Follow detikFinance
Rabu 20 Sep 2017, 08:14 WIB

Laporan dari Dili

80% Kebutuhan Logistik di Timor Leste Dipasok oleh RI

Eduardo Simorangkir - detikFinance
80% Kebutuhan Logistik di Timor Leste Dipasok oleh RI Foto: Eduardo Simorangkir
Dili - Ketergantungan Timor Leste terhadap Indonesia bisa dibilang besar. Meski sudah mengadopsi Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi, mengubah nama resminya dari Timor Leste menjadi Republica Democratica de Timor Leste, dan mengadopsi mata uang dolar AS sebagai mata uang resminya, namun peranan Indonesia membantu Timor Leste untuk tumbuh demikian besarnya.

Bayangkan saja, 80% kebutuhan logistik masyarakat Timor Leste bergantung kepada Indonesia. Mulai dari barang-barang kebutuhan pokok seperti pasta gigi, deterjen, bahan-bahan makanan, susu dan lainnya bisa ditemui dengan mudah di sejumlah toko yang ada di kota Dili, ibu kota Timor Leste.

"Jadi 80% kebutuhan dia (Timor Leste) diimpor dari Indonesia," kata Dubes RI untuk Timor Leste, Sahat Sitorus, saat ditemui di kantor KBRI di Timor Leste, Dili, Selasa (19/9/2017).

80% Kebutuhan Logistik di Timor Leste Dipasok oleh IndonesiaFoto: Eduardo Simorangkir
Foto: Eduardo Simorangkir


detikFinance melihat langsung barang-barang tersebut di beberapa toko yang ditemui di pusat kota Dili. Harganya memang jadi lebih mahal ketika dikonversi ke dalam satuan dolar, bisa lebih mahal tiga kali lipat dengan harga yang ada di Indonesia.

Sahat mengatakan, hal itu menjadi jalan yang paling baik bagi Timor Leste, lantaran posisi Indonesia yang paling strategis dan adanya faktor sejarah yang sampai saat ini menurutnya masih melekat.

"Karena dia mau ke mana lagi? Mau ke Australia enggak cocok, mau ke Portugal atau Brazil kejauhan. Jadi enggak ada masalah. Surabaya ke sini kan akses perdagangannya gampang," jelas Sahat.



Ketergantungan Timor Leste terhadap Indonesia tak sampai di sana saja. Bahasa Portugis yang diadopsi menjadi bahasa nasional Timor Leste dirasa tak banyak berguna dengan keberadaan Timor Leste di Asia Tenggara.

Pusat pendidikan yang masih sedikit pun membuat banyak penduduk Timor Leste menimba ilmu ke universitas-universitas di Indonesia. Sebanyak 90% pejabat pemerintahan Timor Leste, kata Sahat, merupakan lulusan dari Universitas di Indonesia. Untuk itulah, sampai saat ini pelajaran bahasa Indonesia masih ada di dalam kurikulum pendidikan negara itu.

"Mereka juga lebih comfortable belajar di Indonesia, baik bahasa dan psikologinya. Makanya 90% anggota pemerintahan di sini itu lulusan Indonesia. Bahkan mereka sulit untuk bahasa Portugis dan lebih lancar berbahasa Indonesia," ungkapnya.

"Anak perdana menteri di sini juga dulu sekolah di Australia, kemudian bilang enggak cocok, maunya ke Bandung saja. Jadi mereka paling banyak ke Udayana, Malang, Yogya, Semarang, Bandung, Jakarta," tukasnya.

Secara politik, Timor Leste dipastikan akan sangat mengharapkan dukungan Indonesia dalam politik regional Asia Tenggara. Pasalnya wilayah Timor Leste berada dalam kawasan Asia Tenggara dan Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang cukup berpengaruh di kawasan Asia Tenggara. (eds/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed