Follow detikFinance
Selasa, 26 Sep 2017 13:02 WIB

Penduduk Kelas Menengah RI Diprediksi Tembus 200 Juta Jiwa di 2045

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno Foto: Sylke Febrina Laucereno
Depok - Pada 2045 mendatang penduduk Indonesia kelompok kelas menengah diproyeksikan tembus 200 juta jiwa. Kelompok ini disebut bisa menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, kenaikan jumlah kelas menengah tersebut terjadi karena pendapatan di dunia hingga di Indonesia membaik.

"Dari segi pendapatan lebih maju dan middle income class jadi lebih besar," kata Bambang dalam Orasi Ilmiah di FEB UI, Depok, Selasa (26/9/2017).

Dia menjelaskan saat ini jumlah kelas menengah di Indonesia tercatat 40 juta jiwa dari total penduduk 260 juta jiwa. Pada 2045 jumlah penduduk kelas menengah akan tembus 200 juta jiwa dari proyeksi jumlah penduduk 360 juta jiwa.

"Perbaikan pendapatan perkapita akan mendorong pertumbuhan kelas menenegah. Tapi kelompok kelas menengah ini tidak hanya mengkonsumsi tapi mereka juga terarah ke kegiatan politik," ujarnya.

Dia menyebutkan, makin besar kesadaran politik di kelompok kelas menengah ini maka semakin baik untum perekonomian.

Bambang menjelaskan, untuk mendorong perekonomian juga harus memiliki kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik. Jadi Indonesia jangan bergantung dengan sumber daya alam. Karena itu kemampuan manusia sangat dibutuhkan untuk pembangunan.

"Jadi masa depan Indonesia jangan lagi tergantung sumber daya alam (SDA), itu menjerumuskan sekali. Karena SDA kan berfluktuasi kalau bagus semua senang, kalau jelek ya susah semua," jelas dia.

Bambang mengatakan, dengan terciptanya daya saing di SDM maka mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. "Daya saing berbasis teknologi dan manusia dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan merata," Bambang.

Dia menjelaskan untuk mencapai Indonesia yang lebih baik pada 2045 ada empat pilar yang tidak bisa dilepaskan dari dunia untuk Indonesia.

"Pertama megatren yang menjadi referensi untuk membuat proyeksi pertumbuhan Indonesia, pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan Iptek sangat dibutuhkan untuk masa depan Indonesia," ujar dia. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed