Follow detikFinance
Jumat 10 Nov 2017, 20:23 WIB

Cara Jokowi Genjot Ekonomi Tak Selamatkan Banyak Pengangguran

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Cara Jokowi Genjot Ekonomi Tak Selamatkan Banyak Pengangguran Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi RI tercatat tumbuh 5,06%. Walaupun mengalami peningkatan, namun hal tersebut tak diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja tak mengesankan.

Bahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran sampai Agustus 2017, mencapai 7,04 juta orang dari 128,06 juta orang angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja ini bertambah 2,62 juta orang dibanding Agustus tahun lalu yang sebanyak 125,44 juta orang.

Adapun jika dihitung, angka pengangguran pada Agustus 2017 ini meningkat sekitar 10.000 orang jika dari total angkatan kerja pada Agustus 2016 yang mencapai 125,44 juta orang. Meski demikian, secara persentase angka tingkat pengangguran turun di mana pada Agustus tahun lalu 5,61%, dan pada Agustus 2017 menjadi 5,50%.

Jika dihitung lebih rinci lagi, pengangguran pada Agustus 2016 dari total angkatan kerja yang mencapai 125,44 juta orang, angka penganggurannya 5,61% atau 7,03 juta orang. Sedangkan pada Agustus 2017 jumlah angkatan kerja 128,06 juta dengan pengangguran 5,50% atau 7,04 juta orang.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus, mengatakan peningkatan jumlah angkatan kerja tidak dapat diakomodasi oleh ketersediaan lapangan kerja.

Menurut Heri, sektor industri yang biasanya banyak menyerap tenaga kerja tengah mengalami masa deindustrialisasi. Deindustrialisasi sendiri merupakan penurunan kontribusi sektor manufaktur alias industri pengolahan nonmigas terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Jadi semuanya saling terkait. Penyakit ekonominya ketahuan. Sektor-sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja kontribusinya rendah maka pasti pertumbuhan ekonomi kurang mampu serap tenaga kerja," kata Heri di Jakarta, Jumat (10/11/2017).


Dengan demikian, menurutnya, pertumbuhan ekonomi domestik belum cukup berkualitas. Karena seharusnya, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah yang bisa mengurangi pengangguran, ketimpangan, dan kemiskinan.

"Meski sejauh ini memang berkurang, namun tidak impresif," katanya.

Pada kuartal III-2017, kontribusi sektor industri pengolahan tercatat turun menjadi 19,93% dari kuartal sebelumnya yang sebesar 20,25%. Pada triwulan II dan III tahun lalu, kontribusinya juga terus menurun, yakni masing-masing 20,66% dan 20,09%. Dengan demikian, hal ini mengindikasikan proses deindustrialisasi masih berlangsung.

"Jumlah angkatan kerja lebih besar dari jumlah penyerapan tenaga kerja. Kecepatannya tidak sebanding," ujarnya.

Heri mengungkapkan, deindustrialisasi wajar terjadi, mengingat negara lainnya juga menghadapi hal yang sama. Contohnya seperti Inggris, Amerika Serikat, Jepang. Namun, jika ini terjadi terlalu cepat, maka bisa membahayakan.

"Indonesia tergolong terlalu cepat. ketika barang value added-nya belum optimal, penyerapan tenaga kerja belum optimal, ekspor juga belum didukung produk yg hi-tech, masih dini sudah digeser ke jasa" katanya.


Oleh karenanya, guna meningkatkan kontribusi ekspor terhadap PDB maka pemerintah diimbau untuk giat meningkatkan nilai tambah produk-produk yang diekspor dengan cara menerapkan industri berteknologi tinggi (hi-tech) seperti yang telah diaplikasikan di negara-negara lain.

"Contohnya CPO, batu bara, batu perhiasan. Itu kontribusinya 30%-40% sendiri. Ekspor kita unggul tapi bukan produk hi-tech. Beda halnya dengan Malaysia, Thailand, mereka udah kejar industri berteknologi tinggi karena kalo di ekspor harga lebih mahal," paparnya.

"Bayangin kita impor pesawat terbang itu harus berapa CPO yang harus kita ekspor untuk kompensasi pembelian satu buah pesawat. Jadi ekspor kita sulit untuk bisa berkontribusi pada PDB kalau kita enggak bangun industri berteknologi tinggi. Itu penyebab kenapa struktur ekonomi kita ya gini-gini aja," pungkasnya.

(mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed