Follow detikFinance
Senin, 12 Mar 2018 18:02 WIB

Sri Mulyani Sebut Dolar AS dan Harga Minyak Meleset dari APBN

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan beberapa minggu terakhir. Puncaknya, US$ 1 sempat menembus Rp 13.800.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan akibat penguatan dolar AS terhadap rupiah ini akan mempengaruhi asumsi nilai tukar pada Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) 2018 yang dipatok Rp 13.400 per dolar AS.

"Untuk keseluruhan tahun nilai tukar mungkin agak sedikit melemah ke posisi Rp 13.500," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (12/3/2018).


Menurut dia, dengan berubahnya asumsi nilai tukar, maka turut mempengaruhi harga Indonesian crude price (ICP) sepanjang tahun ini. ICP dipatok sebesar US$ 48 per barel menjadi US$ 55 hingga US$ 60 per barel.

Sri Mulyani menjelaskan, untuk lifting minyak tetap dijaga di angka 800 ribu barel per hari. Kemudian untuk lifting gas tetap dijaga 1.200 ribu barel per hari.

Sri Mulyani menjelaskan dari sisi APBN, nilai tukar dan harga minyak mentah akan memberikan dampak positif dan APBN akan mengalami penambahan penerimaan.

"Tapi juga ada pengaruh dari harga keekonomian dari solar dan listrik karena akan menghadapi energi mix 50% batu bara," ujarnya.


Dia menjelaskan untuk asumsi makro lainnya di APBN 2018 masih sesuai dengan yang ditetapkan sejak awal. Misalnya pertumbuhan ekonomi tetap sesuai target yakni 5,4%, inflasi 3,5% dan tingkat bunga SPN 3 bulan turun menjadi 5%.

"Dari evaluasi pelaksanaan APBN, pertumbuhan ekonomi kita tetap diperkirakan 5,4%, kita terus berusaha menstabilkan harga, menjaga momentum konsumsi dan akselerasi investasi dan ekspor," imbuh dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed