasiun Senen, dan Stasiun Kramat. Jalur tersebut merupakan lintasan sentral sebelum dialihkan ke sisi Selatan yang melewati Stasiun Manggarai.

Dibandingkan barang komoditas lain yang diangkut di jalur kereta tersebut opium bisa jadi salah satu komoditas yang paling menguntungkan. Benda yang lebih dikenal dengan candu di Indonesia ini dilegalkan perdagangannya saat masa Kolonial Belanda. Saat masa perang, perananan opium sangat vital untuk obat rasa sakit saat terluka.

Belanda sendiri membangun Stasiun Salemba untuk mengangkut opium yang diproduksi dari pabriknya yang saat ini menjadi komplek Universitas Indonesia (UI). Dari pabrik tersebut, opium diangkut menggunakan kereta api yang berhenti di Stasiun Salemba, yang kini bangunannya sudah disulap menjadi rumah petak warga.
Jalur Tanahabang-Salemba-Kramat dibangun pada tahun 1903, sementara pabrik opium dibangun sebelumnya yakni tahun 1901. Stasiun Salemba inilah yang kemudian menyambung ke arah Stasiun Senen dan Stasiun Jatinegara.

"Saat ini bekas Pabrik Opium Salemba masih dapat dilihat dan dipergunakan sebagai kompleks Pascasarjana Universitas Indonesia. Akan tetapi bekas-bekas dari jalur kereta api di Stasiun Salemba sudah sulit ditemukan," jelas Agus Komarudi, VP Corporate Communication PT KAI kepada detikFinance, Senin (5/6/2017).

Peninggalan yang masih tersisa adalah jembatan rel kereta api di sisi barat stasiun yang sudah tidak terlihat bekas jalan kereta api. Kini jembatan tersebut masih berdiri kokoh dipergunakan sebagai jembatan penyebrangan warga sekitar.

Stasiun Salemba masih beroperasi untuk melayani pengangkutan opium melalui Stasiun Salemba-Jakarta. Pabrik Opium ini berada di seberang Stasiun Salemba dan memiliki jalur kereta khusus menuju Stasiun Salemba. Namun, pada tanggal 2 September 1981 Stasiun Salemba berhenti beroperasi setelah Pabrik Opium Salemba.

Penutupan Jalur KA Salemba dan Berhentinya Pabrik Opium di JakartaFoto: Muhammad Idris/detikFinance
(idr/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed